Senja Pecas Ndahe
Februari 26, 2008 § 11 Komentar
Hujan mengguyur Jakarta. Dan senja pun berubah pucat kelabu.
Tapi, seseorang berkata lirih, “A thing of beauty is a joy forever … ”
Kutanya kenapa dia berkata begitu.
“Karena ada keindahan di balik hujan,” jawabnya.
Hidup dengan keindahan mungkin sesuatu yang bisa menyebabkan kita bersyukur, merasa cukup, tanpa menjadi serakah.
Hidup itu bergerak di dalam, jauh, seperti tatkala kita mendengarkan perubahan suara gerimis.
Oh ya. Aku ingat. Di Jepang kuno konon seorang daimyo biasa menjamu seorang tamunya dengan bersama-sama menyaksikan fajar.
Dan kemudian sang tamu, seorang samurai tentu, akan berkata, “Terimakasih atas fajar itu.”
“Yeah, begitulah. Because a thing of beauty is a joy forever … ” katanya sambil berlalu.
Renungan Pecas Ndahe
Februari 26, 2008 § 29 Komentar
Sebuah renungan untuk seorang Paman yang hari ini berulang tahun.
Tidak mudah memang jadi orang tua yang harus bersaing dengan anak-anak muda di abad iPod dan MacBook.
Tapi, jangan kau cemas Paman. Du liebes lenichen … kau akan bangkit dan bercahaya seperti bintang dan mentari …
Chincha Pecas Ndahe
Februari 25, 2008 § 38 Komentar
Cinta Laura (baca: chinca lawra) benar-benar magnet yang menyodot perhatian siapapun, termasuk para blogger. Bukan cuma wajahnya yang sedap dipandang, melainkan juga gaya bicaranya yang bagi sebagian orang dianggap aneh.
Pembicaraan tentang Cinta bertebaran di milis-milis dan blog. Tentu saja dengan semangat meledek bin cengengesan. Mereka menyorot bagaimana Cinta mengucapkan, misalnya:
* Aku gak suka dengan istilah boyfriend.. Aku lebih suka disebut teman dekat.. Teman buat punching, running, lari lari kecil…”
* “Not all beautiful people bisa menjadi famous”
* “Bahasa Indonesia saya buruk sekali, jadi Cinta will be going to Australia to improve Bahasa Indonesia Cinta”
* “Udah ujan, becek, gak ada ojek….”
* “Aku ada masalah dengan gastrow aku, jadi gak bisa puasa….”
Dan, para pembaca pun ngakak sekencang-kencangnya. « Read the rest of this entry »
Petisi Pecas Ndahe
Februari 25, 2008 § 56 Komentar
Kabar itu saya peroleh dari Andry S. Huzain melalui email. Dia mengatakan ada sebuah petisi baru untuk mengeluarkan Budi Rahardjo dari agregator Planet Terasi.
“Sumpah, bukan gw yang bikin. Gw sih senang2 saja dengan yg beginian, secara dunia blog makin lama makin membosankan. Dan, mengesalkan,” begitu komentar Andry.
Hahaha … tentu saja kita boleh setuju atau berbeda pendapat dengannya. Begitu juga dalam menyikapi petisi ini. Tapi, mari kita runut dulu persoalan dari awal, dari sangkan paraning dumadi, kenapa sampai muncul petisi itu.
Saya menduga semua ini berawal dari posting “tamparan” Budi pada dua blogger, yakni Adinoto dan Eep.
Kepada Adinoto dan Eep, kalau Anda tidak suka dengan blog saya silahkan tidak baca. Apa susahnya sih? Anda berdua selalu memberikan komentar negatif terhadap pribadi saya. Silahkan runut komentar-komentar Anda sebelumnya.
Benarkah, kedua blogger itu sering berkomentar negatif pada Budi? Kalau iya, apa sebabnya? « Read the rest of this entry »



