Spelling Pecas Ndahe

November 4, 2008 § 43 Komentar

Seorang kawan menceritakan sebuah lelucon — guyonan para sekretaris. Sampean mungkin juga pernah mendengar atau membacanya di milis-milis atau media cetak.

Syahdan ada seorang sekretaris yang menelepon untuk reservasi tempat makan siang buat bosnya di sebuah restoran Jepang di jantung Jakarta.

Sekretaris : Mas, bisa pesan tempat untuk bos saya?

Pelayan : Bisa, Bu. Untuk berapa orang?

Sekretaris : Satu orang saja, atas nama Mister Bolesvky. Biar nggak salah orang, saya spelling namanya ya. Tolong dicatat, Mas …. Bravo-Oscar-Lima-Echo-Siera-Viktor-Kilo-Yangky … Sudah, Mas?

Pelayan : Sudah, Bu. Namanya spelling kan?

>> Selamat hari Selasa, Ki Sanak. Apakah hari ini sampean sudah reservasi tempat untuk makan siang?

Cinta Pecas Ndahe

Oktober 18, 2008 § 62 Komentar

Pagi baru saja pergi dan siang datang membawa panas. Kabut lesap ditelan cahaya. Matahari Oktober memamerkan sinar yang berdenyar-denyar membakar kulit jangat.

Lelaki pecinta bumi dan bidadari senja menggelandang ke timur, menantang matahari. Tangan mereka saling menggenggam, bergandengan bagaikan bintang dan rembulan dan yang berdekatan di jantung rimba malam.

Sejak pertemuan dinihari yang menggetarkan itu, mereka tak pernah berpisah lagi. Seperti daun dan ranting. Seperti pelangi dan hujan. Seperti kemarau dan lengas. Bila hati saling bertaut, rindu yang ditabalkan berpendar-pendar. Udara wangi melati.

“Ceritakanlah kepadaku tentang cinta,” tiba-tiba bidadari senja berkata.

“Cinta? Aku tak tahu,” jawab lelaki pecinta bumi.

“Ayolah, kamu pasti bisa,” bidadari senja meminta.

Lelaki pecinta bumi terdiam. Sejenak kemudian dia teringat sebuah sajak kecil tentang cinta karya Sapardi.

mencintai angin harus menjadi siut
mencintai air harus menjadi ricik
mencintai gunung harus menjadi terjal
mencintai api harus menjadi jilat
mencintai cakrawala harus menebas jarak
mencintaiMu(mu) harus menjadi aku …

Cinta mungkin memang tak mudah. Barangkali ia juga bukan sesuatu yang final. « Read the rest of this entry »

Pandan Pecas Ndahe

Oktober 16, 2008 § 39 Komentar

Setelah tujuh purnama dan malam-malam yang meranggas di musim panas, lelaki wangi pandan itu akhirnya bertemu dengan bidadari bersayap retak.

Seperti sebelumnya, pertemuan terjadi pada dinihari, batas antara malam dan pagi yang belum datang. Tapi, kali ini tanpa bintang dan rembulan. Awan hitam menyembunyikan mereka di pojokan langit. Kilat sesekali menyala di cakrawala.

“Kukira kau sudah terbang menuju tanah impian dan tak kembali lagi. Apa yang membawamu kemari, Bidadari?” tanya lelaki wangi pandan itu setengah tak percaya.

Bidadari bersayap retak memamerkan senyumnya yang seteduh telaga, lalu menjawab, “Kamu.”

Lelaki itu terhenyak. Jawaban itu seperti mantra yang membuatnya jadi bisu. “Aku?” « Read the rest of this entry »

Soledad Pecas Ndahe

Oktober 14, 2008 § 27 Komentar

Kepada lelaki di bawah gerimis itu, seorang bidadari mengajukan permintaan. Terdengarnya seperti pertanyaan. Sederhana, tapi membuat kata-kata yang semula menari-nari di pelupuk mata terbang entah ke mana.

“Ceritakan kepadaku tentang revenge, Tuan,” kata bidadari itu tiba-tiba.

Lelaki itu terhenyak. Ia tak pernah menyangka ada bidadari yang penasaran tentang hakekat sebuah usaha membuat impas, pembalasan. Adakah dia mendendam? Apakah ia pernah terluka?

Purnama nyaris sempurna ketika lelaki itu mendengar bidadari itu berkata ringan. Langit terhampar bak savana di jantung Afrika. Bersih. Nyaris tanpa cacat. Bintang-bintang berkeredep di ujung-ujung gelap.

Lelaki di bawah gerimis itu tersenyum. “Mengapa kau ingin tahu, duhai bidadari?” ia balik bertanya.

“Ceritakan saja, usah kau bertanya. Aku ingin mengetahui isi kepalamu,” bidadari itu menyergah. « Read the rest of this entry »

Angels Pecas Ndahe

Oktober 11, 2008 § 37 Komentar

Baiklah kekasih, aku akan bercerita tentang seorang pengarung malam-malam yang sunyi di kota di mana para bidadari jatuh. Tapi ini bukan dongeng tentang Venesia yang ditulis John Berendt dalam City of Falling Angels. Ini kisah tentang lelaki yang digigit sepi setelah rembulan dipinang malam.

Orang-orang menuturkan dongeng tentang lelaki itu setiap kali musim panas yang lengas tiba. Mereka membicarakannya sambil menatap pucuk-pucuk cemara di lereng bukit gersang.

Seseorang mengisahkan, setelah sayap-sayap cinta dan kebahagiaannya yang terakhir lenyap dari laci hatinya, lelaki itu berkelana ke delapan penjuru angin. Ia menggelandang bersama bintang-bintang setelah matahari tergelincir di barat. Langkahnya berat — seperti senapati kalah perang. Parasnya lesi. Matanya udara kering musim gugur.

Seorang pengelana yang bertemu dengannya bertanya, “Mengapa kau menggelandang, Tuan? Apa yang kaucari?” « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the Sketsa category at Ndoro Kakung.