Enigma Pecas Ndahe

Desember 18, 2007 § 29 Komentar

Enigma,
Apa yang kau harapkan dari sebuah sayap yang retak? Hati yang patah? Juga punggung yang rekah?

Aku camar tanpa pantai. Rumahku langit. Pondokku udara. Aku pengelana semesta. Memungut suka selagi bisa. Memulung duka semasa tiba.

Imaji bisa sesat. Lalu janji? Ilusi? Ah sama butanya kukira. Kata-kata bahkan bisa sama berbahayanya dengan tuba yang kau sesap dari ujung rindu.

Enigma,
Apa yang bisa kau sentuh dari sebuah bayangan? Jejakku toh gampang pergi, dihapus kenangan dan masa depan. Kepedihan nama tengahku. Kesepian nama depanku.

Aku tahu, yang tak bisa kau miliki kadang-kadang memang jauh lebih menggoda. Tapi, kamu juga mesti mengerti, lantai harapan sering sama licinnya dengan jalan kehidupan. Kita gampang tergelincir dan kehilangan pegangan.

Bersediakah kau pertaruhkan kartu terbaikmu di atas meja ketika aku berjudi bukan untuk setiap lembar uang yang kumenangkan?

Kado Pecas Ndahe

Desember 14, 2007 § 23 Komentar

:: Untuk semua yang cemburu pada waktu, kesempatan, dan kesibukan. Sebuah lagu — sekadar pengingat — dari Tic Band: Terbaik

duhai engkau sang dewi ciptaan raja
dari langit kau turun ke dunia
untuk jadi milikku
jadi pendampingku selamanya

dengarkanlah setiap kata yang terucap
mengertilah karena hidup takkan
semudah kau kira
kau harus berlari mengejarnya
kutakkan berhenti
beri cinta dan rinduku
sampai kau mengerti dan pahami
semua yang kuberikan

jangan kau pergi dariku
bila waktuku sedikit untukmu
setiap hembusan nafasku
kulakukan yang terbaik untukmu

duhai engkau sang dewi ciptaan raja
mengertilah, karena hidup
takkan semudah kau kira
kau harus berlari mengejarnya
bila kau pergi, tetaplah kau ada di sini
dan menanti … « Read the rest of this entry »

Menanti Pecas Ndahe

Desember 10, 2007 § 17 Komentar

Kepada bayangan senja yang bersembunyi di balik cahaya. Yang bersahaja seperti nyanyi. Terima kasihku kepadamu yang telah menanti …

dalam pekatnya selimut malam
dalam dekapan angin yang berhembus hangat
bersama para bidadari yang menari di balik rerimbunan bintang
dalam belitan beban yang menindih pundakmu yang kian kuyu
bersama matahari yang meletek setiap pagi
di tengah pikuknya kehidupan yang membiru
di pinggir jalanan yang terus berlari tanpa henti …

Aku tahu, sungguh bukan pilihan yang mudah menanti seseorang yang bahkan tak pernah kau kenangkan dalam mimpi. Aku mengerti. « Read the rest of this entry »

Gerimis Pecas Ndahe

Desember 7, 2007 § 32 Komentar

Aku tak tahu, sayang … Aku tak tahu. Sungguh aku tak tahu dari mana bait-bait itu kudapatkan, dari mana kalam itu kudatangkan.

Mungkin aku memetiknya dalam perjalananku menyusuri jejakmu ke ujung bintang. Mungkin aku mendulangnya dalam petualanganku mengejar bayangmu sebelum cahaya. Mungkin juga dari dirimulah semuanya berasal.

Tapi, adakah bedanya?

Bila matamu masih kelabu. Jika hatimu tetap biru.

Adakah, sayang? « Read the rest of this entry »

Bara Pecas Ndahe

Desember 6, 2007 § 39 Komentar

Siapakah kamu perempuan, yang menyalakan tungku selepas senja? Peri penggoda atau sekadar penumpang yang kesasar?

Aku tak tahu.

Siapakah kamu perempuan, yang mendadak menyiramkan dingin di depan halte itu? Kura-kura dalam perahu atau kupu-kupu yang baru lepas dari kepompong?

Aku tak tahu.

Tapi ini tanyaku kepadamu. Tak tahukah kamu betapa sulitnya memadamkan bara di atas pendiangan yang telanjur menyala? Tak terbayangkankah olehmu bagaimana susahnya memeluk hampa? « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the Sketsa category at Ndoro Kakung.