Harimau Pecas Ndahe
November 26, 2007 § 21 Komentar
ada harimau mengaum di depanku
matanya nyalang, taringnya tajam sembilu
singkirkan, singkirkan setan itu
buru-buruaku tak mau terluka …
[kalaulah air mata tak cukup jua, aku masih punya mata air telaga]
Ida Pecas Ndahe
November 25, 2007 § 25 Komentar
Saya mengenal [suara] nya sejak dia masih jadi penyiar Radio Prambors, Jakarta, pada akhir 1980-an. Kebetulan kantor kami berdekatan. Dia di Jalan Borobudur, saya di Jalan Raden Saleh. Halah, apa hubungannya ya?
Ya, dia Ida Arimurti, penyiar kondang Delta FM, Jakarta, itu. Ayu, ning Es-Te-We. Anak-anak 80-an pasti mengenalnya dengan baik. Bahwa Ida tak mengenal mereka, itu bukan urusan saya to? « Read the rest of this entry »
Surat Pecas Ndahe
November 24, 2007 § 28 Komentar
Berapa lama waktu yang dibutuhkan sepucuk surat untuk sampai ke tujuan? Berapa kilometer per jam kecepatan secarik dokumen berjalan dari satu alamat ke alamat lain?
Saya menanyakan perkara itu pada sebuah malam yang getir kepada sebutir sekrup di sebuah pabrik besar bernama birokrasi.
“Ya ndak tentu, Ndoro,” begitu jawabannya. “Kalau yang nganter itu kurirnya perusahaan besar pengantar surat dan barang seperti yang di negeri tetangga itu, ya mungkin cepat. Dari Hong Kong ke Jakarta mungkin hanya perlu satu malam. Namanya overnight service.”
Tapi kan mahal?
“Relatif,” jawabnya. “Mahal tapi cepat sampai ya ndak apa-apa. Tapi, kalau mahal dan ndak tahu kapan sampainya, itu namanya sontoloyo.” « Read the rest of this entry »
Kupu-kupu Pecas Ndahe
November 23, 2007 § 27 Komentar
ada kupu-kupu di kepalaku
menari, menggelinjang
tolong … tolong … tangkapkan untukku
satu sajaaku mau berdansa dengannya
Setan Pecas Ndahe
November 23, 2007 § 20 Komentar
Seandainya blog sudah mati, apalagi yang menarik dari permainan ini?
Tiada kata, tiada gambar. Tanpa dia, tanpa kita.
Ah, untungnya, dalam hidup ini ada setan. Dan, sepanjang hidup ini, kita membutuhkan setan. Kalau sedang sepi, tak ada setan, kita masih bisa mengimpornya dari gudang purbasangka atau kerisauan kita sendiri.
Kalaupun tak ada juga, kita dapat mencari musuh. Musuh memberi kita bentuk. Kebencian dan kewaspadaan memberi kita kekuatan.
Dengan cara itulah kita punya cara yang lebih gampang dalam “mengetahui” dunia: ada kawan, ada lawan, ada sana, ada sini.
Tapi, apakah sebetulnya dunia itu? « Read the rest of this entry »
