Facebook Pecas Ndahe
Februari 17, 2009 § 144 Komentar
Ponari punya batu ajaib. Kita punya Facebook. Sama-sama irasional. Mereka yang percaya keduanya tak perlu saling mencemooh.
Begitulah pesan seorang kawan kepada saya pada sebuah pagi yang malas. Saya terhenyak ketika pesan itu memasuki Inbox dan saya membukanya.
Dalam hati saya bertanya-tanya, kenapa teman saya yang bermukim di sebuah pelosok desa di Bali itu bisa mengambil kesimpulan seperti itu?
“Itu perlunya Anda membuka cakrawala berpikir yang lebih luas,” kata teman saya itu.
“Oh, baiklah, Guru. Mohon murid yang masih banyak belajar ini diberi pencerahan,” begitu saya meminta pada orang yang sudah saya anggap sebagai guru spiritual pribadi itu.
Maklum, dia petinggi agama. Ia mengajarkan kebajikan dan moralitas. Saya menjura dalam-dalam padanya.
“Begini,” kata kawan saya itu. “Legenda tentang Ponari dan batu ajaib semacam itu ada di berbagai belahan dunia mana pun. Anda boleh percaya, boleh tidak.
Tapi kita hanya akan membuang energi kalau memperdebatkan hal ini sebagai takhayul, mistik, irasional, atau bahkan ‘ajaran sesat’, karena ada ‘dunia lain’ di sekitar kehidupan kita ini. « Read the rest of this entry »
Selingkuh Pecas Ndahe
Februari 14, 2009 § 107 Komentar
Apakah arti cinta dan keluarga yang bahagia? Benarkah keluarga yang berselimut cinta pun tak luput dari kisah perselingkuhan?
Paklik Isnogud hanya cengar-cengir ketika saya menanyakan perihal itu. Tanpa membuka mulutnya, dia malah berdiri, lalu membuka lemari di belakang meja kerjanya. Wah, ada apa nih, saya membatin.
Saya lihat Paklik mengambil sebuah tape recorder kecil, kemudian meletakkannya di depan saya.
“Dengarkan, Mas,” katanya.
“Oh, apa ini, Paklik?”
“Rekaman pembicaraan seorang konsultan perkawinan dengan seorang suami yang sedang digugat cerai oleh istrinya. Saya mendapatkannya dari seorang teman. Sampean ndak perlu tahu siapa nama konsultan dan pasiennya,” jawab Paklik seraya menekan tombol “play”.
Wah … pasti asyik nih, saya membatin.
Kami lalu duduk dengan tenang. Saya mengunci mulut rapat-rapat karena penasaran dan ingin segera mendengarkan isi rekaman itu. Mendengar perbincangan orang lain memang selalu menggoda perhatian saya. « Read the rest of this entry »
Ponari Pecas Ndahe
Februari 12, 2009 § 288 Komentar
Siapakah sesungguhnya Ponari? Dukun cilik sakti atau hanya seorang anak kecil di pusaran absurditas zaman?
Saya ndak tahu. Kabar yang berseliweran menyebutkan bocah lelaki berusia 10 tahun dari Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang, itu memiliki sepotong batu yang dipercayai mampu menyembuhkan aneka macam penyakit.
Entah bagaimana caranya, kabar kedigdayaan batu itu cepat menyebar. Orang berbondong-bondong datang meminta pertolongan kepada Ponari dan batu ajaibnya itu.
Pasiennya membanjir dari delapan penjuru angin. Surya Online melaporkan, “Jika sebelumnya rata-rata pengunjung 5.000-9.000, kemarin diperkirakan mencapai sekitar 15.000 orang.”
Dalam waktu sekejap, tak sampai sebulan, Ponari menjelma jadi sebuah brand yang menasional — mungkin efek viral marketing tanpa disengaja. Ia bagaikan sebuah mantra ajaib bagi mereka yang memercayai. Obat bagi sembarang penyakit.
“Membludaknya pengunjung juga bisa dilihat dari banyaknya sepeda motor dan mobil yang diparkir di jalan-jalan desa. Massa dan kendaraan yang parkir memenuhi radius sekitar satu kilometer dari rumah keluarga Ponari” — Surya Online.
Dari mana batu ajaib itu diperoleh? Konon batu ajaib berbentuk kepala belut sebesar kepalan tangan tersebut didapat awal Januari lalu, ketika Ponari disambar kilat. « Read the rest of this entry »
5cm Pecas Ndahe
Februari 11, 2009 § 66 Komentar
Saya ndak ingat betul kapan dan bagaimana saya berkenalan dengan anak muda itu. Saya cuma ingat pernah mengajaknya tetirah, menginap ke tempat peristirahatan pabrik saya di Megamendung, Puncak, Bogor, pada sebuah masa.
Dia datang bersama teman-temannya, rombongan. Saya juga beramai-ramai dengan handai taulan. Kami bahkan sempat nyanyi-nyanyi bareng di sana.
Tapi kami tak sempat berlama-lama bersama di sana. Karena keesokan harinya saya harus bekerja kembali, saya pun pulang lebih dulu. Anak muda itu ikut menumpang, bersama kawan perempuannya. Kami kemudian berpisah di seberang Ratu Plaza, Sudirman, Jakarta.
Tapi hidup ternyata punya kejutannya sendiri. Beberapa bulan kemudian, saya menerima sepucuk undangan pernikahan anak muda itu. Saya pun datang di tempat perhelatan, di sebuah masjid di Pondok Indah, Jakarta Selatan. « Read the rest of this entry »
Pewarta Pecas Ndahe
Februari 9, 2009 § 35 Komentar
Perlukah pewarta warga memiliki semacam kartu pers? Kalau iya, untuk apa? Siapa yang akan menertibkan seandainya terjadi penyalahgunaan?
Pertanyaan itu mengaduk-aduk perut saya seperti kupu-kupu yang hendak terbang setelah membaca posting Unspun.
Dalam posting itu, Unspun menyatakan kerisauan hatinya setelah para pewarta warga memiliki kartu anggota (ID card), seperti yang baru saja dibagi-bagikan oleh Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI). Kartu ini, katanya, berfungsi seperti halnya kartu pers bagi jurnalis profesional.
Mengapa Unspun risau? « Read the rest of this entry »
