Mimpi Pecas Ndahe

Januari 22, 2009 § 45 Komentar

Syahdan pada sebuah malam yang basah. Perempuan berkalung pelangi menunggang kereta angin, membelah jalanan lempang nan lapang di jantung Kota Cahaya menuju pulang.

Matanya menatap keluar jendela, memandang keredep sinar lampu-lampu neon yang bersicepat dengan gelap. Gedung-gedung jangkung berdiri jemu. Patung-patung kota melengkung lunglai ketika ia melewatinya.

Bulan sepotong mengintip di balik awan hitam. Angin mendesir-desirkan sunyi di dalam kabin. Imaji berkelebat silih berganti dalam benaknya yang masygul. Rusuh. Potongan-potongan adegan kehidupan berkelindan antara jemu dan riang, antara tawa dan air mata.

Dari pemutar musik di dekat kemudi mengalun suara Sting yang nglangut,

On and on the rain will fall
Like tears from a star like tears from a star
On and on the rain will say
How fragile we are how fragile we are
How fragile we are how fragile we are …

Kenangan perempuan berkalung pelangi melayang pada lelaki bermahkota mimpi yang pernah menjerat kupu-kupu dalam perutnya. Lelaki itu telah mengubahnya jadi kepompong, lalu masa hibernasi yang panjang. « Read the rest of this entry »

Obama Pecas Ndahe

Januari 21, 2009 § 90 Komentar

Krisis ini telah mengingatkan kita bahwa tanpa pengawasan yang ketat, kekuatan pasar bebas itu bisa terlepas dari kontrol, dan suatu bangsa tidak bisa makmur untuk waktu lama apabila hanya mementingkan orang kaya — Barack Husein Obama.

Dini hari itu, di batas antara malam yang sudah tak bisa disebut malam lagi, dan pagi yang belum datang, saya melihat lelaki itu berdiri gagah di atas mimbar. Parasnya berseri-seri, penuh percaya diri.

Jutaan mata menatap ke arahnya, termasuk saya yang menikmati penampilannya lewat layar kaca.

Dia Barack Husein Obama, Presiden Amerika Serikat yang ke-44. Rabu dini hari itu, ia dilantik dan mengucapkan sumpah. Setelah itu, ia menyampaikan pidato resmi pertamanya setelah dilantik.

Saya terkesima oleh orasinya yang penuh optimisme. Saya tersihir oleh semua bahasa tubuhnya tenang tapi begitu meyakinkan.

Kata demi kata, mengalir lancar dari mulutnya. Setiap kalimatnya seperti mantra bagi rakyat Amerika, dan para pengagumnya di seluruh dunia.

Untuk mengenang dan merawat apa yang dikatakannya, saya tayangkan lengkap isi pidato Obama dalam bahasa Indonesia di sini. Semoga bermanfaat. « Read the rest of this entry »

Handphone Pecas Ndahe

Januari 20, 2009 § 61 Komentar

Sampean jangan coba-coba lagi menyalakan handphone atau alat elektronik lain yang bisa mengganggu navigasi penerbangan. Kalau bandel dan masih cas-cis-cus ketika pesawat akan lepas landas atau mendarat, dan selama penerbangan, sampean bisa dipenjara maksimal dua tahun atau kena denda Rp 200 juta.

Begitulah penjelasan Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal tentang salah satu sanksi yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan yang hari ini diteken oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Setelah membaca berita itu, saya jadi teringat lagi perdebatan lama mengenai keselamatan penerbangan dan penggunaan handphone di dalam pesawat. Benarkah sinyal handphone mengganggu sistem navigasi? Benarkah gelombang radio yang dipancarkan telepon genggam akan membuat pesawat jatuh? « Read the rest of this entry »

Matt Pecas Ndahe

Januari 19, 2009 § 89 Komentar

Rambutnya ikal pirang kecoklatan. Bibirnya merah. Badannya yang langsing dibungkus kemeja putih lengan panjang, kaos dalam hitam, dan jins biru. Sedang kakinya memakai sepatu kets merah tua.

matt-sittingonstair1

Senyum hangat selalu menghiasi paras pria 25 tahun itu. Bila berbicara, matanya yang biru menatap mata lawan bicaranya dengan akrab, agak malu-malu.

Dialah Matt Mullenweg. Ya Matt yang itu, salah satu dewa di ranah blog dan co-founder WordPress blogging platform asal Texas, Amerika Serikat. Siapa tak kenal? « Read the rest of this entry »

Suluk Pecas Ndahe

Januari 16, 2009 § 33 Komentar

Kali ini aku akan bercerita tentang perempuan perajut malam. Dialah perempuan yang bertemu dengan lelaki rudin dari pulau gosong pada sebuah musim gugur. Dari lelaki rudin pulau gosong itulah aku mendapatkan kisahnya.

Konon perempuan perajut malam lahir dari rahim benang dan sepotong kayu. Mimpi dan imajinasi adalah bidan kelahirannya.

Perempuan perajut malam suka mengembara, dari satu bukit ke bukit lainnya. Dari satu lurah, ke lurah berikutnya.

Lelaki dari pulau gosong menggambarkan sosok perempuan itu seperti suluk, puisi yang dinyanyikan dalam pertunjukan wayang. Suluk tidak bercerita apa-apa tapi menggambarkan suatu suasana: murung, senang, perang, damai. « Read the rest of this entry »