Petisi Pecas Ndahe

Februari 25, 2008 § 56 Komentar

Kabar itu saya peroleh dari Andry S. Huzain melalui email. Dia mengatakan ada sebuah petisi baru untuk mengeluarkan Budi Rahardjo dari agregator Planet Terasi.

Free Image Hosting at allyoucanupload.com

“Sumpah, bukan gw yang bikin. Gw sih senang2 saja dengan yg beginian, secara dunia blog makin lama makin membosankan. Dan, mengesalkan,” begitu komentar Andry.

Hahaha … tentu saja kita boleh setuju atau berbeda pendapat dengannya. Begitu juga dalam menyikapi petisi ini. Tapi, mari kita runut dulu persoalan dari awal, dari sangkan paraning dumadi, kenapa sampai muncul petisi itu.

Saya menduga semua ini berawal dari posting “tamparan” Budi pada dua blogger, yakni Adinoto dan Eep.

Kepada Adinoto dan Eep, kalau Anda tidak suka dengan blog saya silahkan tidak baca. Apa susahnya sih? Anda berdua selalu memberikan komentar negatif terhadap pribadi saya. Silahkan runut komentar-komentar Anda sebelumnya.

Benarkah, kedua blogger itu sering berkomentar negatif pada Budi? Kalau iya, apa sebabnya?

Dalam posting balasan terhadap tamparan Budi itu, Adinoto menulis:

Tidak ada satupun niat saya untuk bertendensi negatif terhadap sosok seorang Budi Rahardjo yang saya hormati. Apalagi diberikan julukan kehormatan selalu memberikan komentar negatif terhadap pribadi Pak Budi Rahardjo.

Menurut Adinoto, tuduhan Budi itu agak mengherankan karena Adinoto, meski pembaca setia blog Budi, dia jarang berkomentar. Kalaupun berkomentar, menurut Adinoto, itu masih dalam koridor bercanda.

Lah, lantas kenapa urusan jadi berbelit begini? Adakah free rider?

Mungkin iya, barangkali juga tidak. Saya merasa begini. Sepertinya ada orang yang sudah telanjur menganggap dan mengharapkan Budi sebagai sosok yang mencapai tingkat tertentu di ranah ilmiah. Tapi, kesan itu berantakan setelah mereka membaca blog Budi ternyata hanya berisi yang “itu-itu melulu”.

Ada harapan yang tak terpuaskan. Mungkin mereka merasa tertipu. Ekspektasi dan kenyataan ternyata tak berjalan beriringan. Golongan yang telanjur kecewa ini lalu menggugat.

Di sisi lain, Budi punya argumen yang sah juga. Ia toh berhak bikin posting apa saja. Ia tak harus mengikuti kehendak orang lain. Bahwa orang lain tak suka, itu urusan orang, bukan urusan Budi.

Pada titik ini saya setuju pada argumennya. Sebagai blogger kita memang berhak menentukan apa yang mau kita tulis dan posting. Saya bahkan sering memberi tahu pada kawan-kawan blogger agar menulis apa yang mereka inginkan, dan bukan yang orang lain inginkan. Nge-blog itu sangat personal. Orang berhak usul, tapi si blogger pun punya hak menolak. Begitu juga sebaliknya.

Bagaimana kalau orang lain tak suka posting buatan kita? Ya ndak usah baca. Cari saja blog dan blogger yang memenuhi keinginan sampean. Jangan pernah memaksa seorang blogger untuk melayani kepentingan kita. Kecuali si blogger dengan suka rela mengiyakan.

Tapi kan ada risiko khasanah blog jadi keranjang sampah? Loh risiko kan semacam itu kan bisa terjadi di mana saja. Bahkan di media konvesional sekalipun, seperti televisi dengan acara gosip dan pergunjingan itu. Kenapa khawatir?

Setiap blogger itu berhak menjadi apapun yang dia inginkan. Kalau ada yang mau membuat sampah, ya silakan. Mau bikin berlian juga tak dilarang.

Bedanya, di media konvesional seperti televisi ada lembaga semacam Komisi Penyiaran Indonesia, yang berhak menyemprit bila ada siaran yang melanggar aturan. Di khasanah blog, tak ada lembaga dan aturan itu.

Lalu bagaimana mengaturnya?

Pada akhirnya, blogger dan para pengunjung alias pembacalah yang membuat aturan sendiri dan menentukan rambu-rambunya. Blogger memakai ukuran etika nurani masing-masing. Begitu pula para pembacanya.

Buat saya, yang terpenting, semuanya memperoleh hak yang sama. Blogger punya hak membuat posting yang dimaui. Pembaca juga mendapat hak yang sama untuk setuju atau menolak, untuk membaca atau meninggalkannya. Kita syukuri hal ini sebagai perbedaan yang membawa berkah bagi kehidupan yang beragam.

Begitulah mestinya adab bergaul di ranah blog. Sesama blogger sebaiknya tak saling menghujat. Sebaliknya, sesama blogger sebaiknya saling mendukung dan menolong.

Lalu kalau ada yang mengusulkan agar seorang blogger ditendang dari sebuah komunitas?

Wah, kalau itu sih terserah pemilik perkumpulan komunitas yang bersangkutan. Saya ndak tahu apa dan bagaimana mekanisme perekrutan dan penendangan seorang blogger di sana. Yang penting konsisten dan jangan memakai standar ganda.

Menurut hemat saya sih, yang belum tentu hemat buat sampean, kita tak perlu meniru apa yang terjadi di domain politik dan berlaku di dunia kepartaian yang mempunyai mekanisme recall.

Blog toh bukan partai, yes?

Iklan

§ 56 Responses to Petisi Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Petisi Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: