Palestina Pecas Ndahe
Januari 3, 2009 § 78 Komentar
Kita melihat horor itu di televisi, juga di YouTube. Jet-jet tempur Israel membombardir Jalur Gaza. Rudal-rudal menggempur wilayah Palestina. Rumah-rumah yang remuk dan sedikitnya 400 ratus warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, dijemput maut.
Paklik Isnogud berulang kali menonton adegan maut itu di layar monitor dengan paras yang muram. Saya lihat ada kristal bening di matanya yang teduh. Dari jauh saya cuma bisa memandangnya dalam bisu. Saya tak berani mendekat dan mengajaknya bicara, sampai kemudian Paklik melihat dan melambaikan tangan, meminta saya mendekat.
“Menyedihkan ya, Mas,” kata Paklik begitu saya duduk di sebelahnya. Saya cuma mengangguk pelan. « Read the rest of this entry »
Kambing Pecas Ndahe
Desember 10, 2008 § 58 Komentar
Ini berita lucu sekali. Pilot helikopter tempur Apache Angkatan Udara Amerika Serikat dikabarkan salah menembak sasaran. Bukannya gerombolan musuh yang dihajar, tapi malah sekelompok kambing yang dijadikan sasaran peluru.
Apakah mentang-mentang Senin lalu bertepatan dengan peringatan Hari Raya Idul Adha yang identik dengan mengorbankan kambing?
Berita di Koran Tempo edisi Selasa, 9 Desember 2008
Entah. Yang jelas para pemilik kambing itu lantas berang bukan kepalang. Mereka menggugat Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Rp 177 juta. « Read the rest of this entry »
Mumbai Pecas Ndahe
November 30, 2008 § 37 Komentar
Peluru tak bermata karena itu dia tak bisa membedakan antara kawan atau lawan. Begitu juga tak setiap bom bisa membedakan anak yang menangis atau bapak yang tengah mencari sesuap nasi. Tak setiap bom membinasakan batas antara yang bersalah dan tak bersalah.
Tapi zaman berubah. Pernah ada masanya, dulu, ketika seorang panglima bahkan melarang para prajuritnya merusakkan pohon-pohon. Yang sipil, tak berdaya, dibiarkan, walaupun mereka di pihak lawan. Yang tak mengangkat senjata dilindungi.
Dan ternyata zaman berubah dengan cepat, dengan ganas, sedih — seperti di Mumbai, Rabu malam lalu. Bagaikan kawanan serigala kelaparan, segerombolan orang bersenjata merangsek sejumlah tempat di jantung bisnis India itu.
Gerombolan itu menyiramkan peluru dan melempar granat. Dalam sekejap jasad-jasad pun bergelimpangan berlumuran darah di lantai restoran, di selasar hotel, di emperan peron stasiun.
Atas nama siapakah mereka berlaku kejam? Agama? Negara? Keyakinan? Teror atau senang-senang belaka? « Read the rest of this entry »
Kemiskinan Pecas Ndahe
Oktober 15, 2008 § 52 Komentar
Tuan, tahukah kau tentang si miskin yang rudin? Siapakah mereka gerangan? Dari manakah mereka datang?
Seseorang baru saja memberi tahu — dengan wajah keruh. Ia berbisik ketika bercerita bahwa si miskin adalah tokoh sejarah dengan riwayat yang sangat panjang. Mungkin terlalu panjang. Ia ada sebelum para raja dinobatkan, dan ia tetap ada di zaman ini, sesudah para raja (kecuali di kartu remi) berhenti berfungsi.
Si miskin lahir, anehnya, bersamaan dengan lahirnya si kaya. Di masyarakat yang masih terbatas gerak naik-turunnya, di kalangan puak yang belum mengenal uang yang dimiliki sendiri dan barang yang diperjual-belikan, si miskin adalah tokoh cerita yang ganjil. Mereka tak punya makanan, tak punya teman.
Pernahkah Tuan bersalaman dengannya?
Mungkin belum. Tuan dan puan tentulah enggan berdekatan, apalagi bersalaman dengan mereka, kaum paria. Mereka, si rudin, jelata yang tak bernama datang dari mana-mana, dan bergerombol di mana-mana. Celakanya, sejarah mengajarkan, si miskin akan selalu bersama kita.
Pernahkah Tuan menjenguk rumah kardus mereka? Mengintip nasi kerak di piring mereka? « Read the rest of this entry »
iReport Pecas Ndahe
Oktober 7, 2008 § 59 Komentar
Apakah tulisan warga itu tak bisa dipercaya? Benarkah warga tak bisa diharapkan sebagai citizen journalist? Bagaimana dengan blogger yang sesungguhnya juga warga pewarta?
Pertanyaan itu menari-nari di kepala saya setelah terjadi kegegeran pada Jumat, 3 Oktober, di Amerika Serikat. Kegegeran tersebut dipicu oleh berita tentang Steve Jobs yang terpaksa dilarikan ke rumah sakit setelah kena serangan jantung. Berita ini ditulis seseorang di situs jurnalisme warga milik jaringan televisi berita CNN, iReport (sekarang sudah dihapus).
Kabar yang ternyata bohong itu sempat membuat harga saham Apple Inc anjlok 5,4 persen. Untunglah, Apple buru-buru mengeluarkan berita sanggahan dan CNN menghapus berita itu dari iReport. Dan, harga saham Apple pun rebounding.
Berita hoax tentang Steve Jobs ini memang bukan yang pertama. Pada akhir Agustus lalu, kantor berita Bloomberg secara tak sengaja bahkan pernah menerbitkan draft obituari Steve Jobs yang menggemparkan dunia.
Kali ini CNN yang ketiban sial. Dan, segera setelah kabar itu beredar ke mana-mana, CNN mendapat serangan kritikan tajam dari delapan penjuru angin. « Read the rest of this entry »