Nguping Pecas Ndahe

September 19, 2008 § 73 Komentar

Pembeli Santun ke Penjual Sop Kaki: “Daging tiga sama kaki dua, udah itu aja. Eh, kakinya yang kanan ya!”
(Semua pengunjung tertegun)
Penjual Sop Kaki: “Mmmm, kenapa harus yang kanan, Pak?”
Pembeli Santun: “Yaaa, biar lebih sopan aja… Kakinya yang kanan gituuu!”

Ha-ha-ha … terus terang saya ngakak membaca potongan percakapan yang juga bisa sampean baca di blog Nguping Jakarta.

nguping jakarta

Masih banyak lelucon lain di blog yang relatif baru itu, Ki Sanak. Dia pertama muncul September ini. Kata pengasuhnya, entah siapa namanya, blog Nguping Jakarta adalah, “tempat berkumpul para dialog absurd yang berseliweran di kota Jakarta.” « Read the rest of this entry »

Contest Pecas Ndahe

September 18, 2008 § 22 Komentar

PhotoContestSampean suka memotret? Ayo ikut kontes foto Pesta Blogger 2008. Kontes foto ini merupakan bagian dari rangkaian acara Pesta Blogger 2008.

Melalui kontes foto ini, diharapkan akan muncul minat para fotografer, penikmat foto, atau kalangan industri foto berpartisipasi dalam ajang ini.

Tentu saja kontes ini didasari pertimbangan bahwa banyak fotographer – sekaligus blogger- yang selama ini bisa menjadi pewarta, tidak hanya dengan tulisan, tetapi juga dengan bahasa visual.

Ayo, tunggu apa lagi? Keluarkan kamera sampean. Segera hunting foto. Jangan lupa baca penjelasan tentang kontes foto ini blog PB08.

Baca juga syarat dan ketentuan untuk mengikuti kontes foto di sini. Selamat berburu foto.

Penculikan Pecas Ndahe

September 18, 2008 § 67 Komentar

Tiga nama terseret dalam sebuah pusaran sejarah dan terpelanting ke ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, kemarin.

Mereka adalah almarhum Munir, Desmon Junaedi Mahesa, dan Muchdi Purwoprandjono. Tiga orang ini memiliki satu kata yang menjadi benang merah hubungan mereka: penculikan.

desmon sang pembela

berita hari ini di koran yang tangkas dan cerdas

Munir, kita tahu, adalah aktivis hak asasi manusia yang terbunuh di atas pesawat Garuda Indonesia. Bersama beberapa aktivis, Desmon pernah diculik pada awal Januari 1998 dan dilepaskan pada 3 April 1998. Sebagai orang Kontras, Munirlah yang waktu itu memberikan advokasi kepada aktivis korban penculikan.

Siapakah para penculik mereka? Sejarah mencatat, beberapa anggota pasukan khusus Angkatan Darat (Kopassus) terlibat dalam penculikan itu. Para pelaku bahkan sudah divonis. Muchdi diduga kuat juga terlibat dalam aksi itu. « Read the rest of this entry »

Cek Pecas Ndahe

September 17, 2008 § 72 Komentar

Sampean pernah melihat cek? Bukan sembarang cek tentu saja, tapi cek pelawat yang setiap lembarnya bernilai Rp 50 juta?

headline koran yang ringkas dan cergas (10 september 2008)

Saya belum pernah. Rasanya banyak di antara sampean yang juga belum pernah.

Apa? Pernah? Halah. Sudahlah. Mengaku sajalah. Usahlah menipu. Kita toh sama-sama kaum rudin dari tanah gersang.

Kita bukan tuan-tuan terhormat di gedung beratap keong itu. Mereka jelas beda, terutama 41 orang yang namanya tercantum dalam daftar penerima cek @ Rp 500 juta.

Siapa sajakah mereka? Satu orang sudah mengaku. Namanya Agus Condro Prayitno dari PDI Perjuangan.

Empat puluh orang rekannya dari komisi yang sama belum juga mengacungkan tangan. Entah mereka menunggu apa. Mungkin wangsit. Barangkali keberanian … atau pemaksaan keterpaksaan. « Read the rest of this entry »

Laila Pecas Ndahe

September 16, 2008 § 47 Komentar

Haruskah kujual kenangan hanya untuk melihatmu tersenyum, Laila?

***

Tadi malam aku melihat purnama di atas Jakarta. Di atas, di timur, di tepi langit yang bersih. Di sampingnya, aku seperti melihatmu tersenyum, menjabal pandangku.

Purnama semalam memang bukan yang sempurna. Tapi, apa bedanya selama ada kamu di sana. Ya kamu: perempuan malam seribu rembulan paras cahaya bintang bidadari seribu janji khayali.

Aku mengenalnya pada pertengahan musim panas, tujuh purnama yang lalu. Angin tengah mendaras harap dan air memanjat doa ketika kita berjumpa.

Kau ulurkan tangan, lalu menyebut nama pelan. “Laila,” begitu kau memperkenalkan diri. Singkat. Padat. Jelas.

Matamu tajam menatap seperti hendak bicara, “Di sini, detik ini, hanya ada kau dan aku.” Tapi, tetap terasa kordial.

Aku terhenyak dalam pukaumu. Sinar terang manik-manik matamu mengingatkanku pada bait-bait liris Qays ibn al-Mulawwah yang syahdu itu: « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently viewing the archives for September, 2008 at Ndoro Kakung.