Montara Pecas Ndahe
Maret 8, 2010 § 25 Komentar
Pagi di Laut Timor. Jarum jam menunjukkan pukul 05.30 waktu Australia bagian Barat pada 21 Augustus 2009. Di tengah samudera yang sepi itu, sebuah kecelakaan tiba-tiba terjadi. Anjungan Sumur Montara, unit pengeboran bergerak West Atlas yang berada 140 mil laut sebelah utara pantai Australia Barat, menyemburkan hidrokarbon tanpa kendali, memicu kebakaran.
Kebakaran di Ladang Montara di Blok West Atlas, Laut Timor, perairan Australia posisi 12041’S/124032’ T mengakibatkan kebocoran. Sedikitnya 400 barel (64 ton) minyak mentah ringan mengalir ke permukaan samudera dan gas hidrokarbon lepas ke atmosfir setiap hari. Ada versi lain yang menyebut tumpahan minyak mentah itu mencapai 500 ribu liter. Angka ini tergolong cukup besar. Dampak pencemarannya mencapai ke kawasan pantai selatan Pulau Rote dan Pulau Timor bagian selatan.
Dalam senyap, jauh dari riuh-rendah konflik politik di Senayan, invasi lingkungan pun diam-diam telah mengendap dari selatan. Adakah di antara kita yang menyadari ancaman itu? « Read the rest of this entry »
Obama Pecas Ndahe
Maret 7, 2010 § 42 Komentar
Presiden Amerika Serikat Barack Obama akan datang ke Indonesia dua pekan ke depan. Tapi kabar kedatangannya mulai panas hari-hari ini.
Di Facebook, misalnya, saya melihat sudah ada halaman khusus untuk menyambut kedatangan Obama di sini.
Facebook Fans Page ini katanya ini akan menjadi sumber informasi pertama dan tepercaya tentang kunjungan Obama, bahkan sebelum media tradisional mengendusnya. « Read the rest of this entry »
Korporat Pecas Ndahe
Maret 3, 2010 § 71 Komentar
Seseorang menulis di ruang Surat Pembaca sebuah koran nasional. Ia mengeluhkan sebuah operator telepon selular yang mengumbar janji akan memberikan layanan prima. Tapi ternyata janjinya gombal. Saat dia menelepon ke layanan pelanggan, bukan solusi yang diberikan melainkan kepusingan baru. Kenapa?
Dia merasa dipingpong ke sana-sini. Dan masalahnya tak kunjung ditangani dengan baik. Padahal persoalannya sederhana, mengapa telepon pintar dan kartu SIM yang baru saja dibelinya belum bisa dipakai mengakses data setelah tiga hari? Harus ke mana lagi dia mengadu bila perusahaan operator itu seperti tembok?
Aha. Kita mungkin kerap mendengar kisah serupa itu. Tak hanya di industri telekomunikasi, tapi juga di perbankan, elektronik, mobil, sepeda motor, dan sebagainya. Sering kali kita dikabarkan ada konsumen yang merasa tak dilayani dengan baik oleh produsen, penyelenggara jasa atau produk. Komunikasi macet. Dan tak ada solusi yang membuat konsumen senang.
Mengapa masalah seperti itu terus terjadi? « Read the rest of this entry »
28 Hari Pecas Ndahe
Februari 25, 2010 § 83 Komentar
Awalnya adalah percakapan via Yahoo! Messenger pada sebuah siang. Antara @ndorokakung dan @beradadisini. Dan setelah beberapa menit berlalu, diselingi jeda akibat kesibukan pekerjaan masing-masing, obrolan yang melantur ke mana-mana itu tiba-tiba berbelok tajam seperti elang di angkasa menyambar tikus di selokan.
“Bagaimana kalau kita duet bikin cerita bersambung?” dia bertanya.
“Siapa takut?” saya balik bertanya. « Read the rest of this entry »
Lagu Pecas Ndahe
Februari 19, 2010 § 49 Komentar
Bagaimana menjadi pemimpin yang kreatif, efektif, dan efisien? Seth Godin menuliskan kiatnya dalam salah satu bukunya yang laris, Tribe.
Di halaman 120 buku itu, Godin menulis kisah tentang Jacqueline yang berhasil menyampaikan sebuah pesan kepada tribe, ibu-ibu di Rwanda, Afrika, dengan cara yang berbeda. Jacqueline adalah contoh tentang seorang pemimpin yang mampu mengubah keadaan yang tak menguntungkan menjadi peluang untuk meraih kesuksesan.
Bagaimana kisahnya?
Jacqueline bercerita tentang Unicef yang menghabiskan dana besar untuk menciptakan poster kampanye vaksinasi anak bagi ibu-ibu di Rwanda. “Poster itu menakjubkan — menampilkan foto ibu dan anak dengan pesan sederhana yang ditulis dalam bahasa Kinyarwandan (bahasa lokal) mengenai pentingnya vaksinasi untuk setiap anak. Sempurna. Tapi sayang mereka tidak memperhitungkan tingkat buta huruf wanita Rwanda yang melebihi 70 persen. Pesan yang ditulis dalam bahasa Kinyarwandan secara sempurna pun menjadi tidak terlalu berpengaruh.”
Jacqueline memang memilik ide hebat. Agar pesan tersebut menyebar di Rwanda, ia mengubahnya menjadi lagu. Sekelompok wanita akan bernyanyi untuk kelompok lainnya, dengan demikian mereka bisa menyebarkan pesan sekaligus menyenangkan orang lain. Tidak ada lagu, tidak ada pesan. « Read the rest of this entry »

