Pengusaha Pecas Ndahe

Januari 10, 2011 § 31 Komentar

Kelabu mewarnai Sabtu pekan lalu. Tiga tokoh meninggal pada hari itu: Maemunah Thamrin, istri sastrawan Pramoedya Ananta Toer, musikus Elfa Secioria, dan pengusaha Sudwikatmono.

Maemunah meninggal di usia 82 tahun karena penyakit stroke yang telah lama dideritanya. Elfa, 51 tahun, tutup usia di Rumah Sakit Pertamina, Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Sudwikatmono wafat pada pukul 06.30 waktu Singapura, saat masih dirawat secara intensif di Rumah Sakit Mount Elizabeth.

Di antara ketiga tokoh itu, saya tertarik pada sosok Sudwikatmono. Meski berjaya di masa Orde Baru, dia niscaya kurang dikenal anak-anak yang lahir setelah 1980.

Lahir di Wonogiri pada 28 Desember 1934, Sudwikatmono adalah anak ketujuh dari sepuluh bersaudara dari pasangan M. Ng. Rawi Prawirowihardjo dan Sanikem. « Read the rest of this entry »

2010 Pecas Ndahe

Januari 2, 2011 § 49 Komentar

Almanak 2010 sudah disobek dan diganti kalender 2011. Tahun baru, tulisan baru. Semuanya serba baru. Pengelola WordPress pun memberikan layanan baru: laporan tahunan aktivitas blog Ndoro Kakung.

Laporan itu masuk ke inbox surat elektronik saya hari ini. Agak mengagetkan mengingat baru pertama kali saya mendapatkan laporan semacam ini. Buat saya, laporan tersebut adalah kejutan yang menyenangkan.

Mungkin ini cara pengelola WordPress memberikan tambahan layanan kepada para pemilik blog. Barangkali juga ini salah satu cara mereka untuk meningkatkan loyalitas para pemakai WordPress seperti saya.

Apa pun, layanan ini merupakan sesuatu yang layak diapresiasi. Dengan laporan tersebut, saya jadi tahu tulisan mana yang paling banyak dibaca pengunjung, bagaimana pengunjung mencari saya, dan sebagainya. « Read the rest of this entry »

@America Pecas Ndahe

Desember 28, 2010 § 41 Komentar

Pusat kebudayaan ini diresmikan pada 1 Desember 2010 oleh Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat untuk diplomasi publik, penerangan & kebudayaan Judith A. McHale. Dilengkapi dengan fasilitas canggih. Pengunjung boleh meminjam iPad. Gratis.

Jakarta, kota yang disebut arsitek Marco Kusumawijaya sebagai “metropolis tunggang-langgang itu, terus menambah koleksi tempat khalayak. Tempat publik berkumpul dan beraktivitas.

Ruang publik itu tak selalu terbuka. Seiring menjamurnya gedung-gedung jangkung, mal, warga Jakarta pun hanya mendapatkan ruang khalayak di tempat tertutup.

Salah satu ruang khalayak yang relatif baru di Jakarta adalah Pusat Kebudayaan Amerika Serikat, @america. Berada di mal megah One Pacific Place di jantung Jakarta, @america terasa jauh berbeda dibanding pusat-pusat kebudayaan yang dikelola oleh negara-negara sahabat. Taruh kata British Council, CCF, Goethe Haus, atau Instituto Italiano di Cultura. « Read the rest of this entry »

Karcis Pecas Ndahe

Desember 23, 2010 § 46 Komentar

Sulitnya mendapatkan karcis masih menjadi isu hangat menjelang laga final AFF Suzuki 2010 antara Indonesia vs Malaysia. Antrean calon penonton mengular di depan kantor PSSI sepanjang hari ini.

Seorang pengguna Twitter, Dhindya Anugrahwati, mengirimkan foto antrean di Senayan itu.

PSSI sebagai lembaga satu-satunya yang mengelola tiket pertandingan mengaku sudah memperbaiki sistem yang amburadul dalam pertandingan sebelumnya. Tapi tiket tetap susah didapatkan. « Read the rest of this entry »

iPhone4 Pecas Ndahe

Desember 22, 2010 § 48 Komentar

Para pecinta produk Apple di Indonesia sekarang sudah bisa membeli iPhone4. Tersedia di banyak lokasi dengan pelbagai paket harga. Seberapa canggih iPhone4 ini?

Menjadi narablog itu ada enak dan tak enaknya. Mendapat banyak teman baru, diajak kumpul dan makan-makan, diundang mengunjungi tempat-tempat wisata adalah beberapa contoh bagian yang enak-enak.

Lantas di mana bagian tak enaknya? Seorang blogger kawan saya punya cerita. Suatu hari dia ditanya temannya. “Eh, kamu tahu nggak jadwal kereta api Solo-Prambanan?”

Kawan saya yang narablog itu dengan jujur menjawab tidak karena ia memang jarang naik kereta api itu sehingga tak hapal jadwalnya. Eh, temannya malah heran. “Kok nggak tahu sih? Kamu kan blogger?”

Hohoho … saya tertawa ngakak mendengar kisah yang sungguh-sungguh terjadi itu. Mungkin dia mengira bahwa narablog itu kelompok orang yang tahu segalanya. Blogger pasti mengetahui banyak hal, dari soal tulis-menulis sampai fotografi. Dari politik hingga antropologi. Dari peniti sampai jadwal kereta api.

Padahal narablog itu orang biasa, seperti kita ini. Keterampilan dan pengetahuannya macam-macam. Ada yang pintar menulis dan mempunyai pengetahuan luas. Ada yang hanya piawai memotret tapi pengetahuan umumnya pas-pasan. Mereka tak selalu mampu menjawab setiap pertanyaan. Jadi anggapan bahwa blogger selalu tahu segalanya itulah bagian tak enaknya. « Read the rest of this entry »