Boediono Pecas Ndahe

Mei 16, 2009 § 93 Komentar

boediono pusingPenunjukkan Boediono sebagai calon wakil presiden yang akan mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono memicu kontroversi. Ia dianggap menganut paham neoliberal, antek asing, dan bertanggung jawab atas pengucuran dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia.

Benarkah Boediono pendukung neolib dan antek asing? Apakah dia bukan figur yang cocok menjadi pendamping pemimpin pemerintahan?

Saya ndak tahu. Tapi rasanya benar apa kata para ahli ekonomi dan orang-orang pintar yang berpendapat bahwa tantangan terbesar bagi Presiden Republik Indonesia mendatang — siapa pun dia — lebih banyak datang dari sektor ekonomi. Reformasi ekonomi masih jauh dari selesai. Angka kemiskinan masih cukup tinggi. Dampak krisis global akan terus berlanjut. Masalah tersebut harus mampu diselesaikan oleh semua kandidat yang ingin menjadi pemimpin pemerintahan.

Boediono, seorang teknokrat dan ekonom, dianggap Yudhoyono sebagai figur yang mempunyai kemampuan menjawab tantangan itu. Apa dasarnya? Doktor ekonomi bisnis lulusan Wharton School University of Pennsylvania, Amerika Serikat, itu sudah membuktikan kemampuannya di bidang moneter.

Ia, misalnya, dua kali berhasil โ€menjinakkanโ€ inflasi, musuh terbesar ekonomi Indonesia. Pada masa pemerintahan Megawati, sebagai Menteri Keuangan ia berhasil menurunkan inflasi dari 13 persen menjadi hanya lima persen.

Pada 2005, sebagai Menteri Koordinator Perekonomian pemerintahan SBY, ia memotong inflasi sampai separuh dari angka 17 persen. Rupiah menjadi lebih kuat. Fondasi pertumbuhan ekonomi pun semakin kuat.

Satu-satunya angka merah di rapor prestasi guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada adalah soal BLBI. Ketika menjadi Direktur Bank Indonesia: ia dianggap ikut menyetujui Bantuan Likuiditas Bank Indonesia kepada konglomerat pemilik bank pada 1997. Tiga direktur Bank Indonesia diadili dalam kasus ini. Eh ada satu lagi. Bapak yang santun ini sering dikritik terlalu lamban.

Bagaimana dengan tuduhan bahwa Boediono adalah penganut neoliberalisme dan antek asing?

Sebelum menjawab, baiklah kita baca-baca kliping koran dulu. Boediono, menurut koran-koran, ikut berperan dalam pengucuran Bantuan Langsung Tunai, tindakan yang dalam paham neoliberal dianggap intervensi serius terhadap ekonomi domestik.

Jangan lupa, Boediono pulalah yang justru membebaskan ekonomi kita dari utang Dana Moneter Internasional (IMF).

Ketika berpidato di Bandung Jumat lalu, Boediono mengatakan, “Perekonomian Indonesia tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada pasar bebas. Selalu diperlukan intervensi dengan aturan main yang jelas dan adil.”

Negara, kata Boediono, tidak boleh terlalu campur tangan sehingga menghilangkan kreativitas. “Tapi negara juga tidak boleh hanya tertidur. Untuk itu diperlukan pemerintahan yang bersih … pemerintahan yang bersih tidak hanya dipidatokan, tapi dimulai dari keteladanan kepemimpinan,” katanya.

Jadi apa dasar tuduhan bahwa Boediono itu neolib dan antek asing?

Entahlah. Setiap manusia punya warna sendiri-sendiri. Ia sekaligus memiliki kelebihan dan kekurangan. Tapi kita sering kali terjebak pada label-label yang menyesatkan — dan belum tentu benar. Kita kadang juga lupa menunda arti. Bahwa apa yang terlihat boleh jadi tak seperti yang kita lihat. And the show must go on

>> Selamat hari Sabtu, Ki Sanak. Apakah sampean sesungguhnya paham yang dimaksud neoliberal?

Iklan

Tagged: , , ,

§ 93 Responses to Boediono Pecas Ndahe

  • lindaleenk berkata:

    orang suka aja nyari kesalahan orang lain..
    -_-
    klo pun orang itu ga ada kesalahan…dicari aja apa pun yang bisa dituduhkan -_-
    *speechless lah saya*

    • Aslam berkata:

      semut di seberang lautan pun keliatan. kalupun tidak ada semut, ya dicari cari yang mirip semut. Lantas tereak “SemuuuuT”

      • almaokay berkata:

        Tapi saya juga jadi ingat,

        “terkadang cinta itu buta.”

        menjadikan seseorang tidak bisa melihat dengan obyektif hanya karena dia menyukai atau mencintai sesorang.
        kenyatan yang terkadang “pahit dan mengecewakan” memang cenderung membuat kita untuk menutup mata,telinga,mulut daripada mencari tahu dan akhirnya terluka.

        *ikutan specch less juga ah…..

        • Hengky berkata:

          setuju dengan pendapat anda.. cinta itu buta.. apalagi kalo udah jadi team sukses nya SBY BUDIONO.. apapun dilakukan demi kursi RI 1 dan 2..

          Percaya..

    • EA berkata:

      Ada yang bisa menolong memberikan deskripsi singkat tentang Neo Liberalisme?

      • Tongkonan berkata:

        kalau yang saya dengar dari seorang pakar ekonomi di TV kemarin. Dia bilang, singkatnya Neoliberalisme itu artinya paham yang menyerahkan sepenuhnya masalah perekonomian ke pasar global. Tolong dibenarkan kalau salah, maklum saya bukan anak ekonomi. ๐Ÿ˜€

    • anawia berkata:

      hanya dugaan saja.

      mungkin ia bukan seorang neolib tapi karena banyak orang yang menginginkan posisi sebagai cawapres jadinya banyak isu dilontarkan karena posisi itu malah diserahkan kepada orang bukan partai.

      bagaimana teman ada yang setuju?
      tidak pun tolong dijawab ๐Ÿ™‚

  • lantip berkata:

    uraian yang keren ndoro! ๐Ÿ˜€

  • masoglek berkata:

    saya nggak paham apa tuh neoliberalisme
    tapi saya agak nggak yakin ama Boediono, kan dia gak punya background politik sama sekali

    • juzztyas berkata:

      IMHO justru orang2 yang terlalu banyak background politik jadi banyak “hutang” politiknya juga ๐Ÿ™‚
      Meanwhile let’s see what they offer to us, and at the end of the day, siapapun yg terpilih menjadi presiden dan wakil presiden kita, smoga mampu membawa Indonesia menjadi lebih baik…
      amin.

  • masoglek berkata:

    semoga kalo terpilih di pilpres besok dia dapat membenahi perekonomian kita

  • KiMi berkata:

    Saya nda tahu apa arti neoliberal, Ndoro… Memang apa artinya ya? *bertanya*

  • odiboni berkata:

    Label ini mirip-miriplah dg label representasi OrBa & kekerasan oleh militer yg disematkan pada Wiranto dan Prabowo.

    Seolah-olah kandidat yg lain tak pernah jd bagian dalam militer.
    Bahkan Try Soetrisno yg disebut-sebut berada di balik beberapa pelanggaran HAM turut pula mendukung SBY.

    Dan soal representasi OrBa? Bukankah PKPB yg diketuai R. Hartono (Mantan KSAD) juga ada dalam koalisi dan partai ini pula yg sempat mengusung Mbak Tutut sebagai capres di pemilu 2004.

  • Aslam berkata:

    Waduh, kalau pak SBY dikritisi karena lamban (peragu) dan pak Boediono juga gitu, bagaimana ndorokakung? btw, siapapun terpilih moga berpihak pada blogger. wa ka ka!

  • gagahput3ra berkata:

    Neolib karena paham selain ekonomi syariah adalah asing, dan asing itu neolib ๐Ÿ˜›

    *memancing ikan*

  • afreeze berkata:

    kadang ketidaktahuan membuat orang hanya ikut arus.. seolah-olah dialah yang paling lurus dan benar..

  • handaru berkata:

    Fotonya “Ndorokakung bangetz”: pegang jidat MODE ON.

  • yangb berbudi SBY apa Boediono sih???
    ๐Ÿ™‚

  • Robertfel berkata:

    Hanya orang2 yang memiliki kepentingan politik atau kelompok yg berkoar-koar ttg keburukan Boediono. Kita lihat saja track record beliau selama hidup, tidak diragukan lg beliau cocok sbg wakil presiden.

    Lanjutkan !

  • Anton berkata:

    @Rusa Baweanโ„ข LOL
    berarti selama lima tahun terakhir ekonomi pemerintah benar di tangan JK dong, ya?

  • mesin kasir berkata:

    setelah baca pendapat faisal basri ttg boediono akhirnya juga saya pikir ada ketakutan berlebih ttg dia, cuman memang beda kalo yg diminta pendapat rizal ramli.. akhirnya saya coba buat perbandingan ke-3 cawapres itu http://ruanghati.com/2009/05/16/boediono-vs-prabowo-vs-wiranto-kilas-balik-dan-prospektus-cawapres-kita/ saya sependapat sama ndoro ttg pak boed

  • adhit berkata:

    dikit2 paham ndoro, tentang apa itu neoliberal… jadi lebih mengarah ke pasar bebas ya ndoro

  • kw berkata:

    gimana baiknya aja deh….yang penting rakyat bisa lebih fun… ๐Ÿ™‚

  • dudi berkata:

    tulisannya mantap ndoro!

  • Herman Saksono berkata:

    BLBI itu nggak salah dan bukan dosa. Yang masalah dan menimbulkan dosa adalah pelaksanaannya.

  • dhilacious berkata:

    i don’t even interest on any kind of politics.
    politic = catshit.
    hahhahaaha

    ampun ndoro. saya nyampah komen. :mrgreen:

  • Must Free111 berkata:

    Saya pikir orang yang menuduh itu terlalu gegabah…( Bukan gabah beras lho ) …sebab di negerinya mbahe liberal ( USA )sekarang udah tidak liberal banget….mau bukti …lha presiden Obama khan udah kasih bantuan ke perusahaan yang kolaps …( 700 Triliun lebih)
    Betul enggak..
    Lha kalau beliau udah pidato bahwa Ekonomi tidak boleh terlalu di intervensi pemerintah dan pemerintah tidak boleh lalai dalam pengawasan ekonomi pasar…apa lagi..? (ada titik keseimbangan to..?)
    Berarti para penuduh itu sangat Narcis, iri,dengki…atau barangkali enggak mampu.
    Ya tapi maklumlah namanya saja dunia politik..so…kita musti dewasa mana yang benar mana yang salah.
    Dan juga kita perlu belajar menyikapi komentar komentar yang bermuatan politik..
    Salam buat ndoro kakung yang tulisannya mantap…berkunjung ke tempatku ya ndoro.

    Salam

  • Allly Mulia berkata:

    Dari awal aku sudah prediksi SBY akan pilih Technocrat, entah siapa… karena dari presentasi kemenangannya diikuti oleh rekan koalisi yang lain mempunyai potensi kearah sana. buat aku sih sangat setuju….., bagaimanapun kepentingan negara harus lebih diutamakan, apalagi tantangan EKONOMI yang terlalu besar…, dan seyogyanya demikian pula buat partai koalisi lainnya. MR. BUDIONO sudah membuktikan kepiawaiannya, bisa dilihat dari TRACK RECORD dia selama ini. tentunya tidak salah bila akhirnya Bpk SBY memilih beliau.
    ” Satu harapan besar, bahwa ia akan konsisten dengan apa yang dikatakan beliau pada pidatonya kemarin (bersama SBY), dan RAKYAT AKAN MENUNGGU HASILNYA…..”

    Bravo SBY BerBudi.

  • zam.web.id berkata:

    kapan Indonesia bersatu?

  • almaokay berkata:

    Sebelum menjawab, baiklah kita baca-baca kliping koran dulu. Boediono, menurut koran-koran, ikut berperan dalam pengucuran Bantuan Langsung Tunai, tindakan yang dalam paham neoliberal dianggap intervensi serius terhadap ekonomi domestik.

    Benar!!!BLT memang mengesankan bahwa pemerintahan SBY(dan Boediono didalamnya) tidak sesuai dengan paham liberal dan seolah-olah memang BLT itu adalah program yang ujug-ujug datang dari langit tanpa maksud dan sebab.

    Sudah lupakah kita kalau BLT diberikan sebagai penghibur karena subsidi BBM dihapus?lupakah kita BLT diberikan karena subsidi minyak tanah dihapus?lupakah kita………..?

    dan masih juga lupakah kita bahwa salah satu CIRI KHAS NEO-LIBERALISME adalah penghapusan SUBSIDI bagi kebutuhan rakyat?

    jadi amatlah naif dan seperti menutup mata dan telinga kalau kita bilang BLT bertolak belakang dengan liberalisme karena justru BLT itu menunjukkan kaitan tidak langsung dengan ekonomi kapitalis.

    Jangan pula, Boediono pulalah yang justru membebaskan ekonomi kita dari utang Dana Moneter Internasional (IMF).

    So what???

    Jangan lupa boss,Indonesia masih tetap ngutang ke :

    1.Jepang
    45,5% atau 29.8 miliar USD* atau Rp 358 triliun

    2. ADB (Asian Development Bank)
    16,4% atau 10.8 miliar USD atau Rp 129 triliun

    3. World Bank (Bank Dunia)
    13.6% atau 8.9 miliar USD atau Rp 107 triliun

    4. Jerman
    4.7% atau 3.1 miliar USD atau Rp 37 triliun

    5. Amerika Serikat
    3.7% atau 2.3 miliar USD atau Rp 28 triliun

    6.Inggris
    1.7% atau 1.1 miliar USD atau Rp 13 triliun

    7.Negara/lembaga lain
    14.6% atau 9.6 miliar USD atau Rp 115 triliun

    utang indonesia membengkak dari 58,791 miliar USD di tahun 2001 menjadi 65,7 miliar USD di tahun 2009.

    (sumber : silahkan ubek-ubek sendiri di http://www.dmo.or.id)

    so bukan suatu prestasi yang amat ‘wah’ kalau hanya lepas dari IMF saja.

    cuilan fakta Indonesia(yang dibilang tulisan diatas berkat Boediono pula) bisa lepas dari IMF TIDAK BISA menjadi gambaran kehebatan Boediono seolah-olah dia menjadi pahlawan padahal sejatinya hutang yang ditanggung rakyat kita semakin tahun semakin bertambah banyak.

    Ketika berpidato di Bandung Jumat lalu, Boediono mengatakan, โ€œPerekonomian Indonesia tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada pasar bebas. Selalu diperlukan intervensi dengan aturan main yang jelas dan adil.โ€

    nah,kalimat ini justru menunjukkan bahwa Boediono secara implisit mengatakan bahwa memang ekonomi Indonesia saat ini sudah diserahkan ke pelukan liberalisme.Hanya Boediono mempermanis dengan kata-kata “tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada pasar bebas”.

    • Ndoro Kakung berkata:

      1. kaitan tidak langsung antara BLT dan ekonomi kapitalis itu gimana ya? saya ndak begitu paham soal ekonomi. mohon petunjuk.
      2. saya tak sedang menggambarkan boediono sebagai pahlawan kok. bahwa utang yang ditanggung rakyat semakin banyak, rasanya juga bukan karena ulah boediono bukan?
      3. saya kira boediono pun sebenarnya malah tak pernah peduli dia disebut liberal atau neolib. dia tak peduli label. tapi kenapa malah kita yang risau ya dan merasa harus memberi label?

      • leksa berkata:

        Saya suka jawaban ini ๐Ÿ˜€ …
        Disitu dia objektifitas nya,..
        Makasih mengingatkan Ndoro,..
        Bicara neolib, lalu dilemparkan ke Boediono…
        Not Fair…

        Padahal lihat saja capres-cawapres lainnya, mungkin trackrecordnya dalam kebijakan yg berbau Neolib. Apa mereka tidak punya andil terhadap semua kebijakan sistem yg mengarah ke liberal, sekaligus juga menambah hutang kita?

        Pikir… dan pikirr..

    • Ginatri berkata:

      Tapi dengan convert dari minyak tanah ke elpiji (yg berarti mengurangi subsidi) kita bisa menghemat 150 trilyun untuk APBN 2010. Lumayan banget kan? hehehe…

  • bodrox berkata:

    saya sendiri mengakui gaya pidato Boediono saat pengukuhan sebagai cawapres kemaren. keren.

    yah kalo dia ikut memimpin semoga ekonomi rakyat indonesia jadi lebih baik. rakyat gak peduli itu ekonom ekonomi neolib atau ekonomi kerakyatan. Rakyat cuma pengen ekonom yang bisa membuat keadaan ekonomi rakyat membaik. membaik secara real.

  • freezwords berkata:

    – mempertimbangkan… –

  • widi hermansyah berkata:

    Pak Boediono, jangan nambah hutang Indonesia lagi ya.

  • SBY BERBUDI berkata:

    […] Basri’s interesting pieces of his not being a neo-liberalist. You might also want to read Ndoro Kakung’s opinion about him. And, here is the reasons why SBY chose […]

  • mama endang berkata:

    Saya memang gak begitu ngerti dan faham tentang apa yg di maksud dengan ‘neolibralis’ makanya saya ikut pendapat orang yg saya anggap ngerti, yaitu idola saya bapak AMIN RAIS, beliau mengatakan pak boediono ikut faham ini, jadi saya nurut aja………saya memang hanya seorang istri biasa………………

    • WNI berkata:

      Ibu pasti baca buku ‘selamatkan Indonesia ” yaah ?
      keprihatinan kekayaan Negeri yg dikeduk asing,mestinya jd common sense bg semua anak bangsa.(soal tuduhan thdp pak Boed itu msh perlu digali lbh jauh).

      Kebayang gak seeh kalo kekayaan alam negeri udah hbs, mo ngapain kiteeee

  • hedi berkata:

    yg pasti buku2 kuliah ekonomi karangan boediono ga ada yg tebel, mungkin paling tipis sedunia, tapi susahnya minta ampun hahaha

  • Wazeen berkata:

    Jujur saya belum punya pilihan untuk pilpres mendatang Ndoro, pilihan yang ada sekarang adalah orang-orang yang lumpuh semua, tapi di antara mereka pasti ada yang pincang, all I can say, mengutip perkataan Buya Syafii Maarif “Pilihlah yang pincang di antara yang lumpuh.

  • rizal berkata:

    ga ngerti nih,
    neolib itu apaan yah ?
    yg pasti, jgn pilih budi anduk ! ๐Ÿ˜€

  • Ketika Boediyono dipilih justru menguatkan dugaan saya (dan isu2 yg berseliweran) bahwa alasan utama memilih wapres adalah yg bukan anak macan buat 2014. Karena tak begitu paham ekonomi, maka dicarilah cawapres yg pintar ekonomi tapi pendiam santun dan gak banyak cingcong. Karena pengalaman sebelumnya cukup melukai dan tidak ingin terulang kembali.
    Saya justru kuatir kewenangan wapres akan dipangkas habis sehingga kepintaran Boediyono hanya akan jadi pajangan krn pengambilan keputusan tidak ditangan.
    Itu hanya dugaan saya saja…

    • WNI berkata:

      Anak macan buat sapah di 2014 ? kan kalo mng di 2009 SBY gak bs maju lg di 2014.
      Sayah blh jg menduga dong ,gag bgt crtnya boss. SBY blh jd tulus mo ‘fight di bdg ekonomi di puteran kedua nya,nah pak Boed ini yg dianggap mumpuni.
      Tapi kalo ada yg berpendapat beliau dr sisi pandang berbeda ya boleh2 aja dong,asal memang di bedah dgn pisau yg tepat di tambah data pendukung yg akurat.

  • MOTROCOM berkata:

    Banyak baca berita, banyak mangkel.
    Sedikit baca berita, sedikit mangkel.
    Tidak baca berita, tetap mangkel.
    Beginilah Indonesiaku….

  • ahmad berkata:

    saya kok lebih sreg dengan budiono dibandingkan dengan yang lain. orang2 partai pada ngambek kan hanya pada pengen dapat kursi dan kedudukan. makanya mereka buat2 alasan menolak budiono. salah satunya dengan mengatakan dia itu neolib… satu alasan yang muncul hanya dalam diskusi2 dan bukan kenyataan sebenarnya

  • DV berkata:

    Orang-orang yang berada di tepi kiri selalu menganggap orang yang ditengah pun adalah orang tepi kanan, dan orang tepi kanan demikian pula adanya.

    Mereka yang pro arabisasi barangkali juga berpikiran sama, selain mereka, maka semua dianggap neo liberal.

    Terus terang aku ndak ngerti detail tentang neo liberalisasi, setauku liberal itu kan zodiak tho? (Eh itu Libra ya?) ๐Ÿ™‚

    • WNI berkata:

      diperjelas jo ! koq ke arab2 segale,mo dibawe ke igame neeeh ?
      ini cm pertanyaan : pak boediono itu track recordnye (nyang bakal menentukan ke dpnnye) pro rakyat atawe kagak,atawe malah pro pemodal.

  • DETEKSI berkata:

    selamat hari senin ki sanak, apakah anda sudah sowan ke boediono?

  • Odie berkata:

    whatttttttttttttttt?!! Boediono alumni Whartonn?!! KEREN ABIEESSSSSSSSSSSSSS!!!!

  • Budi Anduk berkata:

    Salut untuk tulisan kali ini.
    Intinya, : “Disandingkan dengan Budi Anduk saja pasti menang, apalagi dengan orang sekaliber Boediono, pasti menang banget”.

  • donyariya berkata:

    yah begitulah …
    memang kenapa sih kalau boediono ???

    wong kalau protes itu ngaca :p
    kalau udah ngaca dan ngerasa lebih baik yah coba dong di”adu”

    gak dewasa banget … pake label-in orang hehehe ๐Ÿ˜€
    tulisan yang bagus ndoro ๐Ÿ™‚

  • kombor berkata:

    Para ekonom dari dunia sono yang menganut ekonomi pasar atau yang suka disebut-sebut sebagai liberal, memang paling getol meminta Indonesia melepaskan subsidi BBM. Bukankah pesan itu datang dari IMF?

    Bukankah itu pula yang dilakukan pemerintah ketika terakhir menaikkan harga BBM? Subsidi dikurangi sangat signifikan. Akibatnya, rakyat semakin tidak memiliki daya beli.

    BLT, menurut saya bukan intervensi terhadap pasar. Jadi, menurut saya tidak relevan untuk menilai apakah Boediono neoliberal atau tidak karena dukungannya pada BLT. Sedangkan, pencetus BLT adalah JK.

    Apabila mau relevan, letakkanlah pada kebijakan ekonominya, apakah memilih pasar atau rakyat. Salah satu indikator, apabila pemilihan pasangan cawapres melulu melihat reaksi pasar baik asing maupun lokal melalui pasar modal, itulah salah satu cirinya menurut saya. Berapa banyak sih jumlah orang Indonesia yang main di pasar modal?

  • -tikabanget- berkata:

    emang apa salahnya tho kalo neolib?

  • pro dan kontra dalam dunia politk itu wajar lah dan sering terjadi, yang terpenting buat negara indonesia bukan untuk kepentingan diri sendiri, tapi kenyataanya sih kebanyakan untuk kepentingan diri sendiri ya…:D

  • boyhidayat berkata:

    tuduhan yang tidak mendasar, adalah komitment orang-orang tidak bertanggungjawab toh ?

  • grubik berkata:

    saya ndak mudeng apa itu neo liberal, ndor, saya taunya itu neo yang suka nyanyi rap itu..
    hananging, saya setuju kalo masyarakat kita itu suka sekali dengan label melabel yang lalu berkembang jadi prasangka, lalu gelut ra cetho karo tonggone….
    wis jyaan…

  • heri berkata:

    ada temen yang bertanya : pak bud (baca : budiono) ini apa dulu semasa kuliah di australi diajari tentang ekonomi mikro dan ekonomi pedagang kaki lima nggak?

    bagi saya pribadi itu pertanyaan yang sangat meragukan kapabilitas dari budiono yang sudah lama berkecimpung di bidang ekonomi di negeri ini, meski mungkin budiono belum pernah merasakan jadi pedagang kaki lima.

    saya percaya bahwa tentunya jika terpilih kembali, SBY pasti ingin mengakhiri masa kepemimpinannya dengan penutup yang manis, untuk itu saya juga yakin kalau SBY punya dasar yang sangat kuat kenapa dia mempercayakan budiono sebagai partnernya selama 5 tahun kedepan.

    jangan buru-buru berprasangka buruk

  • mie berkata:

    sbagai negara berkembang yg umurnya blum ada 1 abad,,sepertinya Indonesia masih memerlukan hutang luar negri. Tapi yg paling penting adalah bagaimana memanage hutang tersebut, mengendalikan inflasi, sehingga rakyat tidak merasa terbebani oleh harga2 yg mahal…

  • mas stein berkata:

    saya ndak mudheng ndoro, tapi kalo ada yang mbayar saya untuk tereak-terak anti neoliberal saya mungkin berangkat. mayan buat beli pulsa ๐Ÿ˜†

  • Zam berkata:

    mau neo-liberal kek, sosialis kek, pasar bebas kek, yang penting rakyat sejahtera!!

    bukan begitu bukan?

  • andrias ekoyuono berkata:

    Saya pribadi malah pusing dengan cap “neoliberalisme” ke Boediono.

    Kalo baca tulisan Jaya Suprana, siapapun yang jadi cawapres SBY pasti akan kena kritik.
    SBY-JK –> wah gak cuman hujan kritik, pasti jadi badai kritik
    SBY-Wiranto/Prabowo –> duet militer, militeristik
    SBY-Hatta Radjasa –> SBY didikte Amin Rais
    SBY-Mega –>Bu Mega gak mau kan ?
    SBY-Hidayat –> arabisasi,tidak plural, dll

    Jadi, saya rasa kita lihat saja gimana kiprah mereka selama dan setelah PilPres (kalau terpilih)

  • elexyoben berkata:

    Sabar Mister Boediono,
    kalo ada anjing menggonggong, tetaplah berlalu

  • tedy berkata:

    sistem ekonomi liberal ya menyerahkan mekanisme pasar kepada permintaan dan penawaran tidak ada intervesi dari pemerintah; tidak ada BUMN, bulog, subsidi jg gak boleh…..tapi negara amrik dan eropa sebenarnya masih mensubsidi para petaninya….jadi sebenarnnya didunia ini tidak ada negara yang menganut sistem liberal murni he he he……lawannya sistem ekonomi sosialis/marxisme dimana semua badan usaha dikuasai negara hasilnya dinikmati secara merata, pinter dan bodoh, rajin dan malas, profesinya apa saja gajinya sama he he he……

  • WNI berkata:

    Gak seru ah cm pd pake perasaan,normatif2 ajah.
    Ini urusan ekonomi negare,….super ruwet
    nah ngebeleknye pake piso ekonomi dong plus data dah (tulisan Faisal basri jg sangat personal normatip)
    ade yg mao ngebelek dimari ? kagak adakan ?
    disono ade yg ngedumel “inih bkn forum ekonomi wooooi”

    yawdah ah

  • edratna berkata:

    Biasalah ndoro, namanya kampanye…terkadang jadi ke arah yang enggak-enggak.
    Udah baca pendapat Faisal Basri, yang beredar di milis-milis?
    Dan sebetulnya apa sih yang dimaksud ekonomi kerakyatan?
    Bukankah sejak dulu ada progran KUT (Kredit Usaha Tani), sekarang KUR (Kredit Usaha Rakyat), ada kredit untuk petani, nelayan dan lain-lain?

    Sebetulnya, selain punya program, juga perlu adanya miles stone, bagaimana tahapan dalam mencapai program tersebut. Dan ini ditulis di media, dan dibandingkan antara ketiga calon tersebut. Nahh nanti, marilah kita menganalisis secara terbuka, diadu, mana program dan rencana implementasinya yang paling baik dan aplicable.

  • eska38 berkata:

    boediono adalah calon wakil presiden yang pas dengan sby sebagai calon presidennya. tanpa banyak bicara soal ekonomi kerakyatan, yang banyak diwacanakan oleh capres-cawapres lainnya, namun dalam kenyataannya ia sangat memperhatikan kondisi rakyat di lapisan bawah. sementara yang lain baru wacana, semata-mata untuk memikat rakyat agar pilih mereka. bagaimana wacana itu akan dilaksanakan belum jelas. apalagi kalau yang mewacanakan adalah capres-cawapres yang pengusaha besar. sby-boediono maju terus.

  • mariskova berkata:

    Label.
    Kayaknya label di negara ini tuh simbol keamanan berkomunitas ya?
    Kayaknya kok kalo tanpa label trus seseorang jadi merasa gak ‘belong’?
    Apa bedanya dengan si Bush yang you are either with us or against us?

  • Tongkonan berkata:

    Maju terus SBY-Boediono.

  • fadhli berkata:

    ada lagi yg bakal membuat kita ragu apakah boediono antek asing ato bukan adalah rumahnya. rumahnya di jakarta begitu sederhana, bahkan kursi di rumahnya pun ada yg udah bolong. coba liat di http://www.kaskus.us/showthread.php?t=1906595

  • Nazieb berkata:

    Yaaa.. mungkin gara-gara kuliahnya di Amerika, Ndoro..

    Coba kalo kuliahnya di Al Azhar, Mesir, pasti buanyak yang ndukung..

  • Mossack Anme berkata:

    Kata-kata Boediono tersebut kata Anis Matta (sekjen PKS) merupakan kata-kata hasil kontrak politik dengan PKS, jadi gimana Ndoro?

  • gwgw berkata:

    salam kenyal pak ndoro kangkung….
    sekenyal-kenyalnya ya pak……

    btw, gw masih tetep ngefans SBY-Boediono, mudah-2an pilihan gw gg salah pak…

  • gus ipul berkata:

    menarik ya?
    rupanya isu ini menaik buat bahan diskusi temen2
    terlepas dari pandapat neolib, bukan neolib, bahkan apa itu neolib, sampe bawa2 arab segala, -rasanya gak bakalan kelar-

    selamat deh!
    ni artinya kita amsih punya rasa “handarbeni” terhadap nasib bangsa ini.

    (jika obrolan ini masih lanjut, masih idup sampe setidaknya 2-3 tahun lagi, mudah2an masih)

    kita baru bisa tau siapa sebenarnya Boediono itu
    tapi smeentara itu kita batasi dulu kesepakatan kita bahwa:
    1. indonesia harus mandiri secara ekonomi
    2. indonesia gak di-dikte lagi sama (kebijakan) asing
    3. kekayaan hasil bumi (minyak, kayu, tambang) bangsa inidonesia adalah untuk kesejahteraan kemaksmuran dan kekayaan rakyat indonesia

    CATAT: dg 3 parameter itu,, praduga2 kita saat ini akan terjawab sudah.

    memang sih,, parameter tadi sangat subjektif, tapi gak papa lah,
    toh jawaban itu buat elu-elu pade (termasuk aye)

    jawaban buat direnungkan, atau mungkin,, buat disesali..
    qqq
    tatap SemanKa!!
    pesan sponsor: pilih pilpres sesuai hati nurani (minta petunjuk kapada Yang Maha Mengetahui)

    Oke choy!! (gaya khas budi anduk) menutup koment aye buat pak Boediono

  • Suharto berkata:

    Kalau hidup kita sekarang enak, kita teruskan. Tetapi kalau hidup kita sekarang susah, cari yang lain. Ini yang namanya usaha. Berpikir gitu loh.

  • adrian berkata:

    aku pilih boediono…..sip.

  • samsul arifin berkata:

    aku jadi semakin suka terhadap sosok boediyono ini.
    walaupun low profile, menurutku beliau itu cukup trengginas kok.
    aku pikir wajarlah, dalam menghadapi suatu masalah, dipikirkan masak2 terlebih dahulu, walaupun mungkin akan terkesan lamban nantinya.
    tidak seperti keputusan bu mega yang “sangat terburu-buru” menjual indosat, dan kenyataannya saat ini, kita tidak akan pernah mampu lagi memiliki indosat. sungguh keputusan yang “sangat terburu-buru”!!
    CMIIW.

  • pakar lampung berkata:

    235 juta jiwa rakyat Indonesia amat tergantung dengan keputusan yang bijaksana dari para penyelenggara Negara kita. Mereka, rakyat jelata tidak akan tahan bila keputusannya akan berbentuk trial and error.

  • ian berkata:

    kira” Boediono bener” pecas ndahe gak ya ๐Ÿ˜›

  • nusantaraku berkata:

    Ha…. begitu juga penjualan saham-saham Bank BPPN dengan murah…?

  • sing ngefans bang boed, monggo,
    sing kagak seneng ya kagak papalah, bebas, bebas saja.

    sing penting ntar om roy jadi menkoinfo…..siipppp

  • Den Bagus Sing Edan berkata:

    Sudah saatnya rakyat Indonesia dan para elite politik berfikir untuk bangsa. Kekuasaan hanya 2 x 5 tahun saja…itupun klo tuhan masih ” memberi izin untuk bernafas ” !!!

  • onde-onde berkata:

    …jgn cuma Boediyono aja yang di “pecas Ndahe” , SBY, Prabowo, Megawati, JK, Wiranto ..tp ini usul aja …pas acara TV-O** kemarin sepertinya lucu banget saat Diskusi Mega dengan Kadin…

  • Hani Putranto berkata:

    Saya mempunyai tulisan bagaimana mengidentifikasi neoliberalisme, judulnya “Cara Mudah Mengidentifikasi Neoliberalisme” di blog saya

  • pipinpramudia berkata:

    pertanyaannya kok sulit ya ๐Ÿ˜€

  • Brian berkata:

    Mungkin arti NEOLIBERALISME: Paham yang menyerahkan proses perekonomian ke pasar global dan SAYA SANGAT SETUJU tapi jangan diterapkan SEKARANG dan apa hasil yg kita peroleh sampe sekarang. Ini akibat kita jadi anak bangsa / bangsa yg gak punya prinsip dan kemandirian suka ikut ikutan, suka meniru, sok modern. Saya pengin pesan ama pak de pak de yg lagi ngributin paham ekonomi termasuk yg pecas ndahe yg konon mereka-mereka itu di kasih upah atau dibayar oleh kita (RAKYAT). Jangan cengengesan lagi, saudara di upahi oleh saudara-saudara kita yg sekarang lagi mandi keringat dan menahan lapar hanya pingin hidup agak lumayan gak usah hidup enak lah. Bikin paham ekonomi yg cocok diterapkan di negara, misal, Paham Ekonomi BEJOISME, HORASISME, INGA INGAISME terserah namanya apa…pokoknya nomer 1 rakyat miskin nyata merasakan efek positif dari paham yg saudara bikin dan terapkan. saya kasih contoh…(kalo keliru jangan marah). Gak usah bikin peasawat terbang atau apapun yang kira kira kita belum mampu untuk bersaing di pasar global. Mendingan kita berdayakan hasil2 bumi dan air kita…PERTANIAN, KEHUTANAN, KELAUTAN, dan harta yang terkandung di bumi kita, kita garap semaksimal mungkin. FOKUS ke hal tersebut. KITA PASTI TIDAK KELAPARAN, SEHAT JASMANI / ROHANI.
    (Ini Bukan Kita Kembali Ke Jaman Kuno Lho). “INGAT SEMUA ORANG BUTUH MAKAN” termasuk di pasar global.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Boediono Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: