Kompetisi Pecas Ndahe
Januari 26, 2010 § 52 Komentar
Membuat sesuatu yang sederhana menjadi rumit itu sudah biasa; membuat sesuatu yang sulit menjadi sederhana, menjadi sangat sederhana – nah, itu namanya memiliki daya cipta. Begitulah kata pemusik jazz, Charles Mingus, kepada majalah Sport Illustrated.
Agar memiliki daya cipta, konon kita harus mempunya imajinasi. Karena, imajinasi lebih penting dari pengetahuan. Anugerah imajinasi adalah inti kemampuan kita untuk berinovasi, kata Albert Einstein.
Imajinasi adalah kunci.
Saya baru melihat hubungan dari elemen-elemen penting itu setelah tempo hari menjadi juri sebuah kompetisi yang diadakan oleh perusahaan teknologi terkemuka.
Kompetisi tersebut bertujuan mencari individu-individu yang berpikiran terbuka, seorang inspirator, generator, aktif dalam pelbagai kegiatan sosial di dunia nyata maupun daring (online), sekaligus mampu menciptakan terobosan dalam bidang pendidikan berbasis teknologi. « Read the rest of this entry »
Keluarga Pecas Ndahe
Januari 19, 2010 § 57 Komentar
Hari ini Intel Indonesia Corporation secara resmi memperkenalkan jajaran keluarga prosesor terbarunya, Core i3, i5, dan i7. Apa manfaatnya bagi hidup kita?
Hujan jatuh berderai-derai membasahi Jakarta tadi pagi. Mendung tebal menggantung di langit. Lalu lintas macet di beberapa titik. Kaki-kaki melangkah tergesa menghindar dari kuyup.
Di sebuah kafe di lantai dasar Wisma Mulia, Jakarta, tetamu berdatangan. Dalam sekejap, ruangan sesak. Acara pun bisa segera dimulai.
Di tengah lampu penerangan yang temaram, di ruangan yang diwarnai oleh jajaran laptop dan komputer meja seri terbaru, Intel Indonesia Corporation secara resmi memperkenalkan keluarga prosesor berbasis Core: i7, i5, dan i3.
Keluarga prosesor terbaru itu dibuat dengan teknologi 32 nanomilimeter. Berkat teknologi ini, sebuah komputer diklaim bekerja jauh lebih cepat dari sebelumnya, namun tetap hemat energi. Daya tahan baterai sebuah laptop, misalnya, jadi lebih panjang. « Read the rest of this entry »
Al Capone Pecas Ndahe
Januari 18, 2010 § 45 Komentar
NEW YORK, musim dingin 1899. Salju jatuh dan membuat kawasan Brooklyn Borough seputih kapas. Orang malas keluar. Jalanan menyepi.
Didera oleh suhu yang menggigit tulang, pasangan Gabriele dan Teresina Capone tengah berharap-harap cemas menanti kelahiran anak ke-4 mereka.
Tak banyak yang diketahui orang perihal detik-detik kelahiran bayi laki-laki yang kemudian diberi nama Alphonse Gabriel Capone itu. Tapi sejarah mencatat, kemunculan Alphonse pada 17 Januari 1899 bagaikan api yang menghangatkan rumah Keluarga Capone. « Read the rest of this entry »
Otak Pecas Ndahe
Januari 17, 2010 § 48 Komentar
Tidak semua komputer diciptakan sama. Untuk setiap kebutuhan, dibuat satu jenis komputer sendiri. Ada komputer desktop dengan otak dan mesin digdaya bagi mereka yang pekerjaannya berhubungan dengan fotografi, desain grafis, penyuntingan video/film.
Ada pula laptop jenis netbook bagi mereka yang hanya membutuhkan mesin untuk menulis dan mengakses Internet. Perangkat seperti ini cocok untuk para narablog.
Apa pun komputernya, ada satu bagian terpenting di dalamnya: prosesor. Inilah otak dari semua komputer — menentukan kecepatan pengolahan data dan instruksi, kualitas grafis, kemampuan kerja ganda, dan sebagainya. « Read the rest of this entry »
Artalyta Pecas Ndahe
Januari 11, 2010 § 93 Komentar
Sang ratu lobi, Artalyta ‘Ayin’ Suryani, hidup mewah di Rumah Tahanan Pondok Bambu. Benarkah dia hanyalah sekeping potongan puzzle dari gambar besar tentang lemahnya sistem peradilan kita?
Malam itu, ketika sedang kongko di warung angkringan Wetiga, Jalan Langsat, Jakarta, saya dengar lagu-lagu melankolik mengalun dari dua tempat yang menyediakan layanan karaoke di kafe sebelah. Di antara lagu-lagu jadul itu, saya yang tengah menikmati hangatnya teh jahe tiba-tiba teringat sebuah lagu lawas D’Lloyd, Hidup di Bui.
Hidup di bumi bagaikan burung
Bangun pagi makan nasi jagung
Tidur di ubin fikiran bingung
Apa daya badan ku terkurungTerompet pagi kita harus bangun
Makan di antai nasinya jagung
Tidur di ubin fikiran bingung
Apa daya badan ku terkurung( korus )
Oh kawan, dengar lagu ini
Hidup di bumi menyiksa diri
Jangan sampai kau mengalami
Badan hidup terasa matiApalagi penjara jaman perang
Masuk gemuk pulang tinggal tulang
Kerana kerja secara paksa
Tua muda turun ke sawah
Penjara, sebagian memang cerita yang seram. Dalam novel, cerita pendek, juga lagu, penjara adalah “rumah” yang harus dihindari. Vokalis Band D’Lloyd, Sjamsudin, di tahun 1970-an merekam lagu Hidup di Bui itu, dan meledak di pasaran sebelum lagu itu dilarang oleh pemerintah Orde Baru. « Read the rest of this entry »
