Buru Pecas Ndahe

Februari 25, 2008 § 24 Komentar

Perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa, kata Milan Kundera. Untunglah penghapusan ingatan juga tak semudah membalik tangan.

Arkian seorang perupa bernama A. Gumelar Demokrasno. Ia melakukan “perjuangan melawan lupa” melalui karya-karya grafisnya yang dikumpulkan dalam sebuah buku, Dari Kalong Sampai Pulau Buru: Kisah Tapol Dalam Sketsa.

Saya beruntung memperoleh buku yang cukup langka ini dari seorang kawan sekaligus guru yang baik, eks penghuni Pulau Buru juga, Amarzan Ismail Hamid. Karena itu saya ingin membagikan secuil isinya pada sampean.

Adrianus Gumelar Demokrasno lahir di Subang, Jawa Barat, 29 Desember 1943. Ia masuk Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Jurusan Seni Patung pada 1960 dan lulus 1964. Ketika kuliah, ia sempat ikut proyek Museum Perjuangan di Yogyakarta dan merenovasi makara candi Prambanan.


[Interogasi — tapol disetrum sampai terjengkang]

Pada 1964, ia bekerja di Panitia Negara, Seksi Dekorasi, di bawah Sekretariat Negara. Pekerjaannya, antara lain membuat poster besar wajah para tamu negara di studio seni. Pada 1966, studio seni itu ditutup penguasa Orde Baru. Gumelar lalu jadi penganggur.


[Interogasi — tapol dihajar sampai bersimbah darah]

Pada 1968, ia ditangkap petugas keamanan di rumahnya. Awalnya ia ditahan di Markas Kalong di Gunung Sahari, lalu dipindahkan ke rumah tahanan Kodim di Banteng, selanjutnya ke penjara Salemba dan Nusa Kambangan.


[Tapol mandi bersama — Blok F, Salemba, 1970]

Setelah itu, masih pada 1968, Gumelar dipindahkan lagi ke Pulau Buru bersama 10 ribu tahanan politik lain. Ia menghabiskan waktu selama 11 tahun sebagai tahanan politik Orde Baru di Pulau Buru. Ia baru dibebaskan pada 1979.


[Unit IV Savanajaya — salah satu barak tapol di Pulau Buru]

Buku sketsa ini merupakan dokumentasi kumpulan ingatannya selama menjadi penghuni Pulau Buru. Amarzan menyebut Gumelar telah, “Merekam pulau pembuangan itu dengan ingatan fotografis dan keterampilan yang patut dipujikan.”


[Ruang tahanan, ukuran 5×12 meter, kapasitas 25 tapi diisi 125 orang]

Ia bercerita banyak bagaimana kondisi para tahanan politik selama menghuni pulau bekas daerah buangan tahanan di zaman penjajahan Belanda dulu.

Kita diajak bertamasya sejarah, ke masa-masa yang memedihkan itu, mengenal dari dekat seperti apa kondisi mereka yang terbuang.

Ada gambar-gambar yang membuat kerongkongan tercekat. Tapol yang dihajar, diinjak-injak, atau dipaksa kerja keras. Tapi ada pula black comedy, seperti gambar ini.


[Suatu hari, ada seorang tapol kentut. Karena tak ada yang mengaku, mereka mendapat hukuman secara massal]

Bagi saya sendiri, buku ini merupakan sebuah perbendaharaan baru dalam khasanah sejarah Indonesia modern. Ia menyumbang fakta lain, rekonstruksi yang sangat berbeda dari bikinan Orde Baru.


[Sastrawan Pramoedya Ananta Toer bekerja di ladang bersama sesama tapol]

Buku ini mencengangkan, bukan hanya karena kualitas seni grafisnya, melainkan juga lantaran memberi saya banyak pengetahuan dan pemahaman yang lain tentang Pulau Buru.


[Memikul batang pohon untuk tiang masjid, Savanajaya, 1970]

Sebagai buku langka yang langka, generasi muda, termasuk sampean semua, tentu mendapat kesempatan berharga jika bisa melihat versi lain dari buku-buku sejarah buatan Orde Baru tentang pulau terpencil itu. Sebuah laporan “pandangan mata” bekas penghuni pulau itu.


[Kunjungan Romo Mangun di Pulau Buru, 1971]

Gumelar telah memulai dengan sebuah buku grafis. Semoga bakal makin banyak pula “perjungan melawan lupa” dalam bentuk lain, supaya sejarah Indonesia kian beragam dan tak dimonopoli oleh satu kamus tunggal ….

Judul : Dari Kalong Sampai Pulau Buru: Kisah Tapol Dalam Sketsa
Karya : A. Gumelar Demokrasno
Penulis Teks : Harsutejo
Desain : Dodo Hartoko
Komputer Grafis : Dhien
Penerbit : Pusat Sejarah dan Etika Politik, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
xxiv + 142 hlm : 28 x 20 cm
Cetakan pertama, Januari 2006

Iklan

§ 24 Responses to Buru Pecas Ndahe

  • Herman Saksono berkata:

    Mungkin pelajaran sejarah di SD juga perlu direvisi ya?

    Jadi pelajaran sejarah itu nantinya tidak semata menyajikan kejadian2 seolah semua itu ilmu pasti, melainkan sejarah beserta kontroversi dan sifatnya yang tidak selalu benar.

    Jelas akan membingungkan, tapi memang sejarah itu membingungkan kan ya? 😀

  • dewi berkata:

    memang lebih gampang menceritakan kejadian secara visual ya, ndoro. apalagi yang memvisualisasikan pelaku sendiri. miris, karena jauh lebih gamblang dari tulisan2 yang slama ini dibuat tentang pulau buru.

    • setiawan berkata:

      kalau kita lihat bersama,pulau buru memang indah selintas mata memandang tetapi dibalik keindahan itu ada duka dan nestafa yang pedih sepedih sayatan pisau yang melukai umat manusia yang tidak jelas salah dan benarnya,oia….saya asli pulau buru low…unit 2 mako

      • setiawan berkata:

        secara sosiologis memang tidak dapat dibenarkan tetapi harapan saya semua biarlah berlalu karena sejarah PKI mamang ada dan oknum-oknum memang pembunuh manusia nyang tidak berdosa dan akibatnya sekarang telah melukai anak manusia yang tidak tahu dosa yang akibatnya sampai saat ini streotipe yang di berikan masyarakat itu sampai saaat ini juga menjadi diskriminasi baik di desa maupun di pemerintahan kita, so,apakah ini akan terulang,jangan sampai karena PKI tettap PKI,kejam tetap kejam karena menurut saya perbuatan PKI bukanlah lperbuatan manusia tapi layak dikatakan itu adalah perbuatan manusia yang pasti ada balasannya, dan itu terbukhti sampai saat ini nyang menjadi keluarga PKI dapat mimbasnya atas nenek moyangnya

  • kw berkata:

    sejarah itu ternyata menarik sekali ya. ntar aku cari deh bukunya. thx infonya

  • Mas Kopdang.. berkata:

    Sejarah Pulau Buru, bukan saja sejarah siapa dan kapan. Namun juga (semoga) berbicara kenapa dan mengapa serta lantas bagaimana..

  • leksa berkata:

    Sayangnya…
    sekedar nama Pulau Buru saja,
    masih banyak yang tidak tahu …

    mulai sekarang, paling saya bisa cerita ke orang2 kalo Kamp Nazi itu juga ada di negeri ini …

  • pns gila berkata:

    Uwwiihhh…gara2 kentut dihukum??

  • munyuk pemalu berkata:

    keren bukunya. itu udah dijual ya, ndoro?

  • paramarta berkata:

    uuiihh…. *gak bisa ngomong*

  • paramarta berkata:

    satu lagi ndoro, kenapa bisa ditangkap? punya kesalahan apa ndoro? maen tangkap aja..

  • tito berkata:

    itulah kalau seniman dianiaya. panjenengan kalau dipenjara pasti juga corat coret

  • liemz berkata:

    lha itu yang nggambar kok dijadikan tapol salah apa, ndoro? kok ndak diceritakan juga?

  • Kalimat sakti selain Pengadilan Tuhan adalah: “Itu sudah berlalu, biarlah berlalu”

    Bleh… 😮

  • Totok Sugianto berkata:

    “order baru” itu maksudnya orde baru kan ndoro? 😛

    maaf typo, sudah dikoreksi, thanks. 🙂

  • kopisusu berkata:

    Walah…Ndoro ini ngasih kerjaan saya…(Sambil buka2 buku sejarah yang ndak tau palsu apa ndak…) Masih Bingung..?

  • daustralala berkata:

    wah, telat deh mau bikin buku dengan tema serupa…kakakak

  • ning berkata:

    Serius Ndoro…
    dimana yak, bisa dapetin buku itu dengan cepat?
    gak perlu nyari2, ada referensi gak?

    makasih lho.. ndoro, infonya.
    buat nglengkapin coretan yg terlanjur sdh dimulai nich.

  • setiawan berkata:

    sejarah PKI harus di perjelas lagi kahrena kalau saya amati PKI saat ini mulai beraksi lagi dengan segudang alasan agar sejarah PKI di tiadakan,makanya PKI tetap diadakan sebagai karma bagi oknum-oknumnya

  • setiawan berkata:

    saya lahir tahun 1982 di desa unit 2 Mako Waenetat Pulau Buru,saya juga baru tahu kalau Pulau tempat tetes darah pertama begitu banyak menyimpan berjuta cerita yang menjadi sejarah kepiluan dari beribu-ribu anak manusia. saya sekarang kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan insaallah agustus wisuda. datang ya…?

  • Maria Isliniyati ( nDuk Lyn ) berkata:

    Sakit… sakit sekali ketika ada yang mengatakan “anak PKI”, saya (kami anak-anak tapol) tahu apa? Selain lahir dan di besarkan di Savana ( Buru ) dengan cinta dan damai. Tidak pernah mereka nebgajarkan kami, anak-aanaknya untuk membenci negara kami meski mereka pernah mengenyam duka dan nestapa…

  • DANANG berkata:

    Saya anak Savanajaya, dari almarhum bapak dikisahkan kepedihan perjalanan hidupnya dan om-om di P. Buru, namun setitik harapan masa depan bagi anaknya selalu terpercik dari pelupuk mata tuanya.
    Sekarang, orang diluar sana selalu bercerita dan mengodol-odol kisah perih masa lalu di P. Buru, tapi bagaimana nasib anak-anak mereka yang pada rezim Soeharto tak berani bermimpi akan masa depan? walau sekarang sudah berbeda, tapi apakah udah BENAR-BENAR BERBEDA?

  • Cacing jantan berkata:

    Saya tertarik dengan sejarah p.Buru walaupun saya bukan asli buru tapi saya besar dipulau panas dan eksotik ini, buat kawan2 yg punya referensi sejarah buru mohon
    bantuannya. Saya dari mako dekat pasar sekarang kuliah dimalang mohon bantuannya.

  • bertuhan1 berkata:

    belajar pada sejarah maka pelajaran hikmah yang dipetik antara lain : (1) dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita harus berpola pikir -pola sikap -pola tindak yang benar seperti apabila kita hidup di negara RI yang berdasarkan PANCASILA yang ber-TUHAN ya jangan mengembangkan pola/fahan tidak ber-TUHAN, sebab pasti di tuduh makar/pengkhianat bangsa dan negara RI ini yang ber-TUHAN, akibat lebih lanjut orang orang yang sepaham tidak ber-TUHAN akan diganyang yang berfaham ber-TUHAN dan sebaliknya. (2)risiko orang yang berkhianat lebih lebih seperti kaum pki yang beberapa kali berkhianat pada negara dan bangsa RI ini ya yang menanggung dirinya bahkan anak cucu keturunannya dan sanak kadangnya.(2) apabila telah bertobat ya bertobat yang benar, tidak lalu sudah diampuni malah sekarang menulis di internet mempengaruhi / memprovokasi /menuntut lagi, wah berarti bila nanti terjadi tragedi kemanusiaan seperti di era 1965 ya jangan salahkan yang beraksi karena bereaksi dari aksi anda, ya to ?????
    SADARLAH DAN MARI MENATAP HARI DEPAN BANGSA DAN NEGARA RI YANG LEBIH MAJU DAN SEJAHTERA SERTA ADIL BERDASARKAN PANCASILA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Buru Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: