Ahmadiyah Pecas Ndahe
Februari 7, 2011 § 79 Komentar
Lapangan Wenceslas, Praha, tahun 1969. Di tengah hari musim dingin Januari, seorang lelaki bernama Jan Palach datang. Ditanggalkannya jas panjang yang ia pakai, disiramkannya bensin ke seluruh tubuhnya, lalu dinyalakannya korek api. Dalam beberapa detik, api membakar badannya.
Tiga hari kemudian ia mati.
Di saku jasnya ditemukan secarik kertas dengan tulisan: ”…ini dilakukan untuk menyelamatkan Cekoslovakia dari pinggir jurang ketiadaan harapan.”
Tragedi yang menggetarkan itu saya baca dari tulisan Goenawan Mohamad.
Palach adalah mahasiswa filsafat. Umurnya baru 21 tahun. Ia membakar diri sebagai bentuk protes pendudukan Soviet yang dengan mengirim tank dan tentara hendak meneguhkan sistem komunisme kembali di Cekoslovakia dan membungkam rakyat yang menginginkan liberalisasi. « Read the rest of this entry »
Mesir Pecas Ndahe
Februari 4, 2011 § 36 Komentar
Rakyat Mesir tampaknya harus berterima kasih kepada Ujjwal Singh — dan Google. Berkat inovasi Manajer Produk Google untuk Timur Tengah dan Afrika Utara inilah pemblokiran Internet oleh pemerintah Mesir bisa ditembus. Para pengguna Twitter dapat terus berkicau tentang situasi negeri yang tengah bergejolak itu ke seluruh penjuru dunia.
Pemblokiran saluran komunikasi yang dimulai pada 28 Januari itu adalah salah satu cara membungkam suara rakyat yang menentang pemerintah Husni Mubarak. Rakyat menuntut Mubarak yang telah berkuasa selama 30 tahun mundur dari jabatannya. Mereka menggunakan, salah satunya, Twitter sebagai sarana komunikasi dan menggalang kekuatan.
Akibat pemblokiran itu, seluruh jaringan Internet di Negeri Piramida tersebut padam total. Para penggunanya tak bisa mengakses ranah mayantara. Informasi perihal demo berdarah yang sebelumnya mengalir lewat jejaring sosial, baik Twitter, Facebook, maupun Skype, pun mandek. « Read the rest of this entry »
Kucing Pecas Ndahe
Januari 21, 2011 § 118 Komentar
Bagi sebagian orang, kucing itu binatang peliharaan yang lucu dan menggemaskan. Tapi buat mereka yang tak suka, kucing bisa saja dianggap sebagai hewan pengganggu.
Seperti kucing di kantor saya. Hewan berkaki empat ini hilir-mudik bebas setiap hari di sekitar kantor. Mereka makan, minum, merayu pasangan, dan berkegiatan seksual tanpa malu-malu. Yah, namanya juga kucing.
Tak cuma itu. Kucing-kucing yang hidup di sekitar kantor saya pernah memicu kehebohan dan kejengkelan. Saya ingat beberapa insiden di kantor yang ditimbulkan oleh para kucing beberapa tahun yang lalu. Mereka beraksi seenaknya, mengacak-acak meja, bahkan mengencingi sepatu seorang kawan. « Read the rest of this entry »
Percakapan Pecas Ndahe
Januari 17, 2011 § 108 Komentar
Pada mulanya adalah sebuah sapaan biasa pada pagi hari di Twitter. Lalu obrolan sepanjang hari via BlackBerry Messenger. Sebuah percakapan tentang Alyssa Soebandono, sekolahnya di Inggris, pekerjaannya, hingga keinginannya menjadi wartawan Tempo.
Begitulah salah satu aktivitas saya di Ahad kemarin. Percakapan itu berlangsung lama, dari pagi hingga dini hari. Tentu saja diselingi jeda-jeda panjang karena kami toh harus melakukan aktivitas lain.
Alyssa Soebandono atau dipanggil Icha, lahir di Jakarta, 25 Desember 1991. Dia pemain sinetron, bintang film, dan bintang iklan.
Wikipedia mencatat, Icha pernah bermain di beberapa sinetron, antara lain Upik Abu dan Laura (2008) di RCTI prod. Sinemart, Alisa (2008-2009) di RCTI prod. Sinemart, Kejora dan Bintang (2009-2010) di RCTI prod. Sinemart.
Ia juga pernah main di film Petualangan Sherina (2000), Janus: Prajurit Terakhir (2003), Inikah Rasanya Cinta? (2005). Sedangkan iklan yang dibintanginya adalah sampo Rejoice dan bedak Marcks.
Saya mengenalnya melalui Twitter ketika tahun lalu melancong ke Melbourne. Kebetulan Icha memang kuliah di Monash University. Sejak itu, beberapa kali kami ngobrol (ehm!) via BBM, seperti kemarin. « Read the rest of this entry »
Postcard Pecas Ndahe
Januari 14, 2011 § 36 Komentar
“Sarapan tuh harus dengan cinta, Mas,” katamu membuka rahasia pilihan menu.
“Halah. Cinta? Maksudmu?” “Love is like riding a bike. If you fall, you have to get back up again. Begitu juga sarapan. Kalau pagi ini kamu tak menemukan sarapan yang memenuhi seleramu, coba lagi besok.”
Kutipan itu adalah penggalan prosa terbaru lanjutan serial #28hari yang baru saja terbit sore ini. Pertama kali muncul persis satu tahun lalu, #28 hari ternyata mendapat respons yang luar biasa dari beberapa kawan, seperti sampean.
Versi lanjutan itu akhirnya saya buat setelah beberapa hari yang lalu Hanny bertanya apakah saya tak tertarik meneruskannya. Proyek #28hari memang merupakan proyek bersama saya dan Hanny — perempuan yang jarinya tangkas merangkai kata menjadi kalimat-kalimat yang romantik.
Satu tahun mungkin waktu yang sebentar. Tapi dari yang sebentar itu #28hari telah melewati beberapa momentum yang penting. Momen pertama adalah ketika ia diunggah dalam bentuk dokumen di Scribd supaya bisa diunduh oleh siapa saja. « Read the rest of this entry »

