Coin Pecas Ndahe

Desember 18, 2008 § 38 Komentar

Selalu ada dua sisi mata uang. Begitu kata pepatah-petitih kehidupan. Karena hidup mengajarkan ada saat menerima, ada kalanya pula kita memberi.

saatnya berbagi dan memberi, coin a chance

Sampean juga bisa memberi, mengulurkan sesuatu kepada orang lain dengan pelbagai cara. Salah satunya dengan bergabung ke dalam gerakan sosial Coin A Chance.

Apa itu? « Read the rest of this entry »

Mawar Pecas Ndahe

Desember 17, 2008 § 36 Komentar

Lanskap itu seperti mural-mural muram di dinding gereja Santo Basilika. Burung-burung berkelintaran dalam diam. Tumpukan perdu yang rebah. Daun-daun pucat. Laut yang beku. Sapuan warna pastel nan banal.

Perempuan mawar merah berdiri tegak menatap lanskap itu dengan hati rusuh. Air matanya merabas ke pipi. Badannya meretek ditikam hawa dingin. Hatinya renyek oleh kenangan yang pahit. Kenangan tentang lelaki pecinta mimpi yang pernah memetik rembulan dan bintang ke pangkuan.

Kenangan itu berawal pada sebuah musim semi, ketika lelaki pecinta mimpi hendak mengajaknya berlawalata ke ujung cakrawala — ke tanah nirmala. “Aku ingin kau menemaniku menghabiskan sisa hidupku,” begitu lelaki pecinta mimpi memberinya janji.

Tapi janji itu ternyata tak pernah ditunaikan. Langkah mereka berhenti begitu saja di tengah jalan tanpa tanda-tanda apa pun sebelumnya. Tujuan bahkan belum ada separuhnya. « Read the rest of this entry »

Linux Pecas Ndahe

Desember 16, 2008 § 41 Komentar

Linus Torvalds, si pencipta Linux, buka bisnis penerbangan di Jakarta? Apakah sistem reservasi tiketnya juga memakai Linux?

Linus Airways

Agen penjualan tiket Linus Airways di Jalan Panjang, Jakarta.

Tentu saja tidak. Meski namanya mirip, Lintas Nusantara (Linus) Airways milik orang Indonesia asli. Baru tadi pagi saya memperhatikan sebuah ruko yang melayani pemesanan tiket Linus Airways, walaupun nyaris setiap hari melintas di Jalan Panjang, Jakarta Barat. Basbang ya? Hehehe … « Read the rest of this entry »

Murung Pecas Ndahe

Desember 15, 2008 § 27 Komentar

Mereka datang dari pertikaian berpuluh musim yang lampau. Tubuh-tubuh yang renta dari negeri air mata.

Matahari, juga rematik, wazir, dan encok, mengeremus tubuh mereka. Keriput telah mengentara di kulit mereka.

Mereka berjumpa di sebuah tempat pegadaian jiwa. Jiwa-jiwa yang terluka kemudian bersekutu dengan sepi.

Sepi telah meranggaskan mereka di ujung senja. Senja menelan waktu. Satu demi satu, seperti puisi murung T.S. Eliot. « Read the rest of this entry »

Golput Pecas Ndahe

Desember 14, 2008 § 75 Komentar

Siapakah sebenarnya golongan putih alias golput itu? Anak kandung atau anak haram demokrasi

golput haram

Berita di Tempo Interaktif

Entah. Saya bukan bapak atau ibunya. Saya cuma merasa bahwa “memilih atau tak memilih” itu sebuah kebebasan. Ini soal kemerdekaan kita sebagai manusia yang hidup di negeri yang katanya demokratis. Apakah kemudian kemerdekaan ini harus diberi label halal atau haram?

Dalam rembang petang yang temaram, Paklik Isnogud mendengarkan pertanyaan saya itu seraya menatap langit yang muram. « Read the rest of this entry »