Gembok Pecas Ndahe
April 4, 2008 § 45 Komentar
Headline harian Warta Kota hari ini.

Saya jadi ingat kisah lawas dari balik tembok keraton dan taman sari zaman dulu. Setiap kali sang raja atau sultan pergi berperang, celana dalam permaisuri dan gundik-gundik dipasangi gembok. Kuncinya dikantongi raja.
Bayangkan, bagaimana kalau mereka mau pipis atau pup? Pakai pampers? Lah kalau rajanya pergi berbulan-bulan, apa pampers itu ndak penuh?
Pengamat Pecas Ndahe
April 4, 2008 § 17 Komentar
Kutipan dialog ngeselin di blog sebelah …
“Dia itu pakar, Mas,” jawabnya.
“Pakar? Pakar itu apa, sih? Setahu saya, pakar itu orang yang mempunyai keahlian dalam bidang ilmu tertentu, seperti biologi, kimia, atau fisika. Dia punya kompetensi tertentu. Memangnya orang yang sampean maksud itu benar-benar menguasai ilmu tertentu? Jangan-jangan hanya karena tahu sedikit tapi berani berpendapat, lalu dia dijuluki pakar?”
“Nggak tahu, sih, Mas. Saya cuma ikut-ikut menyebut dia pakar.”
“Kalau begitu, jangan lagi menyebut dia pakar dong….”
“Wah, jadi apa, dong? Pengamat?
Silakan klik di sini untuk membaca lanjutannya.
Dialog Pecas Ndahe
April 3, 2008 § 64 Komentar
Para blogger yang baik,
Roy Suryo baru saja mengirimkan SMS mengenai rencana dialog terbuka dengan para blogger. Isinya, yang juga ada di berita di situs Okezone, begini:
Dab, barusan kupastikan Jumat, 18 April 2008, adalah waktu yang tepat untuk Dialog Terbuka tersebut, tadi sudah kukoordinasikan dgn mbak Sarie dari Okezone/MNC. Semoga OK.
Tapi, aku belum tahu di mana tempat pelaksanaannya. Entar kuinfo lagi bila sudah OK ya to? Yg jelas semua berniat baik dan perlu diapresiasi bersama, ya to? Kalau bisa blogger2 positif hadir.
Jadi nantikan bagaimana sejarah akan ditulis kelak, dua minggu sepekan lagi. Harap bersabar dan tunggu informasi selanjutnya.
Bersiap-siaplah saja, tapi ndak usah bawa parang. Bawalah niat baik, serta pikiran, ide, gagasan, yang cemerlang. Kita bukan hendak berperang, melainkan melakukan dialog. Siapkan diri seandainya nanti terjadi perbedaan. Tak perlu memaksakan diri untuk menjadi sama. Perbedaan itu berkah, rahmat bagi kehidupan.
Salam dan selamat malam Indonesia …
UPDATE: Ternyata Roy Suryo kembali mengirimkan SMS kepada Sarie. Begini isi kopian SMS yang saya terima pada pukul 19.36 WIB…
Mbak Sarie, maaf sekali sebelumnya. Sehubungan dengan aktualnya topik & saya melihat kepentingan yg lebih besar dibalik ini semua, maka — kebetulan karena mendadak saya tgl 18/4 berhalangan — sebaiknya acara saresehan kita “Menumbuhkan Citra Positif Blogger” di-MAJU-kan Jumat 11/4 saja. Ok?
Oalah, Roy … Roy … Jadi catat ya, 11 April 2008, di Universitas Budi Luhur, Jakarta.
>> NB: Tiba-tiba saya baru ingat belum makan sejak tadi gara-gara ngurusin soal ini. Apes, dah …
Duel Pecas Ndahe
April 3, 2008 § 115 Komentar
Sejarah rupanya harus bersabar dan menunggu untuk sementara waktu. Undangan duel dialog terbuka antara Roy Suryo dan blogger di Universitas Budi Luhur, Jakarta, terancam batal. Kenapa?
Setelah membaca undangan terbuka itu, saya segera mengontak Roy Suryo. Dia mengaku belum pernah dikabari siapapun mengenai undangan itu. Kebetulan, pada hari yang sama, ia harus berangkat ke Gorontalo untuk mengajar di Magister Ekonomi Publik, UGM, di Gorontalo. « Read the rest of this entry »
Kesengkarutan Pecas Ndahe
April 3, 2008 § 16 Komentar
Whereof one cannot speak, thereof one must be silent – Ludwig Wittgenstein.
Di setiap masa nampaknya selalu ada saat yang tak mudah untuk berbicara, tapi juga tak gampang untuk diam. Kita tak tahu pasti bagaimana persisnya kata-kata akan diberi harga, dan apakah sebuah isyarat akan sampai.
Di luar pintu, pada saat seperti ini, hanya ada mendung, atau hujan, atau kebisuan, mungkin ketidak-acuhan. Semuanya teka-teki.
Perlukah kita mencerca dia? Haruskah kita melempang-lempangkan garis kata-kata yang dibuatnya secara bengkok?
Mungkin tidak. Karena toh setidaknya kita masih membutuhkan pembicaraan dengan diri sendiri. Kita tidak hanya bertindak. Setiap tindakan memerlukan penghalalan. « Read the rest of this entry »
