Simbol Pecas Ndahe

Juni 14, 2012 § 78 Komentar

Nunun berkerudung. Neneng bercadar. Mengapa perempuan-perempuan yang terlibat dalam sebuah kasus mendadak mengubah gaya busananya?

Nunun Nurbaeti adalah terpidana kasus korupsi. Awal Mei 2012, dia divonis 2 tahun 6 bulan, dan denda Rp 150 juta karena terbukti terlibat dalam kasus penyuapan anggota DPR RI saat pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia dengan calon Miranda Goeltom.

Neneng Sri Wahyuni adalah tersangka kasus korupsi pembangkit listrik tenaga surya senilai Rp 8,9 miliar. Rabu, 13 Juni 2012, ia ditangkap Komisi Pemberantas Korupsi setelah buron selama berbulan-bulan. « Read the rest of this entry »

Hitman Pecas Ndahe

Maret 9, 2012 § 159 Komentar

Pembunuh bayaran itu mengiklankan diri di sebuah blog berjuluk Hitman Indonesia. Narasi penutup setiap tulisannya agak menggetarkan.

Jika anda menggunakan jasa kami, dan anda tidak serius, maka anda tidak akan lolos dari kami.

Muncul pertama kali pada 10 Oktober 2008, blog itu sekarang sudah ditutup dan tak bisa diakses. Kecuali melalui tembolok Google.

Image

Saya mengetahui perihal situs itu dari situs berita Tempo. Dari situ kemudian terungkap ada pula situs Indoblaki (sudah ditutup) yang menurut polisi juga menyediakan jasa pembunuhan.

Dan tba-tiba saya merasa seperti terseret dalam pusaran adegan film-film laga Hollywood. « Read the rest of this entry »

Pedoman Pecas Ndahe

Februari 6, 2012 § 53 Komentar

Sejarah ditorehkan di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Jumat, 3 Februari 2012. Dewan Pers dan komunitas pers hari itu mengesahkan Pedoman Pemberitaan Media Siber. Pedoman itu menjadi panduan untuk seluruh pengelola media siber di Indonesia.

Penyusunan Pedoman ini, kata anggota Dewan Pers Agus Sudibyo, untuk merespons perkembangan pesat media siber di Indonesia dan meningkatnya jumlah pengaduan terhadap media siber yang diterima Dewan Pers.

Adapun proses penyusunan Pedoman Pemberitaan Media Siber dimulai sejak tahun lalu. Saya juga sempat diundang satu kali dalam diskusi perumusan draft pedoman.

Dewan membuka peluang pedoman ini direvisi di masa mendatang karena media siber terus berkembang pesat. « Read the rest of this entry »

Pacar Pecas Ndahe

Februari 1, 2012 § 93 Komentar

Laki-laki itu tiba-tiba menyebut akun Twitter saya di linimasa. Tidak hanya itu. Ia juga menggamit nama seorang penyiar televisi perempuan ternama dan memaki-makinya. Lelaki itu bahkan menyebut sang penyiar dengan julukan yang tak senonoh.

Saya kaget, tak menyangka ada orang yang dengan kasarnya mencemooh perempuan secara terbuka di ruang publik. Dan aksi itu dilakukannya beberapa kali. Dengan pesan yang kurang lebih sama: menjelek-jelekkan perempuan itu.

Saya diam saja, tak bereaksi membalas pesan lewat Twitter. Saya hanya membatin, pasti ada sebabnya lelaki itu menuliskan pesan yang tak pantas itu.

Dugaan saya terjawab kemudian. Perempuan itu mengirimkan DM. Ia meminta maaf dan menjelaskan siapa lelaki itu. Rupanya mereka pernah menjalin ikatan suami-istri. Biduk rumah tangga mereka ternyata berhenti di tengah jalan.

Akhirnya mereka bercerai. Sang suami tampaknya tak menerima keputusan pisah itu. Ia berang. Lalu menyerang mantan istrinya secara terbuka di linimasa. Serangan itu berlangsung terus-menerus, nyaris tanpa henti.

Dan saya jadi korban, ikut terseret mengetahui masalah orang lain yang sebenarnya tak perlu saya ketahui. « Read the rest of this entry »

Twitwar Pecas Ndahe

Januari 30, 2012 § 53 Komentar

TWITWAR. Saya mengenal kata itu dari linimasa di Twitter. Sampean boleh mengartikannya sebagai debat antara pengguna Twitter, boleh juga memaknainya sebagai “perang kata”.

Saya tak tahu sejak kapan dan siapa yang pertama kali melakukan twitwar. Yang saya tahu, laga ini meletup tanpa jadwal tetap. Sering kali terjadi begitu saja. Biasanya perang kata ini terjadi tanpa perjanjian, seperti kita hendak berobat ke dokter, atau memasang pengumuman seperti ujian akhir nasional.

Tapi anehnya, kabar tentang aksi seperti itu bisa dengan cepat beredar dari satu linimasa ke linimasa lain dan segera menarik perhatian para penyimaknya. Apalagi jika para pihak yang terlibat dari kalangan pesohor atau punya banyak pengikut.

Berbeda dari perang bersenjata, saya belum pernah mendengar ada korban cedera atau meninggal gara-gara twitwar. Paling banter, salah satu pihak yang terlibat segera mengunci akun atau menghilang dari linimasa. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the Indonesiana category at Ndoro Kakung.