Freeport Pecas Ndahe

Juli 16, 2009 § 53 Komentar

Papua, Freeport, dan penembakan adalah trio yang erat sejak 1970-an. Ada masalah kemakmuran, ketimpangan ekonomi, dan rebutan jatah keamanan.

cover koran tempoSebuah pesan pendek masuk ke telepong genggam saya pagi tadi. Pengirimnya seorang kawan lama, konsultan di sebuah departemen. Isinya singkat saja. Sebuah pujian.

“Keren bener cover koran hari ini. salut dan salam buat infografernya.”

Saya tersenyum, lalu membalas pujian itu seraya mengucapkan terima kasih. Padahal terus terang saya malah belum melihat seperti apa sampul yang dipuji itu.

Saya baru tahu setelah menemukan koran itu di meja kerja saya. Dan sepakat dengan penilaian kawan lama saya lewat SMS tadi.

Sampul itu bercerita tentang insiden penembakan di daerah yang terus mendidih sejak lebih dari dua puluh tahun silam, Papua. Aksi penembakan misterius itu memakan korban warga Australia dan sejumlah polisi lokal. Apakah gerangan yang sedang terjadi di bumi cendrawasih itu? Kenapa masalah keamanan selalu muncul di sana?

Terus terang saya belum pernah menginjakkan kaki di tanah Papua. Pengetahuan tentang tanah seberang itu saya dapatkan dari sumber-sumber sekunder, media, cerita orang, dan buku-buku.

Dari kliping media bertahun 1978, saya dapatkan cerita, antara lain seperti ini:

Tambang tembaga PT Freeport Indonesia di selatan pegunungan Sudirman, beberapa bulan terakhir ramai disorot pers Australia (dan Irian Jaya) karena gangguan keamanan di sana. Paling akhir, mingguan Australia The Bulletin 11 Januari memberitakan tertombaknya seorang polisi Indonesia yang sedang patroli. Untung nyawa anggota Polri itu, 2 tahun, masih dapat diselamatkan.

Sebelumnya, ada usaha meledakkan jalur kabel pengangkut bijih tembaga dari tambang di ketinggian 3000 meter ke pelabuhan Amamapare di tepi Laut Arafuru. Menurut majalah Australia itu, pemimpin OPM, Jakob Prai, menyatakan bertanggungjawab atas tindakan “sabotase” itu. Namun hal itu diragukan oleh seorang pegawai Freeport di Sydney. Katanya, gangguan keamanan datangnya dari penduduk sekitar “yang hanya bersenjata panah.” Sementara peledakan jalur kabel hanya di lakukan “dengan dinamit dari gudang tambang sendiri.”

Berbagai gangguan keamanan itu juga diungkapkan harian Sydney Morning Herald. Katanya, ada telex direksi Freeport Indonesia ke markas besarnya di New York, yang melaporkan tentang pemotongan kabel telepon, gangguan terhadap pipa minyak dan jalur kabel, blokade di jalan logistik serta peledakan instalasi tambang di Tembagapura itu.

Presdir PT Freeport Indonesia, Ali Budiardjo SH tak bersedia menanggapi berita pers Australia tersebut. “Itu wewenang aksus, Kowilhan, atau langsung tanya ke Hankam saja,” katanya di kantornya di tingkat 26 Wisma Nusantara, Jakarta.

Brigjen Daryono, Kapuspen Hankam mengakui ada “semacam gangguan dari penduduk sekitar tambang.” Tapi, katanya, hal seperti itu bisa saja terjadi di mana-mana, sebab ada sebagian masyarakat merasa dirugikan oleh proyek tersebut.

Aha, kita mendapat beberapa kata kunci: “freeport,” “gangguan”, “keamanan”, “sabotase”, “polisi,” dan “hankam”. Sekadar informasi, yang dimaksud dengan “hankam” adalah Departemen Pertahanan dan Keamanan.

Nah, sekarang perhatikan berita masa kini tentang Papua dan Freeport.

Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) mendesak Kepolisian untuk mengusut dan mengungkap kasus-kasus kekerasan di Papua. TNI diminta untuk tidak cepat menyimpulkan bahwa itu adalah gerakan separatis.

“Polisi harus menyelesaikan kasus-kasus itu tanpa melibatkan tudingan dari TNI terhadap Organisasi Papua Merdeka,” kata Koordinator Kontras Usman Hamid melalui sambungan telepon, Rabu (15/7) malam.

Menurut Usman, kasus-kasus kekerasan yang melibatkan senjata api tidak bisa didiamkan. Selain TNI dan polisi, lanjut Usman, senjata api juga bisa digunakan oleh intelijen sipil BIN. “Hingga saat ini belum ada kontrol senjata api. Peredaran senjata api begitu mudah sekarang,” ujarnya.

Usman menyatakan eskalasi kekerasan di Papua meningkat sejak pemilihan legislatif April lalu, di antaranya pembakaran bus karyawan PT Freeport 8 Juli, penembakan yang menyebabkan warga Australia Drew Nicholas Grant meninggal pada 11 Juli, hingga penembakan lima anggota Brimob 15 Juli di Timika.

Menurut Usman, banyak kemungkinan yang bisa terjadi di sana. Pertama adalah rivalitas TNI dan Kepolisian dalam bisnis keamanan, terutama yang menyangkut PT Freeport. Kedua, untuk menunjukkan bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak mampu menjaga keamanan Papua.

“Kemungkinan lain, ini adalah pengalihan isu yang dilakukan rezim SBY karena tengah dicecar soal DPT (daftar pemilih tetap),” kata dia. Menurut Usman, pola ini banyak terjadi pada masa Orde Baru ketika Soeharto berkuasa.

Di luar kemungkinan-kemungkinan motif itu, lanjut Usman, yang paling penting adalah pengusutan dan pengungkapan kasus-kasus kekerasan yang meningkat.

“Presiden seharusnya menegaskan yang punya wewenang adalah polisi dan meminta TNI tidak mengeluarkan pernyataan pelakunya adalah gerakan separatis,” kata dia.

Kata-kata kunci yang sama ternyata masih muncul, hidup sepanjang waktu. Dengan kata lain, sejak Freeport mengeduk tembaga dan emas di Papua hingga sekarang, masalahnya masih sama.

Apa yang bisa kita simpulkan? Apakah gangguan keamanan akan menghilang seandainya Freeport tak ada di sana? Akankah Papua lebih aman jika tak ada perusahaan asing?

>> Selamat hari Kamis, Ki Sanak. Apakah sampean bisa membantu saya memahami dan mengurasi isu keamanan di Papua?

Iklan

Tagged: , , , , ,

§ 53 Responses to Freeport Pecas Ndahe

  • atmtukang berkata:

    papua ato irian jaya?

  • Chic berkata:

    ga Ndoro, selama kesenjangan sosialnya masih merupakan jurang lebar dan dalam, gangguan keamaan itu tidak akan menghilang begitu saja. Yang dituntut kan masalah kesejahteraan penduduk, bukan ada atau tidaknya freeport di sana. 😐

  • Mampukah Juragan Presiden Indonesia menghadapi masalah ini,,??

    Kita Liat saja bagaimana kelanjutan dari episode “Freeport Berdarah” ini Juragan Ndoro..hehe..

    Salam Perubahan..

    Salam Anak Bangsa..

  • oy.. Tumben nih bisa coment di nomor” kecil..hehe..

    Salam Perubahan Juragan Ndoro..

  • masrub berkata:

    semoga ada perubahan yg lebih baik lagi…

  • Audi berkata:

    Saya juga kurang begitu mengerti, Ndoro. Kemungkinan sih mereka menuntut kemerdekaan dari Indonesia. Caranya seperti di Irak. Mereka menyabotase apapun itu. Dan yang mungkin menurut mereka mudah adalah dengan mengganggu Freeport.

    Kalau tujuan mereka adalah untuk merdeka. Ada Freeport atau tidak, tetap saja akan ada aksi-aksi yang seperti ini.

    *sok tahu mode on*

  • kenyo berkata:

    judul koran temponya sangat menantang…..

  • KangBoed berkata:

    WAAAAAKAAKAKAKAK.. HARTA KEKAYAAN NEGERI YANG TIDAK DINIKMATI BANGSA SENDIRI.. KABUUUUURRRRRRRRRRRRRRRR
    SALAM SAYANG

  • DV berkata:

    Dimerdekakan saja, pigimana?
    Yang terkadang menarik untuk saya pikirkan adalah kenapa seperti tidak ada effort untuk mengangkat isu kisruh Papua seperti halnya Kalla pernah sukses mengangkat isu Aceh di Helsinki!

  • nika berkata:

    setuju sama mb chic. sebagai perantau yg pernah 15 tahun di papua kesenjangan sosial adalah hal utama yg jadi masalah. termasuk kemudian munculnya gerakan separatis saya rasa juga karena kesejahteraan masy lokal yg rendah sementara pendatang termasuk bule2 itu banyak menikmati kekayaan alam mereka.

  • ladybugfreak berkata:

    bukan masalah ada atau ga ada nya freeport, lha kalo kesenjangannya masih tinggi gitu perusahaan apapun tetep berpotensi menimbulkan gangguan keamanan.

  • soulharmony berkata:

    KUNJUNGAN dari kalsel

  • BerryBerry berkata:

    Pertama adalah rivalitas TNI dan Kepolisian dalam bisnis keamanan, terutama yang menyangkut PT Freeport.

    ini masalah yg paling masuk akal..urusan perut..hehehe

  • kangfiki berkata:

    masalah di Papua memang sangat kompleks ndor, dimulai dari trikora, sumberdaya alam yang kaya sehingga menjadi santapan koorporasi multinasional, hingga perasaan berbeda ras (Melanesia) yang kontras dengan suku lain di Indonesia, juga desentralisasi pembangunan. Sehingga pendekatannya pun harus melalui banyak sudut pandang
    Dan setuju, salah satu faktor yang paling penting adalah kesenjangan sosial dan termarjinalisasi dari pembangunan juga (mungkin) perasaan telah “dirampok” oleh Freeport.

  • duadua berkata:

    Dari kliping media bertahun 1978, saya dapatkan cerita

    ===
    wuih hebat ndor,masih punya yang seperti itu.
    punya banyak bank data ya ndor?

  • kanglurik berkata:

    Papua…. Sungguh indah alam disana. Laut, karang, dan hutan.
    Tetapi misteri selalu menyelami daerah disana….

  • kolojengking berkata:

    Kata kuncinya mungkin kesenjangan ndoro, selama masyarakat di papua tidak puas dengan bagi hasil yang diberikan dari pengelolaan tambang oleh PT Freeport, mungkin selama itu pula banyak insiden terjadi…. 🙂

  • masoglek berkata:

    kasihan rakyat Papua ya, kaya sumber alam tapi tak pernah menikmatinya

  • plukz berkata:

    wah ndoro

    ini sepertinya ada upaya – upaya mendiskreditkan sodara – sodara kita di Papua. biar rame, nggak damai – damai.

  • […] Wicaksono, blogger yang bekerja sebagai wartawan Tempo, judul artikelnya selalu mengandung kata “Pecas Ndahe”; dari blognya aku tahu bahwa ngeblog itu semudah menulis dua kata pecas ndahe. […]

  • andie berkata:

    ga ngerti apa-apa niih ndoro tentang ginian.
    😀

  • Oelil berkata:

    Memang kesenjangan sosial tampaknya yg menjadi pemicunya. Atas alasan apapun…kesenjangan sosial dijadikan dasar “pergerakan”..
    siapa yg setuju hayo…

  • nuragus berkata:

    Tidak pernah ada dalam sejarang, tanah kaya, indah, damai… pasti berdarah..

  • kupatahu28 berkata:

    Kita sama2 berdoa saja untuk ketentraman dan kedamaian papua khususnya, indonesia umumnya..

  • wahyu am berkata:

    pakde sama omku kerja difreeport ndoro 😥

  • dobelden berkata:

    Kalau saya sempat ngobrol sama orang papua, bahwa yg terjadi disana adalah masalah kesenjangan ekonomi utamanya, ganti rugi tambang freeport berupa duit karungan membuat warga penerimanya bingung gunain itu duit, ketika duit abis, mereka bingung ga punya mata pencaharian, sedang tanah yg di ganti rugi itu sekarang sudah menjadi sumber uang yg melimpah dan tidak dinikmati oleh orang lokal kecuali hanya limbah…

    Itu di news Flash TVOne, ada info ribuan karyawan tertahan ditembaga pura.. piye jal?

  • widi berkata:

    Salam Kena Ndoro.. kayaknya lebih aman bangsa ini harus bisa gantiin freeport. Jadi pengelolanya pribumi mdh2 an aman. Kalo masih dar der dor… yah ktrlaluan dah…

  • saya jadi keingetan pas ke papua dulu. ga di timika sih, tapi di sorong.
    suasananya sebenernya indonesia banget. dan penduduk asli juga friendly.

    sayang banget kalo mereka dibikin mendidih karena insiden2 yang ga selesai2 ituh.

  • banyak orang serakah yang ingin menguasai papua. soalnya papua seperti tambang yang gak bakalan ada abis abisnya. kalaupun papua gak ad perusahaan lain maka yang terjadi malah peperangan saudara. maaf jika salah berkomentar.

  • lerry060183 berkata:

    berita terbaru ledakan bom marriot dah baca belum nih 😉

  • lerry060183 berkata:

    bagaimana komentar anda tentang ledakan bom marriot

  • om ipit berkata:

    yuk sama2 nonton permainan catur, sambil minum kopi kothok plus rokok klobot di depan tipi, sama mami papi. 🙂

  • Pemilih.com berkata:

    Ndoro Kakung: Freeport Pecas Ndahe…

    Aha, kita mendapat beberapa kata kunci: “freeport,” “gangguan”, “keamanan”, “sabotase”, “polisi,” dan “hankam”. Sekadar informasi, yang dimaksud dengan “hankam” adalah Departemen Pertahanan dan Keamanan.
    Nah, sekarang perh……

  • ferdinan berkata:

    Ketimpangan sosial, dimana pemerataan ekonomi dan ketidak adilan adalah sumber masalahnya

  • Ana berkata:

    Berdasarkan info dr fb teman yg tinggal di tembagapura:sudah beberapa hari ini tidak ada sayur karena blokade logistik, mengenai penyebabnya mereka tidak mengetahuinya hanya tau dari koran dan tv (kaya top secret ajah)

  • Affan berkata:

    Dimana ada kekayaan alam melimpah, dapat dipastikan masyarakat di sekitarnya menderita – fenomena di Indonesia.

  • Jauhari berkata:

    Jadikan Negeri ini lebih Indonesia dengan mengolah SDA kita dengan tenaga dan team hasil SDM sendiri.. kurangi PORSI ASING

    Kita bisa karena kita pikir bisa…. 😉

  • edratna berkata:

    Saya beberapa kali ke Papua, dan penduduk asli ramah2 sekali. Hanya beberapa gelintir orang yang terkadang terlihat mabuk dijalan jika lewat jam 10 malam (hal biasa bukan?)….Jalan yang menghubungkan bandara Sentani-Jayapura hanya satu, ditempuh dalam waktu satu jam…melewati jalan berkelak kelok…dipinggir danau dan kemudian laut.

    Sebetulnya ada niat ke Papua awal Agustus ini, tapi akhirnya saya dan teman membatalkan acara, melihat situasi belakangan ini, serta memilih berdiskusi lewat email saja dulu.

  • zuliadyazwin berkata:

    Hm, sejauh yang ku tau, pak wicaksono mungkin anda terlalu sok tahu.

  • antown berkata:

    bikin infografis butuh kemampuan yang tinggi serta kerjasama tim. salut buat koran tempo yang selalu inovatif dan berani dengan ide-ide barunya

  • afreeze berkata:

    satu hal yang mereka inginkan hanyalah kemerdekaan. entah kemerdekaan yang seperti apa….

  • hendito berkata:

    nah kapan penggunungan sudirman akan dikelola oleh pemerintah indonesia langsung dengan pegawai dari rakyat indonesia sendiri?

  • adrian berkata:

    freeport adalah bentuk penjajahan terhadap papua….

  • kang dadang berkata:

    sebenarnya sudah banyak apbn yang disetor ke tanah papua tapiii semuanya menguap oleh oknum pejabat yang notabene orang papua sendiri. pelmerintah ya tidak bisa apa 2 penegak hukum tak bisa apa2 juga, kpk tak bisa apa2 juga karena takut terjadi kerusuhan, pergolakan yang menuntut merdeka. posisi serba sulit bagi pemerintah.

    dari seorang pns di wilayah barat indonesia.

  • magai berkata:

    Freeport merupakan akar masalah papua mengapa? karena kontrak karja pertama dengan pemerinta indonesia pada tahun 1967 pada tahun itu papua di bahwa pemerintahan nedelan belanda atau saat itui papua sudah merdeka pada tahun 1961 dengan adanya freeport itulah pepera pada tahun 1969 menjadi rekajasa oleh pemerinta A.S dan bangsa indonesia karena kepentingan Ekonomi. dan masalah di papua itu sampai kapan pun tidak akan pernah padam itu merupakan ideologi pemimpin oleh di bunuh oleh pemerintah tapi ideologinya kemerdekaan bangsa papua barat tidak akan perna padam kemerdekaan dalam arti luas bahwa papua merdeka bebas seperti bangsa-bangsa lain di muka bumi ini sebagai mana lasimnya….. otsut itu uda gagal bukan jawaban bagi rakyat papua,pemekaran bukan lagi solusi, jadi kerdekaan itu yang dituntut oleh rakyat bangsa papua barat……………………

  • djitoe17 berkata:

    freeport ..notabene jelas perusahaan asing…dan utk cr aman orang2 lokal dlm hal ini
    SDM dr tanah air di pakai utk tameng…smua bs berjalan krn saling kompen utk beberapa aspek menguntungkan bagi para pihak berkepentingan pribadi & golongan….. menurut sy sangt di sayangkan bl indonesia tidak mengelolanya sendiri putra bangsa sangat banyak dan bs utk dapat membangun asalkan pemerintahan di negri indah benar2 bersih

  • front kemanusiaan berkata:

    kasian ya rakyat papua, mereka di jajah bangsa indonesia, dijajah ama negara miskin, ck ck ck…. kekayaan mereka di rampok amerika, segelintir pejabat negeri ini menikmati kekayaan yang sangat luar biasa besar itu pun sangat kecil dibandingkan kieuntungan freeport yang bisa membuat amerika jadi negara adidaya…, sungguh – sungguh malang mereka (rakyat papua)dijajah indonesia, yg notabene negara babunya amerika, hmm

  • fuad berkata:

    mas, bisa minta referensi buku tentang PT Freeport, apa sajalah, yang terkait, PT Freeport, soalnya saya lagi nyusun skripsi tentang pembuangan limabh PT Freeport, sebelumnya saya mengucapkan terima kasih,

  • Berita Terbaru berkata:

    Saat ini isu yang sedang hanga2nya juga tentang freeport, pemerintah Indonesia terkadang tidak bisa mengambil sikap yang tegas!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Freeport Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: