Montara Pecas Ndahe

Maret 8, 2010 § 25 Komentar

Pagi di Laut Timor. Jarum jam menunjukkan pukul 05.30 waktu Australia bagian Barat pada 21 Augustus 2009. Di tengah samudera yang sepi itu, sebuah kecelakaan tiba-tiba terjadi. Anjungan Sumur Montara, unit pengeboran bergerak West Atlas yang berada 140 mil laut sebelah utara pantai Australia Barat, menyemburkan hidrokarbon tanpa kendali, memicu kebakaran.

Kebakaran di Ladang Montara di Blok West Atlas, Laut Timor, perairan Australia posisi 12041’S/124032’ T mengakibatkan kebocoran. Sedikitnya 400 barel (64 ton) minyak mentah ringan mengalir ke permukaan samudera dan gas hidrokarbon lepas ke atmosfir setiap hari.Β Ada versi lain yang menyebut tumpahan minyak mentah itu mencapai 500 ribu liter. Angka ini tergolong cukup besar. Dampak pencemarannya mencapai ke kawasan pantai selatan Pulau Rote dan Pulau Timor bagian selatan.

Dalam senyap, jauh dari riuh-rendah konflik politik di Senayan, invasi lingkungan pun diam-diam telah mengendap dari selatan. Adakah di antara kita yang menyadari ancaman itu?

Mungkin hanya segelintir orang. Barangkali juga ada beberapa aktivis lingkungan yang langsung membunyikan alarm tanda bahaya. Yang jelas tumpahan minyak mentah itu kemudian memasuki perairan Pulau Rote yang terletak di wilayah paling selatan Indonesia. Kehidupan biota laut, termasuk rumput laut yang dibudidayakan secara besar-besaran di Rote Ndao, dalam bahaya.

Para nelayan tradisional di wilayah itu pun terancam. Mata pencaharian mereka sebagai pencari ikan terganggu, seperti ditunjukkan oleh video ini.

Pemerintah Australia pun bergerak cepat. Sejak awal kebocoran, pemerintah Australia berupaya meminimalisasi dampak lingkungan akibat pencemaran minyak bersama Otorita Keselamatan Maritim Australia (AMSA).

Operasi dilakukan dengan pelbagai cara, termasuk upaya pemulihan dan penyemprotan dispersan dengan target tertentu. Dispersan mempercepat pelapukan dan penghancuran biologis minyak di laut dan tidak menyebabkan minyak untuk tenggelam ke dasar laut.

Pengawasan terus menerus oleh AMSA kabarnya tidak lagi menemukan adanya aliran minyak ke samudera sejak kebocoran minyak dari anjungan sumur Montara berhasil disumpal pada 3 November. Oleh karena itu, pengawasan udara dihentikan pada 28 November.

Benarkah laut yang tercemar minyak itu sudah benar-benar bersih? Siapakah yang akan mengganti kerugian yang sempat diderita oleh nelayan tradisional?

Saya ndak tahu. Pemerintah Australia dan Indonesia masih terus membahas lebih lanjut mengenai dampak dan penanganan pasca insiden Montara. Ada negosiasi ganti rugi dan sebagainya. Masih belum jelas benar bagaimana kelanjutan kasus ini. Di laut, ternyata selama ini kita terlena. Dan tak berdaya.

>> Selamat hari Senin, Ki Sanak. Apakah sampean sebelum ini pernah mendengar kasus Montara?

Iklan

Tagged: , , , , , ,

§ 25 Responses to Montara Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Montara Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: