Kangen Pecas Ndahe
September 4, 2008 § 43 Komentar
Di siang yang panas dan lengas seperti sekarang ini, aku ingin merebahkan kenangan ke peraduan. Sepotong musim gugur yang pedih. Sekeping romansa biru yang perih.
Waktuku tak banyak. Mungkin hujan sebentar lagi mengguyur Jakarta. Dan senja berubah pucat kelabu. Sedang aku tak sempat mendengar desahmu.
Aku ingat, ketika air mata bidadari jatuh, engkau sering berbisik lirih, “A thing of beauty is a joy forever ….”
“Kenapa?” tanyaku.
“Karena ada keindahan di balik hujan,” jawabmu — perempuan khayalku.
Aku tahu hidup dengan keindahan mungkin sesuatu yang bisa menyebabkan kita bersyukur, merasa cukup, tanpa menjadi serakah.
Hidup bergerak di dalam, jauh, seperti tatkala kita mendengarkan perubahan suara gerimis. Gemuruh sungai. Gejolak badai. « Read the rest of this entry »
Matahari Pecas Ndahe
September 3, 2008 § 53 Komentar
Siang itu, ketika matahari menyeringai garang dan panasnya menikam setiap inci kulit jangat, aku kembali bersicepat melawan waktu melintas dermaga itu.
Aku hendak menemu perempuan musim panas yang rambutnya bermahkota janji-janji musim semi. Kepada siapa aku berharap pandu. Kepada siapa aku meminta bantu.
Tapi, perempuan musim panas itu absen di tempat dia biasa berada; berlindung di bawah payung rerimbun pohon harapan. Mungkin dia jemu menunggu sesiapa lewat menggendong harap serupa pungguk rindukan bulan. Aku tak tahu.
Siang begitu lengas. Halimun sirna terusir sepi sejak pagi. Kembang rontok bersama dedaunan, luruh di bawah dermaga. Air menderas, hanyutkan setiap potongan kenangan musim semi. « Read the rest of this entry »
Kenangan Pecas Ndahe
Agustus 28, 2008 § 27 Komentar
Setelah almanak disobek dan hari berganti, apa lagi yang masih tersisa untukku perempuan musim semi? Secuil reminisensi?
Ah, mungkin kau bahkan tak peduli betapa resah telah bersekutu dengan gelisah. Dan aku ditikam sepisau sepi, diiris-iris segaris sunyi. Luruh dalam kabut lusuh menjelang subuh.
Kau pergi secepat gerimis kepagian. Lesap begitu saja entah ke mana. Jejakmu lindap dalam kelimun halimun. Kelompang.
Mungkin kau tak tahu. Gerimis jatuh seperti manik-manik berketai-ketai. Langit rubuh. Di atas samudera malam, bintang-bintang berketap-ketap muram. Terang siang jadi boyak.
Adakah secuil memori?
Aku ingat, engkau pernah mendaras doa, dalam bait-bait liris pahatan Paul Eluard.
pada lazuardi rombengan
pada kolam legam matahari
pada danau gairah rembulan
kutuliskan namamu …
Setelah itu wajahmu jadi pelangi. Warna-warni baiduri. Rencengan melati. Senyummu senja: batas antara terang dan dunia bayang-bayang. « Read the rest of this entry »
Gula-gula Pecas Ndahe
Agustus 26, 2008 § 56 Komentar
Baiklah perempuan gula-gula, kan kujawab senandikamu dengan biji-biji pelangi yang kusemai di musim semi. Di sini.
Ya, di sini; di tempat kita biasa meringkus jemu jadi batu. Di tepian sungai yang deras airnya melarungkan untaian keluhmu.
Tentu kau belum lupa pada larik-larik irisan sembilu yang tertoreh saat itu. Bahwa kita mungkin tak akan melancong ke mana-mana. Tak juga di titik nol, tanpa koma. Sebab, jalan kita merayau di antara kelimun deru debu-debu senja.
Memang hanya aku yang bisa mendusin tidurmu di tubir-tubir malam yang lengas. Cuma suaraku pula yang menggiring bahagiamu di hari-hari sepanas Gurun Gobi. « Read the rest of this entry »
Rembulan Pecas Ndahe
Agustus 22, 2008 § 65 Komentar
Perempuan itu bermata rembulan. Hangat dan meneduhkan. Parasnya setenang Danau Kelimutu. Aku bertemu dengannya di tepi pagi yang getir. Selepas purnama kelima di tengah musim semi.
Tubuhnya wangi melati. Senyumnya segar tomat ranum. Rambutnya gelap malam tanpa bintang. Langkahnya seriang kupu-kupu di taman bunga.
Ia tengah berlawalata menyusuri sepi saat kami bersua. Kami lalu berbincang ringan di pojokan lapangan rumput, di atas bangku kayu mahoni. Di atas, kulihat langit biru tebal. Awan menggeletar jemu dikalang angin selembut beludru.
Aku ingat, perempuan itu duduk setelah meletakkan secangkir kembang warna-warni di atas meja. Sekilas kulihat ada roncean mawar hutan di kepalanya.
“Mari, temani aku duduk di sini melewati sunyi,” ia meminta.
Aku mengangguk, dan duduk di sampingnya. « Read the rest of this entry »