Berahi Pecas Ndahe
September 11, 2008 § 69 Komentar
Apa lagi yang bisa kau harap dari seorang perempuan bukit air mata selain hampa dan luka menganga?
***
Jakarta seperti seekor kucing di ujung berahi. Berisik. Hiruk-pikuk. Menjengkelkan. Semburan asap knalpot hitam kendaraan umum menyembur persis napas yang hendak memuncak orgasme.
Jalanan bergemuruh bak irama jantung yang berdetak terus memompa darah ke seluruh aorta dan pembuluh arteri. Kerlap-kerlip lampu neon advertensi pertokoan berkeredep laksana mata yang berbinar di tengah telaga kepuasan.
Lelaki itu, yang matang di pertengahan 30 tahun, duduk resah di dalam kabin sedan Jaguar S-Type perak metalik yang adem. Matanya yang tertutup kacamata sport berbingkai titanium hitam TAG Heuer itu sebentar-sebentar melirik arloji Breitling Chronomat di tangan kirinya.
Senja hampir rubuh di barat. Orang-orang kantoran melesat ke jalanan menuju pulang. Bedug Maghrib sebentar lagi ditabuh.
Dalam jemu, lelaki itu memutar lagu dari iPod Nano yang tergolek di bangku samping. Sesaat kemudian terdengar sebuah nomor yang nglangut dari Maroon 5, She Will Be Loved. « Read the rest of this entry »
Kenangan Pecas Ndahe
Agustus 28, 2008 § 27 Komentar
Setelah almanak disobek dan hari berganti, apa lagi yang masih tersisa untukku perempuan musim semi? Secuil reminisensi?
Ah, mungkin kau bahkan tak peduli betapa resah telah bersekutu dengan gelisah. Dan aku ditikam sepisau sepi, diiris-iris segaris sunyi. Luruh dalam kabut lusuh menjelang subuh.
Kau pergi secepat gerimis kepagian. Lesap begitu saja entah ke mana. Jejakmu lindap dalam kelimun halimun. Kelompang.
Mungkin kau tak tahu. Gerimis jatuh seperti manik-manik berketai-ketai. Langit rubuh. Di atas samudera malam, bintang-bintang berketap-ketap muram. Terang siang jadi boyak.
Adakah secuil memori?
Aku ingat, engkau pernah mendaras doa, dalam bait-bait liris pahatan Paul Eluard.
pada lazuardi rombengan
pada kolam legam matahari
pada danau gairah rembulan
kutuliskan namamu …
Setelah itu wajahmu jadi pelangi. Warna-warni baiduri. Rencengan melati. Senyummu senja: batas antara terang dan dunia bayang-bayang. « Read the rest of this entry »
Cinta Pecas Ndahe
Juli 23, 2008 § 113 Komentar
Dari sebuah reriungan di Cibujang, kisah itu beredar ke delapan penjuru angin. Seseorang mengabarkannya ke saya tadi dengan catatan khusus, “Ndoro, tolong jaga nama saya baik-baik.”
![]()
Tentu saja saya jadi bingung. Nama baik siapa? Blogger maniez itu atau tukang kopi? Ah, sudahlah … « Read the rest of this entry »
Senja Pecas Ndahe
April 23, 2008 § 41 Komentar
Baiklah Jeung, aku akan bercerita tentang senja yang memerah saga. Tentang warna-warni pelangi dan bidadari yang menari di tepi lazuardi. Tapi, hapuskan dulu air matamu. Ku tak kuasa menanggung pedih dan perihmu.
Ada masanya senja meneteskan air mata. Mengubah sungai jadi air telaga duka. Dan bidadari menembangkan megatruh yang nelangsa. Daun-daun luruh, lalu lesap ditelan bumi.
Mungkin kamu juga tahu, hidup memang disesaki belukar penuh duri. Tak usahlah kau semak dan gamam hati. Selalu ada jalan simpang. Kamu tinggal memilih, ke kiri atau kanan. Pesanku satu, janganlah kau ambil jalan yang dilewati orang. Mungkin tak cocok buatmu. Pilihlah saja yang tak terlalu sukar, asal nyaman bagimu.
Nanti, sebelum malam datang membawa selimut kelamnya, ku kan duduk di sisimu. Menikmati padang bintang yang berpendar-pendar di angkasa. Tapi jangan kau pinta aku memetiknya. Nanti dia kehilangan pesonanya. Lebih baik kita hitung satu per satu dan menyimpan kilaunya dalam kenangan masa silam. Kenangan yang ingin kita lupakan dalam kuburan masa silam. « Read the rest of this entry »
Milan Pecas Ndahe
November 19, 2007 § 52 Komentar
Kota Milan baru bangun dari tidurnya ketika kami berjumpa di trotoar depan Hotel Principe di Savoia, di Piazza Della Repubblica 17, yang berdiri pada 1920 itu.
Langit jingga, seperti warna dinding hotel yang diterpa sinar matahari pagi yang meletek. Bayang-bayang pepohonan lindap. Embun merabas. Burung-burung melayap di antara dedaunan.
Jalanan yang diaspal lancap itu lengang. Hanya satu dua prahoto lewat. Lampu jalanan mulai padam satu per satu. Angin November mengremus kulit. Pedih. Saya lihat papan penunjuk temperatur di depan hotel menunjukkan angka 3 derajat Celsius. Pantes!
Diajeng merapikan mafela dan mengancingkan jaket kulit merahnya rapat-rapat. Parasnya yang lawa kemerahan tanda kedinginan. Tubuhnya bau lavender. Bibirnya dari tadi tak berhenti cengar-cengir … iseng. Saya tak tahan untuk mengacak-acak rambutnya.
Pagi itu Diajeng mau mengajak saya pelesir keliling Kota Milan. Ia hendak memamerkan kota yang membuatnya betah dan lupa pada seluruh kepedihan yang ditinggalkannya di Jakarta.
“Jadi kita mau ke mana dulu nih, Mas?” tanya Diajeng. “Ke Basilica di San Simpliciano yuk!” « Read the rest of this entry »