Klakson Pecas Ndahe

Maret 9, 2010 § 50 Komentar

Pemain sinetron disangka menganiaya seorang pria hanya gara-gara klakson. Kemacetan telah membuat sumbu frustrasi jadi pendek?

Insiden itu terjadi pada Minggu, 7 Maret malam lalu. Menurut situs Okezone, pemain sinetron Rio Reifan terlibat cekcok dengan Pribadi Gunawan di kawasan Jatinegara. Cekcok dipicu oleh klakson yang dibunyikan Pribadi Gunawan terhadap mobil Rio yang berada di depannya.

Karena diklakson seperti itu, Rio pun naik pitam dan langsung menghampiri Pribadi Gunawan yang saat itu berada di dalam mobilnya. Bersama sang kakak, Rio mengeroyok Pribadi yang berada di balik setir mobilnya. Akibatnya, Pribadi pun babak belur.

Kenapa orang mudah naik pitam?

Jakarta mungkin memang kota yang muram. Penuh sumpah serapah. Penduduknya mengumpat setiap saat. Jakarta mirip nujum yang pernah dinyanyikan Simon dan Grafunkel dengan lirih, seperti melamun, “Hello, darkness …”

Ada yang bilang, banyak orang Jakarta yang terganggu jiwanya karena menderita stres, putus asa, dan frustrasi. Penyebabnya bisa kemiskinan, korupsi, diskriminasi, kebodohan, kekerasan dalam rumah tangga, ketidaksabaran. Mungkin juga oleh sebab lain. Saya ndak tahu.

Jakarta, juga kota-kota besar lain di Indonesia, memang seperti tak pernah sabar. Klakson memekik-mekik di jalan. Kemiskinan, juga korupsi, merajalela. Di sisi yang lain, banyak orang yang kian rakus dan suka merampas hak orang lain yang lebih lemah.

Lalu orang mengeluh. Kita juga. Berapa kali sampean mengeluh dalam sehari? Sekali, dua kali, sepuluh, atau berkali-kali? Apa sebabnya? Bangun kesiangan. Hujan deras. Ndak bawa payung. Jalanan becek. Angkot penuh. Jalanan macet. Nyaris diserempet Metromini yang ugal-ugalan ketika hendak menyeberang, dan seterusnya.

Begitulah, Ki Sanak. Kita mengeluh setiap saat, melontarkan makian begitu menemukan hal-hal yang tak kita sukai. Kita merasa orang lain, segala sesuatu di luar diri kita, tak pernah beres, tertib, dan rapi. Dan kita mengeluh.

Padahal ada yang bilang keluhan itu tak mengubah apa pun. Jadi daripada mengeluh, lebih baik berbuat sesuatu, dimulai dari diri sampean sendiri.

Seperti kata Maya Angelou, “If you don’t like something, change it. If you can’t change it, change your attitude. Don’t complain.”

Ah, seandainya saja Rio dan Pribadi pernah membaca ujaran Angelou, insiden di Minggu petang itu mungkin tak perlu terjadi.

>> Selamat hari Selasa, Ki Sanak. Sudah berapa kali sampean mengeluh hari ini?

Iklan

Tagged: , , , , , ,

§ 50 Responses to Klakson Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Klakson Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: