Mengapa orang antre beras?
Februari 23, 2024 § 1 Komentar
Mengapa tiba-tiba muncul banyak berita tentang orang antre beras? Apakah beras memang langka atau hanya naik harganya saja?

Benarkah antrean beras sekadar praktik fear mongering?
Fear mongering adalah praktik menyebarkan ketakutan dan kekhawatiran yang berlebihan untuk memengaruhi persepsi publik atau memanipulasi keputusan dan perilaku masyarakat.
Praktik ini sering digunakan dalam berbagai konteks, seperti politik, iklan, berita, dan media sosial. Dengan memanfaatkan kecemasan atau kekhawatiran yang sudah ada dalam masyarakat, pelaku fear mongering menciptakan persepsi ancaman yang dibesar-besarkan atau tidak berdasar, dengan tujuan untuk memobilisasi opini publik, meningkatkan dukungan terhadap kebijakan tertentu, atau memengaruhi perilaku konsumen.
Fear mongering bisa berdampak negatif pada masyarakat, menyebabkan stres, kepanikan, atau tindakan yang tidak rasional berdasarkan ketakutan daripada fakta.
Isu-isu yang sering digunakan untuk fear mongering mencakup berbagai topik yang dapat memicu kekhawatiran atau ketakutan di kalangan masyarakat.
Berikut adalah beberapa isu utama yang biasanya dipakai:
1. Keamanan Nasional: Ancaman terorisme, perang, konflik militer, atau kekerasan internal sering digunakan untuk menimbulkan ketakutan akan keselamatan pribadi dan keamanan nasional.
2. Imigrasi dan Pengungsi: Isu imigrasi dan pengungsi biasanya ditampilkan dengan cara yang menimbulkan ketakutan tentang “invasi” atau perubahan demografis, yang diklaim akan mengancam pekerjaan, keamanan, dan identitas budaya lokal.
3. Kejahatan dan Kekerasan: Berita atau informasi tentang kejahatan, seperti perampokan, pembunuhan, atau kekerasan seksual, dapat digunakan untuk menakut-nakuti masyarakat tentang keamanan pribadi mereka.
4. Kesehatan dan Pandemi: Isu kesehatan, terutama selama pandemi seperti COVID-19, dapat digunakan untuk menimbulkan kepanikan atau ketakutan akan penyakit, vaksinasi, atau efek samping dari tindakan kesehatan masyarakat.
5. Perubahan Iklim dan Bencana Alam: Ancaman perubahan iklim, seperti naiknya permukaan laut, kebakaran hutan, atau bencana alam, dapat digunakan untuk menciptakan ketakutan akan masa depan planet dan kesejahteraan generasi mendatang.
6. Ekonomi: Isu ekonomi, seperti inflasi, pengangguran, krisis pangan atau keuangan, sering digunakan untuk menimbulkan ketakutan akan kemerosotan ekonomi, kehilangan pekerjaan, atau kemiskinan.
7. Identitas dan Nilai Budaya: Isu yang berkaitan dengan identitas agama, etnis, atau budaya, termasuk perubahan nilai-nilai sosial atau moral, sering digunakan untuk memicu ketakutan terhadap “erosi” identitas atau nilai-nilai tradisional.
8. Teknologi dan Privasi: Kekhawatiran atas privasi data, pengawasan, atau dampak negatif teknologi pada kehidupan sosial dan pekerjaan bisa digunakan untuk menciptakan ketakutan terhadap perkembangan teknologi.
Isu-isu ini biasa dipresentasikan dengan cara yang mengandalkan emosi daripada fakta, dan ditujukan untuk memanipulasi opini publik atau perilaku dengan menimbulkan rasa takut dan kekhawatiran.
Dalam konteks politik, praktik fear mongering umumnya digunakan untuk beberapa alasan, antara lain:
1. Mobilisasi Pemilih: Politisi atau partai politik bisa saja menggunakan fear mongering untuk memobilisasi pemilih dengan menciptakan rasa takut terhadap isu tertentu, seperti keamanan nasional, imigrasi, atau ekonomi. Rasa takut ini dimaksudkan untuk mendorong pemilih untuk mendukung mereka yang menjanjikan solusi terhadap ancaman tersebut.
2. Pengalihan Perhatian: Dengan mengalihkan fokus publik kepada ancaman atau masalah tertentu, politisi dapat mengalihkan perhatian dari isu lain, seperti skandal atau kegagalan kebijakan. Ini memungkinkan mereka untuk mengendalikan narasi dan menjaga citra positif di mata publik.
3. Pembentukan Identitas Grup: Fear mongering dapat digunakan untuk memperkuat identitas kelompok dengan menonjolkan “kami” versus “mereka”. Dengan menggambarkan kelompok lain sebagai ancaman, politisi dapat memperkuat solidaritas dalam kelompok mereka sendiri dan menarik dukungan berdasarkan identitas bersama.
4. Legitimasi Kekuasaan: Dalam beberapa kasus, menimbulkan ketakutan dapat digunakan sebagai cara untuk melegitimasi penggunaan kekuasaan atau kebijakan yang represif. Dengan meyakinkan publik tentang kebutuhan tindakan luar biasa untuk melindungi mereka dari ancaman, elite politik dapat memperluas wewenangnya dengan sedikit perlawanan.
5. Manipulasi Emosi: Manusia secara alami merespons kuat terhadap emosi seperti takut. Politisi yang menggunakan fear mongering bermain pada respons emosional ini untuk mempengaruhi opini dan perilaku pemilih, dan biasanya lebih efektif daripada argumen rasional atau data faktual.
Praktik ini, meskipun efektif untuk mencapai tujuan jangka pendek tertentu, biasanya memiliki dampak negatif jangka panjang terhadap kohesi sosial, kepercayaan publik terhadap institusi, dan kualitas diskursus demokratis.
Praktik fear mongering memiliki pengaruh yang signifikan pada masyarakat Indonesia, mirip dengan dampaknya di banyak negara lain.
Pengaruhnya dapat dilihat dalam beberapa konteks berikut:
1. Polarisasi Politik: Di Indonesia, fear mongering sering digunakan dalam politik, terutama selama periode pemilihan. Isu-isu seperti identitas etnis, agama, dan sosial-ekonomi digunakan untuk menciptakan ketakutan dan memperdalam polarisasi di antara penduduk. Ini dapat memengaruhi perilaku pemilih dan memperkuat loyalitas kelompok, tetapi pada saat yang sama, mengikis dialog dan toleransi antarkelompok.
2. Media dan Informasi: Media sosial dan platform berita online memainkan peran penting dalam penyebaran informasi yang memicu ketakutan, seperti berita palsu (hoax), teori konspirasi, dan informasi yang menyesatkan. Dampaknya terhadap masyarakat cukup kuat, karena dapat memengaruhi persepsi publik terhadap isu-isu penting dan memicu reaksi massal yang didasarkan pada informasi yang tidak akurat atau salah.
3. Respons terhadap Krisis Kesehatan: Dalam konteks pandemi COVID-19, misalnya, fear mongering baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja terkait dengan informasi yang salah tentang virus, vaksin, dan tindakan kesehatan, telah memengaruhi perilaku masyarakat. Ini termasuk keengganan untuk vaksinasi, penolakan terhadap protokol kesehatan, dan stigmatisasi terhadap mereka yang terinfeksi.
4. Keamanan dan Konflik Sosial: Isu keamanan nasional dan konflik sosial juga sering kali diperparah oleh praktik fear mongering, yang dapat meningkatkan ketegangan dan konflik antarkomunitas. Ini mempengaruhi keharmonisan sosial dan kepercayaan antar kelompok di masyarakat.
Meskipun sulit untuk mengukur secara eksak pengaruh fear mongering dalam angka atau statistik spesifik, dampaknya terhadap polarisasi sosial, kepercayaan terhadap institusi publik dan media, serta kohesi sosial, menunjukkan bahwa praktik ini memiliki kekuatan yang signifikan dalam membentuk dinamika sosial dan politik di Indonesia.
Upaya untuk meningkatkan literasi digital, memperkuat jurnalisme berkualitas, dan mendorong dialog antarkelompok adalah beberapa cara untuk mengurangi dampak negatif dari praktik fear mongering.
Karena itulah, mengenali praktik fear mongering dan mengetahui cara menghadapinya sangat penting untuk memastikan kita tidak mudah terpengaruh oleh upaya manipulasi informasi.
Berikut ini adalah beberapa cara untuk mengenali dan menghadapi praktik fear mongering.
Cara Mengenali Fear Mongering
1. Periksa Sumber Informasi: Informasi yang memicu ketakutan sering berasal dari sumber yang tidak kredibel atau anonim. Periksa keandalan sumber sebelum mempercayai atau menyebarkan informasi.
2. Identifikasi Bahasa yang Digunakan: Fear mongering biasanya menggunakan bahasa yang emosional, kata-kata yang menghebohkan, atau pernyataan yang absolut tanpa nuansa. Kata-kata seperti “bencana”, “invasi”, atau “kehancuran” sering digunakan.
3. Cari Bukti dan Fakta: Informasi yang digunakan untuk menimbulkan ketakutan sering berlebihan atau tidak didukung oleh bukti. Selalu cari data dan fakta untuk memverifikasi klaim yang dibuat.
4. Perhatikan Konteks: Informasi sering disajikan tanpa konteks yang lengkap, yang bisa mengarah pada interpretasi yang salah. Cari informasi tambahan untuk mendapatkan gambaran penuh.
Kiat Menghadapi Fear Mongering
1. Jangan Langsung Bereaksi: Ambil waktu untuk menenangkan diri dan berpikir secara rasional sebelum merespons informasi yang memicu ketakutan.
2. Lakukan Riset Sendiri: Cari informasi dari berbagai sumber yang kredibel untuk mendapatkan perspektif yang berimbang tentang suatu isu.
3. Gunakan Logika dan Akal Sehat: Pertanyakan motivasi di balik penyebaran informasi tersebut. Apakah ada yang mendapat keuntungan dari penyebaran ketakutan?
4. Diskusikan dengan Orang Lain: Berbicara dengan orang lain, terutama mereka yang mungkin memiliki perspektif atau pengetahuan yang berbeda, dapat membantu memverifikasi informasi dan mengurangi pengaruh ketakutan.
5. Tingkatkan Literasi Media dan Informasi: Mempelajari cara mengenali teknik manipulasi dan bias dalam media dan informasi dapat membantu Anda menjadi lebih tahan terhadap upaya fear mongering.
6. Fokus pada Tindakan Positif: Alih-alih merasa tak berdaya, cari cara untuk bertindak positif terhadap masalah yang dikhawatirkan. Ini bisa membantu mengurangi rasa takut dan memberikan rasa kontrol.
Dengan mengenali tanda-tanda fear mongering dan menggunakan kiat ini, Anda dapat lebih baik melindungi diri dari manipulasi dan membuat keputusan yang lebih informasi dan rasional.
Paham, Kisanak?
Sangat miris melihat harga beras terus melambung tinggi, untuk harga di Jogja sudah tembus 17.000 per kg