Etiskah media menulis surat imajiner?
Februari 22, 2024 § 2 Komentar
Sebuah majalah berita menulis opini dengan gaya penulisan surat imajiner. Surat tersebut memicu kontroversi.

Bagaimana kita sebaiknya melihat kasus ini?
« Read the rest of this entry »Bagaimana media dan jurnalisme bertahan di era AI?
April 30, 2023 § 1 Komentar
Dengan kemajuan Artificial Intelligence (AI) seperti ChatGPT, apakah media dan jurnalisme masih punya masa depan?

Itulah salah satu pertanyaan yang sampai hari ini menghantui para pekerja media dan guru-guru jurnalistik.
Karena penasaran, saya lalu membahas isu tersebut dengan Mat Cepot alias ChatGPT.
« Read the rest of this entry »Beritagar Pecas Ndahe
September 11, 2015 § 37 Komentar
Terhitung mulai 1 Agustus 2015, saya pindah pekerjaan ke situs Beritagar.id. Dulu situs ini dikelola oleh teman-teman di Jalan Langsat, Jakarta.
Pada Senin, 24 Agustus 2015, situs ini bersalin rupa. Serba baru. Baik nama, logo, tata muka, jenis huruf, warna, maupun para jurnalis yang bekerja di ruang redaksi, telah berubah.

Halaman depan situs Beritagar.id
Beritagar.id versi baru merupakan gabungan dari situs kurasi publik, Lintas.me, dengan situs kurasi Beritagar.com.
Pada praktiknya Beritagar.id melakukan agregasi, pengumpulan aneka konten dari pelbagai sumber di Internet. Meski demikian, Beritagar.id tidak sekadar membuat daftar tautan, seperti yang dikenal selama ini tentang situs agregasi. « Read the rest of this entry »
Buku Pecas Ndahe
September 7, 2009 § 53 Komentar
Terlalu banyak buku yang perlu dibaca. Terlalu sedikit kesempatan membaca.
Dua bungkusan mampir di meja saya pagi tadi. Dua-duanya memakai kertas cokelat sebagai pembungkus. Dua-duanya bukan sesuatu yang biasa di awal pekan. Tapi begitu saya baca pengirimnya, saya langsung bisa menebak isinya: buku!
![]()
Voila! Benar saja. Dua bungkusan itu memang berisi buku. Buku pertama adalah Telling True Stories kiriman seorang sahabat lama. Kami pernah satu kantor pada tahun-tahun awal saya mencari nafkah di Jakarta. Buku itu adalah janji yang ditunaikannya. Pekan lalu, menjelang kepulangannya dari Bali ke Los Angeles, dia memang berjanji akan mengirim buku yang katanya, “Kamu pasti suka.”
Buku kedua adalah sebuah kumpulan cerita berjudul Kekasih Marionette, karangan Dewi Ria Utari. Kami pernah satu pabrik selama beberapa tahun, sebelum dia kemudian meneruskan peruntungan ke tempat lain.
Dua buku. Dua perempuan. Dua mantan teman satu kantor. Aha … saya tahu kenapa hari ini saya merasa begitu tersanjung. « Read the rest of this entry »
