Batu Pecas Ndahe

Juni 25, 2007 § 22 Komentar

Masa depan merupakan tanah liat. Bisa dibentuk dari hari ke hari. Masa lalu adalah batu padas. Tak bisa diapa-apakan – Sidney Sheldon

“Halo, Yah. Ayah di mana?” terdengar suara anak saya di ujung telepon.”

Deg, hati saya berdebar.

“Eng, eh … Ayah di kantor. Ada apa, Nak?”

“Pulangnya masih lama nggak? Nanti sore kita jadi berenang, kan?”

“Jadi dong, tunggu ya. Sebentar lagi ayah pulang.”

“Ya udah. Cepetan ya. Daag … Ayah.”

“Daag…”

Saya menutup telepon. Ugh, lega rasanya. Saya kira ibunya yang menelepon. Kalau dia yang menelepon, pasti lebih susah menjawabnya.

“Siapa, Mas? Anakmu?” tanya Diajeng tanpa bermaksud menyelidiki.

“Iya. Nggak apa-apa kok, Jeng. Dia cuma mau menagih janjiku mengajaknya berenang nanti sore.”

“Wah, kamu bapak yang baik ya, Mas.”

“Tapi bukan suami yang baik.”

“Ups. Maaf. Biasanya kalian berenang di mana sih?”

“Di kolam renang dekat rumah.”

“Ah, aku jadi pengen berenang. Eh, mandi yuk, Mas!” ajaknya.

“Kamu duluan deh. Saya masih mau beresin piring, sendok, garpu.”

“Nggak ah. Sama-sama dong, Mas.”

Halah. Manja!

Tapi, saya tak kuasa menolak. Dia sudah menarik tangan saya, mengajak ke kamar mandi. Pagi itu, kami mengulang lagi asyiknya berselancar meniti buih kenikmatan seperti tadi malam – sesuatu yang saya tahu pasti bukan yang pertama dan terakhir untuk kami.

Dalam perjalanan ke pabrik, saya kembali terkenang setiap detail kejadian tujuh tahun yang lalu itu. Saya ingat betul bagaimana dia begitu bahagia pagi itu. Saya ndak tahu apakah dia sering mendapatkan perasaan yang sama sebelum bertemu saya. Ah, saya ndak peduli.

Saya lebih peduli tentang keadaan dan di mana dia sekarang. Setelah maminya menelepon sambil terisak tadi pagi karena Diajeng tiba-tiba pergi entah ke mana, saya terpaksa memutar otak ke mana mesti mulai mencarinya. Saya sudah tak mengenal teman-temannya yang sekarang. Setelah berpisah tiga tahun silam, kontak kami terputus. Begitu juga hubungan dengan satu dua teman dekatnya. Ah, pecas ndahe tenan ini.

Iseng-iseng saya nyalakan radio, siapa tahu ada pengumuman orang hilang. Tapi, bukan pengumuman yang terdengar, melainkan suara Bams Samsons yang tengah menyanyikan Kisah yang tak Sempurna.

Aku memang tak berhati besar untuk memahami artimu di sana
Aku memang tak berlapang dada untuk menyadari kau bukan milikku lagi
Dengar … dengarkan aku … aku akan bertahan sampai kapan pun
Sampai kapan pun …

Maafkan aku, yang tak sempurna ‘tuk dirimu
Usailah sudah kisah yang tak sempurna untuk kita kenang …

Asem tenan ki. Lagu kok nyindir. Saya ganti saluran. Tapi, tak ada apa-apa. Ya sudah. Que sera sera …

Di pabrik, resepsionis menyambut saya di lobi dengan selembar kertas di tangan. “Tadi ada telepon, Mas. Cewek. Dia titip pesen ini,” katanya sambil menyerahkan kertas itu.

“Oh. Makasih, ya.”

Saya ambil kertas itu lalu saya baca pesannya. Pendek saja. “Kutunggu nanti sore di tempat senja memerah dan kabut turun.”

Pesan itu tak bernama. Tapi, saya tahu siapa yang meninggalkannya.

Tempat di mana senja memerah dan kabut turun itu hanya ada satu dalam kamus saya dan dia: Melrimba Garden di Puncak. Kami memang sering menghabiskan waktu di sana, sekadar makan siang atau leyeh-leyeh sampai sore. Dalam sebulan bisa tiga atau empat kali kami ke sana.

Melrimba Garden berada di Jalan Raya Puncak, kilometer 87. Dari arah Jakarta, lokasinya ada di sisi kiri jalan, persis di bawah restoran Rindu Alam yang mashyur itu. Taman yang luasnya sekitar tiga hektare dihiasi oleh aneka kembang dan pucuk-pucuk pinus di atas hamparan rumput. Di sebelah kirinya ada sebuah Factory Outlet dan orang berjualan kembang. Di sebelah kanannya ada sebuah play ground lengkap dengan mainan anak-anak, seperti ayunan dan jungkat-jungkit.

Di dalam taman itu juga ada sebuah restoran, Melrimba Kitchen. Bangunannya berbentuk persegi panjang dua tingkat warna putih dengan atap cokelat. Struktur bangunan dengan desain minimalis dan terbuka itu ditopang oleh dinding beton dan tiang kayu jati.

Ia selalu memilih meja paling ujung di lantai dua yang menghadap ke taman. “Soalnya aku suka pemandangan di bawah sana itu, Mas,” jawabnya sambil menunjuk kebun teh di kejauhan ketika saya tanya mengapa ia selalu memilih tempat di pojok.

Bila kami datang siang menjelang sore, ia selalu memesan menu yang sama. Poffertjass, main course kakap steam dan tom yam goong, dan penutupnya blueberry ice cream pancake.

Saya lebih suka fettuccine mushroom cream dan bandrek anget. Ia sering mentertawakan kombinasi pesanan saya yang dianggapnya aneh itu.

“Fettucine kok campur bandrek sih, Mas? Nggak nyambung tau …” katanya sambil terkekeh.

Saya cuma nyengir, menyadari kendesitan saya. “Biarin ah, yang penting bisa masuk perut. Dingin-dingin begini paling enak minum bandrek, Jeng.”

“Nggak mau nyoba ginger mint tea-nya, Mas? Enak lo, Mas.”

“Nanti saja.”

“Ya sudah, terserah Mas mau pesen apa deh,” katanya sambil ngelendot di lengan saya.

Pelayanan yang sedang mencatat pesanan kami terpaksa membuang muka. Saya merasa ndak enak. Tapi, Diajeng cuek saja.

Meski kami berbeda dalam selera makan, kami sama-sama menyukai pemandangan alam terbuka seperti di Puncak. Itu sebabnya kami menjadi semacam pelanggan tetap Merlimba. Kami bisa menghabiskan waktu berjam-jam di sana hanya untuk menyaksikan kabut turun yang perlahan turun dan menyentuh pucuk-pucuk teh di perkebunan yang terbentang di bawah.

Ketika terakhir kami makan di sana, matahari sedang menuju peraduan. Senja sebentar lagi datang. Langit merah saga. Ia terpana. “Wah, gila … Bagus banget ya, Mas,” komentarnya.

“Ambil kamera Jeng, ambil kamera,” saya buru-buru mengingatkannya untuk merekam momen itu.

Ia tersentak dan segera mengambil kamera di tasnya. Dalam sekejap ia sudah menjepret belasan adegan kala sang surya tenggelam. Saya melihat dia seperti anak kecil yang baru mendapatkan mainan baru. Mulutnya tak henti-hentinya berdecak kagum.

“Sini Mas, sini. Aku mau foto kamu,” dia menarik tangan saya.

Saya menurut dan bergaya. “Ya, ya … di situ aja,” katanya. Wis jan, wagu tenan.

Ia terkekeh lalu memeluk saya dari belakang. Kepalanya bersandar di bahu saya. Angin berdesir-desir dingin. Kabut perlahan turun di kejauhan. Saya mencium wangi cemara.

Mendadak kami terdiam dalam keheningan yang aneh. Mistis. Ia memejamkan matanya. Napasnya mengembus kuping saya. Saya kegelian dan menggelinjang pelan. Ia malah semakin mengetatkan pelukannya.

“Diam Mas, diam. Rasain deh,” katanya.

Saya mencoba ikut merasakan suasana yang dia rasakan. Hening. Tak ada apa-apa. Hanya suara angin yang berdesir pelan. Dingin.

Di atas sana, langit yang memerah dan kabut yang turun membuat sore itu menjelma seperti puisi-puisi T.S. Elliot, sederhana, lembut, dan syahdu.

Di tempat senja memerah dan kabut turun itulah, Diajeng meminta saya ke sana sore nanti.

Sejenak saya ragu. Apakah dia sedang berusaha membawa kembali kenangan masa lalu? Rebound? Rasanya mustahil. Masa lalu itu batu padas. Tak bisa diapa-apakan …

Iklan

Tagged: , , , , ,

§ 22 Responses to Batu Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Batu Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: