Mimpi Pecas Ndahe
Mei 30, 2008 § 61 Komentar
Mestinya cuma di Republik Mimpi yang beginian ini laris dicari orang. Karena cuma di ranah halusinasilah, janji-janji macam ini mampu membuai mereka yang tengah dicekik oleh hidup yang semakin sulit dan menekuk pinggang.
Tapi, saya kemudian maklum. Kita sedang hidup di masa yang kian sulit dan absurd. Jadi ya ndak heran bila ada orang yang mulai kehilangan akal. Main tabrak dan tubruk.
Ini soal kerinduan kepada siapa pun yang bisa berjanji mengubah keadaan, betapa pun mustahilnya. « Read the rest of this entry »
Deja Vu Pecas Ndahe
Mei 29, 2008 § 48 Komentar
Iwan Fals menendangkan lagu Galang Rambu Anarki (Opini) dengan pedih, 26 tahun silam. Hari-hari ini, syair lagu itu seperti sebuah deja vu …
Galang Rambu Anarki anakku
Lahir awal Januari
Menjelang pemiluGalang Rambu Anarki dengarlah
Terompet tahun baru
MenyambutmuGalang Rambu Anarki ingatlah
Tangisan pertamamu
Ditandai BBM membumbung tinggiMaafkan kedua orang tuamu kalau
(Tak mampu beli susu)
BBM naik tinggi (susu tak terbeli)
Orang pintar tarik subsidi
Mungkin bayi kurang gizi …
Lihat dan perhatikan. Setelah lebih dari seperempat abad, ternyata masalah kita masih sama: orang pintar tarik subsidi, harga BBM naik, susu tak terbeli, dan bayi-bayi kurang gizi.
Hari-hari ini sejarah berulang. Dan, sebetulnya kita tak pernah ke mana-mana. Jalan di tempat, bahkan sejak 26 tahun yang lalu.
Jadi untuk apa kita bikin pemilu, gonta-ganti presiden, dan pemerintahan, jika masalah yang sama tak pernah diselesaikan? « Read the rest of this entry »
Percakapan Pecas Ndahe
Mei 27, 2008 § 41 Komentar
Tadi pagi, di ruang tunggu sebuah kantor. Saya sedang menunggu giliran dipanggil ke depan meja layanan. Para tamu, sekitar sepuluh orang termasuk saya, sabar menanti di kursi.
Saya duduk persis di belakang sepasang (tampaknya sih) suami-istri berseragam sebuah departemen. Saya taksir usia mereka pertengahan 40-an. Suasana tak terlalu ramai sehingga saya bisa mendengarkan percakapan suami-istri dengan jelas. Dan, tanpa sengaja saya ikut menguping.
Begini petikan obrolan mereka … « Read the rest of this entry »
Lindu Pecas Ndahe
Mei 27, 2008 § 22 Komentar
Pagi ini, dua tahun yang lalu. Lindu mengguncang kota kelahiran, sangkan paraning dumadi, saya: Yogyakarta.
Di pagi yang kelabu itu, gempa datang seperti pencuri, tanpa tanda-tanda. Yogyakarta pun porak poranda dihajar gempa tektonik berkekuatan 5,5 pada skala Richter pada pukul 05.55 WIB. Lebih dari 5.000 orang meninggal dan ribuan lainnya luka-luka. Rumah-rumah lantak. Duh, Gusti….
Tak terasa, waktu bergulir begitu cepat. Hari berubah pekan. Pekan berganti bulan, lalu tahun. Dan kenangan tertinggal di belakang. Tapi, kengerian dan duka itu tak lekas pergi.
Pagi ini, saya ingin sendirian mengenang kembali peristiwa yang memilukan itu. Mengingat ibu yang sudah sepuh dan sakit-sakitan di kediamannya. « Read the rest of this entry »