Sekolah Pecas Ndahe

Januari 29, 2009 § 79 Komentar

:: Untuk para orang tua yang sedang kerepotan mencarikan anak-anaknya bangku perguruan tinggi.

Syahdan, seorang anak bertanya kepada ibunya. “Sekolah itu apa sih, Bu? Mengapa aku harus bersekolah?”

Di pagi hari yang basah oleh hujan, sang Ibu tersenyum mendengar anaknya bertanya seperti itu. Ia menatap mata anaknya yang bening, seperti telaga di musim semi.

Sang Ibu lalu menjawab. “Dulu, konon, orang menyebut sekolah dari kata schole bahasa Yunani. Konon pula kata itu berarti semacam waktu senggang, kesempatan sang guru dan sang murid saling bertemu, memberi dan menerima. Kini, waktu senggang, saat untuk bermain justru semacam pengkhianatan terhadap sekolah.”

“Pengkhianatan? Apa maksudnya, Bu? Aku tak mengerti.” « Read the rest of this entry »

DikDoank Pecas Ndahe

Januari 27, 2009 § 79 Komentar

Lelaki itu memakai kaos jingga dan celana jins gombrong. Topi hitamnya menutupi rambutnya yang tipis dan pirang. Sebingkai kacamata bertangkai hitam ala Bono U2 nangkring di atas hidungnya.

Dengan bertelanjang kaki, lelaki itu berdiri di depan sekitar 40-an anak usia sekolah dasar, di tengah lapangan rumput nan menghijau. Matahari hampir roboh di barat.

KANDANK JURANK | Suasana belajar di Komunitas Kreatifitas Kandank Jurank Doang

KJD | anak-anak belajar di Komunitas Kreatifitas Kandank Jurank Doang

Sambil memegang mikrofon, lelaki itu meminta anak-anak yang duduk lesehan di atas rumput untuk mengeluarkan buku gambar.

“Siapa yang tahu ada berapa kitab yang kita kenal?” lelaki itu bertanya. “Ayo yang tahu maju ke depan.”

Seorang anak perempuan mengacungkan tangan, berdiri, lalu menuliskan jawaban di papan. “Benar atau salah anak-anak?” lelaki itu bertanya lagi dengan suara kencang. « Read the rest of this entry »

Gerhana Pecas Ndahe

Januari 26, 2009 § 18 Komentar

Gerhana matahari barangkali sebuah isyarat waktu. Langit begitu jauh dan purba. Hidup ibarat hujan, nyaman tapi sebentar.

Gerhana juga tanda kekuasaan Tuhan, dan manusia tak berarti di hadapan-Nya. Kita gentar oleh kekuasaan itu.

Tapi kita juga terhibur, karena sempat menyaksikannya dalam sisa waktu hidup kita yang cuma sebentar ….

:: Foto gerhana dipinjam dari situs Tempointeraktif.

>> Selamat hari Senin, Ki Sanak. Apakah sampean sempat melihat gerhana matahari cincin sore tadi?

Mimpi Pecas Ndahe

Januari 22, 2009 § 45 Komentar

Syahdan pada sebuah malam yang basah. Perempuan berkalung pelangi menunggang kereta angin, membelah jalanan lempang nan lapang di jantung Kota Cahaya menuju pulang.

Matanya menatap keluar jendela, memandang keredep sinar lampu-lampu neon yang bersicepat dengan gelap. Gedung-gedung jangkung berdiri jemu. Patung-patung kota melengkung lunglai ketika ia melewatinya.

Bulan sepotong mengintip di balik awan hitam. Angin mendesir-desirkan sunyi di dalam kabin. Imaji berkelebat silih berganti dalam benaknya yang masygul. Rusuh. Potongan-potongan adegan kehidupan berkelindan antara jemu dan riang, antara tawa dan air mata.

Dari pemutar musik di dekat kemudi mengalun suara Sting yang nglangut,

On and on the rain will fall
Like tears from a star like tears from a star
On and on the rain will say
How fragile we are how fragile we are
How fragile we are how fragile we are …

Kenangan perempuan berkalung pelangi melayang pada lelaki bermahkota mimpi yang pernah menjerat kupu-kupu dalam perutnya. Lelaki itu telah mengubahnya jadi kepompong, lalu masa hibernasi yang panjang. « Read the rest of this entry »

Obama Pecas Ndahe

Januari 21, 2009 § 90 Komentar

Krisis ini telah mengingatkan kita bahwa tanpa pengawasan yang ketat, kekuatan pasar bebas itu bisa terlepas dari kontrol, dan suatu bangsa tidak bisa makmur untuk waktu lama apabila hanya mementingkan orang kaya — Barack Husein Obama.

Dini hari itu, di batas antara malam yang sudah tak bisa disebut malam lagi, dan pagi yang belum datang, saya melihat lelaki itu berdiri gagah di atas mimbar. Parasnya berseri-seri, penuh percaya diri.

Jutaan mata menatap ke arahnya, termasuk saya yang menikmati penampilannya lewat layar kaca.

Dia Barack Husein Obama, Presiden Amerika Serikat yang ke-44. Rabu dini hari itu, ia dilantik dan mengucapkan sumpah. Setelah itu, ia menyampaikan pidato resmi pertamanya setelah dilantik.

Saya terkesima oleh orasinya yang penuh optimisme. Saya tersihir oleh semua bahasa tubuhnya tenang tapi begitu meyakinkan.

Kata demi kata, mengalir lancar dari mulutnya. Setiap kalimatnya seperti mantra bagi rakyat Amerika, dan para pengagumnya di seluruh dunia.

Untuk mengenang dan merawat apa yang dikatakannya, saya tayangkan lengkap isi pidato Obama dalam bahasa Indonesia di sini. Semoga bermanfaat. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently viewing the archives for Januari, 2009 at Ndoro Kakung.