Pacar Pecas Ndahe

Februari 1, 2012 § 93 Komentar

Laki-laki itu tiba-tiba menyebut akun Twitter saya di linimasa. Tidak hanya itu. Ia juga menggamit nama seorang penyiar televisi perempuan ternama dan memaki-makinya. Lelaki itu bahkan menyebut sang penyiar dengan julukan yang tak senonoh.

Saya kaget, tak menyangka ada orang yang dengan kasarnya mencemooh perempuan secara terbuka di ruang publik. Dan aksi itu dilakukannya beberapa kali. Dengan pesan yang kurang lebih sama: menjelek-jelekkan perempuan itu.

Saya diam saja, tak bereaksi membalas pesan lewat Twitter. Saya hanya membatin, pasti ada sebabnya lelaki itu menuliskan pesan yang tak pantas itu.

Dugaan saya terjawab kemudian. Perempuan itu mengirimkan DM. Ia meminta maaf dan menjelaskan siapa lelaki itu. Rupanya mereka pernah menjalin ikatan suami-istri. Biduk rumah tangga mereka ternyata berhenti di tengah jalan.

Akhirnya mereka bercerai. Sang suami tampaknya tak menerima keputusan pisah itu. Ia berang. Lalu menyerang mantan istrinya secara terbuka di linimasa. Serangan itu berlangsung terus-menerus, nyaris tanpa henti.

Dan saya jadi korban, ikut terseret mengetahui masalah orang lain yang sebenarnya tak perlu saya ketahui. « Read the rest of this entry »

Iklan

Jempol Pecas Ndahe

Agustus 19, 2011 § 109 Komentar

Nyatakan dengan jempol. Begitulah ungkapan yang sekarang sedang ngetren. Dulu kita mengacungkan jempol sebagai tanda menyatakan setuju atau mengatakan bagus. Orang Jawa mengacungkan jempol untuk mempersilakan orang lain berjalan mendahului. Sekarang, dengan bantuan jari-jemari, jempol juga dipakai untuk ikut upacara, menaikkan bendera, atau bersedekah.
 
Upacara digital dengan jari dan jempol itu digelar oleh komunitas Indonesia Optimis. Pada perayaan hari Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus, yang jatuh pada Rabu lalu, komunitas tersebut menggelar upacara bendera secara digital di situs ID-Optimis. Cukup dengan menggerakkan jari dan jempol di komputer, laptop, tablet, atau telepon pintar untuk masuk ke situs itu, pengunjung sudah menjadi peserta upacara. Dan seluruh prosesi upacara bisa diikuti di layar gadget.
 
Jika hendak mengikuti prosesi lainnya, seperti pembacaan teks proklamasi, mengheningkan cipta, atau pidato amanat pembina, peserta upacara bisa membuka akun Twitter @ID_Optimis. « Read the rest of this entry »

Ponari Pecas Ndahe

Februari 12, 2009 § 288 Komentar

Siapakah sesungguhnya Ponari? Dukun cilik sakti atau hanya seorang anak kecil di pusaran absurditas zaman?

Saya ndak tahu. Kabar yang berseliweran menyebutkan bocah lelaki berusia 10 tahun dari Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang, itu memiliki sepotong batu yang dipercayai mampu menyembuhkan aneka macam penyakit.

Entah bagaimana caranya, kabar kedigdayaan batu itu cepat menyebar. Orang berbondong-bondong datang meminta pertolongan kepada Ponari dan batu ajaibnya itu.

Pasiennya membanjir dari delapan penjuru angin. Surya Online melaporkan, “Jika sebelumnya rata-rata pengunjung 5.000-9.000, kemarin diperkirakan mencapai sekitar 15.000 orang.”

Dalam waktu sekejap, tak sampai sebulan, Ponari menjelma jadi sebuah brand yang menasional — mungkin efek viral marketing tanpa disengaja. Ia bagaikan sebuah mantra ajaib bagi mereka yang memercayai. Obat bagi sembarang penyakit.

“Membludaknya pengunjung juga bisa dilihat dari banyaknya sepeda motor dan mobil yang diparkir di jalan-jalan desa. Massa dan kendaraan yang parkir memenuhi radius sekitar satu kilometer dari rumah keluarga Ponari” — Surya Online.

Dari mana batu ajaib itu diperoleh? Konon batu ajaib berbentuk kepala belut sebesar kepalan tangan tersebut didapat awal Januari lalu, ketika Ponari disambar kilat. « Read the rest of this entry »

Misi Pecas Ndahe

Januari 5, 2009 § 66 Komentar

Bencana datang silih berganti. Korban terus berjatuhan. Kemarin saudara-saudara kita di Manokwari dan Sorong, Papua Barat, yang tertimpa musibah gemba bumi. Besok atau lusa mungkin giliran kita.

Setiap kali bencana menghumbalang, kita tak bisa hanya berharap dan menunggu bantuan pemerintah pusat maupun daerah, yang sering terlambat. Sudah saatnya masyarakat, juga para blogger, berdiri di barisan terdepan dan melakukan sesuatu. Bencana tak mau menunggu. Saat ini juga, kita harus bergerak.

Epat, kawan baik saya itu, telah melempar gagasan dahsyat: membuat Blogger Response Team. Apa itu? « Read the rest of this entry »

Sekolah Pecas Ndahe

Januari 1, 2009 § 59 Komentar

Apa yang lagi tersisa setelah piring-piring bersih, gelas-gelas kosong, dan terompet tahun baru tak lagi menyalak? Senyap? Tidur panjang? Kesiangan atau kenangan?

Setelah almanak disobek, dan 2009 dimulai hari ini, barangkali ada baiknya kita kembali menghadapi kenyataan. Mari melihat jalanan. Lihatlah anak-anak dan para perempuan yang menengadahkan tangan di perempatan seraya menutup wajahnya.

anak jalanan

Apa boleh buat, wajah tahun baru masih agak sedikit suram. Krisis global yang menghumbalang banyak negara Barat mungkin sebentar lagi bakal sampai di sini. Bayang-bayang kelesuan ekonomi barangkali akan segera terlihat.

Saya mendengar ada beberapa perusahaan lokal yang mulai memecat sebagian karyawan. Dalihnya macam-macam, misalnya atas nama pensiun dini — seperti kabar yang sayup-sayup terdengar dari sebuah pabrik media ternama.

Lantas bagaimana sampean akan memulai hari di tahun yang baru ini, Ki Sanak? « Read the rest of this entry »

Bocah Pecas Ndahe

Desember 23, 2008 § 46 Komentar

Saya menemukan anak ini pada sebuah pagi di salah satu sudut Terminal Bus Blok M, Jakarta Selatan. Ia tengah tertidur nyenyak. Wajahnya yang polos terlihat begitu damai.

wajah damai meringkuk

Saya tak tahu siapa nama, asal, dan siapa orang tuanya. Saya juga tak tahu ia sedang melukis mimpi tentang apa. Barangkali juga ia tak sedang bermimpi. Siapa yang bisa menebak apa isi kepala anak ini?

Tidurnya begitu tenang seolah tak terganggu oleh lalu lalang para penumpang. Bising mesin Metromini yang meraung kencang, semburan asap knalpot yang bikin sesak paru-paru tak mampu mengusik. Satu-satunya tanda kehidupan hanyalah napasnya yang teratur.

Saya menemukan foto itu di antara tumpukan dokumen-dokumen di dalam laptop ketika sedang bersih-bersih. Saya ingat, paras anak itu bersih. Begitu pula pakaian dan celananya. Ada semburat cat di rambutnya yang keriting. Oh, bocah. Siapakah engkau? « Read the rest of this entry »

Coin Pecas Ndahe

Desember 18, 2008 § 38 Komentar

Selalu ada dua sisi mata uang. Begitu kata pepatah-petitih kehidupan. Karena hidup mengajarkan ada saat menerima, ada kalanya pula kita memberi.

saatnya berbagi dan memberi, coin a chance

Sampean juga bisa memberi, mengulurkan sesuatu kepada orang lain dengan pelbagai cara. Salah satunya dengan bergabung ke dalam gerakan sosial Coin A Chance.

Apa itu? « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with sosial at Ndoro Kakung.