Kencan Pecas Ndahe

September 28, 2007 § 54 Komentar

Pada sebuah sore yang syahdu, ada seorang perempuan terlihat sedang berjalan-jalan di pusat perbelanjaan di jantung Jakarta.

Tiba-tiba teleponnya menjerit-jerit panjang. “Kriiing … kriiing … kriiing …”

Oh, rupanya sang kekasih hati yang menelepon, hendak mengajaknya berkencan. Dengan hati berbunga-bunga, perempuan itu pun menyanggupinya.

“I’d loved too, honey,” jawabnya dengan manja. “You just say where and when, Oom.” Halah … « Read the rest of this entry »

Ngembat Pecas Ndahe

September 24, 2007 § 22 Komentar

Setiap kali menjelang buka puasa, saya biasa ngabuburit bersama beberapa buruh di pabrik. Kelompoknya sih gonta-ganti, tergantung siapa yang kebetulan lagi sempat.

Nah, beberapa sore yang lalu, saya kebetulan ngabuburit dengan dua kawan baik saya. Kami memilih sebuah di kedai di dalam sebuah mal, di jantung ibu kota.

Kebetulan kami kebagian meja di sebelah meja tempat empat perempuan muda, kaum urbanis, tengah reriungan. Sepertinya mereka juga mau menunggu bedug adzan Maghrib karena mejanya masih bersih, belum ada minuman dan makanan.

Empat perempuan itu rata-rata berkulit putih, bersih, wangi. Dandanannya tres chic semua. Dan, ini yang penting, sore itu, beberapa menit sebelum bedug tanda buka puasa terdengar, mereka lepas blazer dan menggantungkannya di sandaran kursi.

Olala … Terlihatlah blus-blus sleevless yang memamerkan lengan-lengan pemiliknya yang mulus bin halus. Wadoh, moga-moga puasa kami sore itu ndak hanya mendapatkan lapar dan dahaga belaka deh … « Read the rest of this entry »

Harapan Pecas Ndahe

September 17, 2007 § 32 Komentar

One look at love and you may see
It weaves a web over mystery,
All ravelled threads can rend apart
For hope has a place in the lover’s heart.
Hope has a place in a lover’s heart … [Enya]

Malam yang murung di pabrik yang sepi. Para buruh sudah pulang sejak tadi. Tinggal satu-dua orang yang masih bertahan menyelesaikan pekerjaan. Sayup-sayup terdengar suara Enya menyanyikan Hope Has A Place yang nglangut itu dari pemutar CD milik seorang teman di pabrik. Ugh, hati saya ikut nglangut. Kosong.

Sudah tiga hari berlalu sejak Diajeng terbang ke Milan. Rasanya sudah bertahun-tahun. Saya masih belum mengerti juga bersama siapa dan mengapa ia mendadak pergi. Terlalu banyak yang saya ndak tahu. Saya sampai pecas ndahe memikirkan kelebatan bayangan demi bayangan hidup yang bersicepat melawan waktu. Seperti hubungan saya dan Diajeng dulu. « Read the rest of this entry »

Bintang Pecas Ndahe

September 10, 2007 § 42 Komentar

… And yet with neither love nor hate,
Those stars like some snow-white
Minerva’s snow-white marble eyes
Without the gift of sight … [Robert Frost]

Saya segera menuju ke telepon di sebelah kasir dengan sedikit tergopoh. Begitu sampai, saya langsung mengangkat gagang telepon.

“Kamu di mana, Jeng? Saya sudah nunggu kamu sejam lebih. Kalau … ”

“Mas,” Diajeng memotong pertanyaan saya. “Aku nggak punya waktu banyak. Tolong dengarkan aku dulu ya, Mas. Please.”

“Oke,” jawab saya pendek.

“Sebelumnya aku minta maaf, Mas. Aku nggak jadi ke Melrimba. Aku tahu kamu pasti marah. Tapi, tolong dengarkan aku dulu. Aku sekarang di bandara. Sebentar lagi pesawatku berangkat.”

“Di bandara? Ngapain? Kamu mau ke mana?” tanya saya penuh rasa heran. « Read the rest of this entry »

Kabut Pecas Ndahe

September 3, 2007 § 17 Komentar

Malam seperti itu, hujan sering turun
Ada kabut tipis dalam gelap, tumbuh dari udara panas
Kulit terasa lekat
Tapi hujan telah menunjukkan janjinya, untuk datang
Kaki-kaki telah bergegas
Orang mencari tempat dan atap — Fred de Silva

Bukan cuma hujan yang menepati janji. Di Puncak, kabut justru nyaris tak pernah ingkar janji untuk datang di senja hari.

Seperti sore itu, beberapa puluh meter menjelang Merlimba Garden, kabut mulai membungkus jalanan, lalu perlahan turun seperti kelambu putih menutup ranjang.

Saya menginjak rem, mengoper gigi, lalu belok kiri menuju pintu gerbang taman. Seorang petugas parkir menyambut ramah. Senyumnya mengembang seraya tangannya mengangsurkan selembar karcis.

“Lurus saja, Pak,” katanya. Tangannya menunjuk ke sebidang lahan kosong persis di depan Merlimba Kitchen, tempat makan favorit Diajeng. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the Sketsa category at Ndoro Kakung.