Archive for April, 2008
Kado Pecas Ndahe
Baiklah Mbok, kuterima dengan hormat dan salam takzim untuk bait-bait liris yang kau kirimkan kepadaku. Dan sebagai balasan atas perhatianmu, kadomu kutayangkan di sini.
kucari jejakmu
hingga jauh ke tepi cakrawala
kutanya pada angin, pada hujan yang tempias di daun jendela
kutanya awan juga bintang-bintang
‘adakah dia menitip rindu sebelum senja tiba?’tapi bahkan langit pun khianat
malam ini bulan merah bata
dan gelisahku menjelaga
>> Terima kasih untuk Mbakyu Venus.
22 commentsPasal Pecas Ndahe
Bloggers beware. Achtung. Awas. Hati-hati …
![]()
Presiden sudah meneken Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
Dalam undang-undang itu ada pasal yang melarang penyebaran informasi pencemaran nama baik, seks, dan kekerasan. Hukuman maksimal 6 tahun penjara bagi mereka yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarluaskan informasi itu. Read more
79 commentsRayuan Pecas Ndahe
Kenali lawan bicara sampean sebelum menelepon, kecuali sampean memang ingin akan ngakak bersama di akhir pembicaraan. Begitulah pelajaran yang baru saja saya peroleh dari seorang Ibu.
Ibu itu tadi tiba-tiba menelepon ke nomor handphone pribadi sewaktu saya hendak istirahat makan siang. Tanpa sungkan-sungkan lagi dia langsung memperkenalkan diri dari PT Blablabla Kapital yang bergerak dalam jual-beli saham.
Dalam hati saya bertanya-tanya. Saham? Sejak kapan saya main saham? Dari mana ibu itu tahu nomor saya? Saya curiga ibu ini pasti cuma mau jualan.
Karena penasaran, saya biarkan saja dia mengeluarkan jurus-jurus pembukaannya. Saya ingin tahu sampai di mana ilmunya.
“Bapak sudah pernah mendengar tentang saham, Indeks Han Sheng, Dow Jones, Wall Street, Nasdaq, Pak?” begitu ibu itu membuka percakapan.
“Indeks? Saham? Han Sheng? Wah, belum tuh. Itu apa ya? Han Sheng itu menteri apa ya?” saya balik bertanya. Read more
32 commentsMoral Pecas Ndahe
Spanduk agitatif ini terpasang di jembatan penyeberangan di Jalan Daan Mogot — urat nadi yang menghubungkan Jakarta dengan kota satelitnya, Tangerang. Tiap hari puluhan ribu pengguna jalan melintas dan melihat spanduk itu.
![]()
Dengan warna kuning dan huruf besar, spanduk ini terlihat sangat mencolok, bahkan dari kejauhan. Meski agak sedikit terlipat di bagian atasnya, kita masih bisa dengan jelas membaca tulisan di spanduk itu: “Goyangan Dewi Persik Merusak Moral Bangsa.” Read more
39 commentsKlithikan Pecas Ndahe
Sebagian orang mungkin menganggapnya kelucuan, sebagian lagi keisengan. Menggelikan sekaligus mengesalkan. Itulah blog Klithikan milik komunitas Cah Andong, Yogyakarta.

Pasar maya ini dikelola oleh anggota komunitas Cah Andong yang menyebut diri sebagai para “jelata”. Dikomandani oleh Zamroni alias Sultan Ndoyokarto, Klithikan adalah satu dari empat rumah maya Cah Andong. Tiga cangkrukan maya lain mereka adalah Portal, Juminten, dan Wiki. Read more
31 commentsEmbun Pecas Ndahe
Aku melihat senyummu tadi pagi, Jeung. Sebentar saja. Ia mengintip dari balik daun-daun cemara. Lalu lesap bersama embun yang menguap.
Secepat itukah kau pergi, seperti gerimis kepagian? Kenapa?
Mestinya kau tahu, aku bukan pangeran negeri kabut — penunggang kuda putih dengan gandewa di tangan. Jadi usahlah kau takut. Lalu beringsut. Menjauh. Dengan lembut.
Aku cuma pengelana murba yang berlawalata sepanjang masa. Rumahku udara. Pergi ke mana suka. Senjataku kata. Tamengku cinta. Jalanku sunyi. Arahku matahari. Read more
45 comments
