Telepon Pecas Ndahe
Februari 9, 2010 § 63 Komentar
Bagaimana menangani telepon dari customer service yang menjengkelkan itu? Bagaimana menolak tawaran mereka dengan sopan?
Saya belajar mengenai urusan itu dari postingan @imanbr di Twitter tadi. Meski dia sangat kesal, jengkel setengah mati setelah berkali-kali ditelepon bank yang menawarkan kredit dan segala macam layanan lainnya, Iman paham benar bagaimana melayani mereka. Dia bahkan memberi sedikit sentuhan humor.
Bank: dng Pak Iman?
Jawab: dari mana?
Bank: ANZ
Jawab: salah sambung
Bank: tp data kami..
Jawab: kalau dari bank pasti salah sambung
Saya ngakak membaca potongan percakapan itu. « Read the rest of this entry »
Februari Pecas Ndahe
Februari 1, 2010 § 40 Komentar
Where is that old friend gone
Lost in a February song
Tell him it won’t be long
Til he opens his eyes …
Malam ini, entah kenapa, tiba-tiba saja saya ingin mendengar lagi Josh Groban menyanyikan February Song yang nglangut itu. Sendirian. Di kamar hotel yang senyap, di tepi Singapore River.
Mungkin karena saya kangen pada detingan piano akustik yang mengiringi suara Groban yang jernih. Melodius. Membuat saya ingatan saya seperti terbius. Mengingatkan saya pada angan-angan. Juga kenangan. Tentang hujan. Musim semi. Dan waktu yang terbang secepat angin lesus.
Barangkali juga karena saya terbawa mitos yang diembuskan orang: Februari adalah bulan yang istimewa. Bulan penuh cinta katanya. « Read the rest of this entry »
Artalyta Pecas Ndahe
Januari 11, 2010 § 93 Komentar
Sang ratu lobi, Artalyta ‘Ayin’ Suryani, hidup mewah di Rumah Tahanan Pondok Bambu. Benarkah dia hanyalah sekeping potongan puzzle dari gambar besar tentang lemahnya sistem peradilan kita?
Malam itu, ketika sedang kongko di warung angkringan Wetiga, Jalan Langsat, Jakarta, saya dengar lagu-lagu melankolik mengalun dari dua tempat yang menyediakan layanan karaoke di kafe sebelah. Di antara lagu-lagu jadul itu, saya yang tengah menikmati hangatnya teh jahe tiba-tiba teringat sebuah lagu lawas D’Lloyd, Hidup di Bui.
Hidup di bumi bagaikan burung
Bangun pagi makan nasi jagung
Tidur di ubin fikiran bingung
Apa daya badan ku terkurungTerompet pagi kita harus bangun
Makan di antai nasinya jagung
Tidur di ubin fikiran bingung
Apa daya badan ku terkurung( korus )
Oh kawan, dengar lagu ini
Hidup di bumi menyiksa diri
Jangan sampai kau mengalami
Badan hidup terasa matiApalagi penjara jaman perang
Masuk gemuk pulang tinggal tulang
Kerana kerja secara paksa
Tua muda turun ke sawah
Penjara, sebagian memang cerita yang seram. Dalam novel, cerita pendek, juga lagu, penjara adalah “rumah” yang harus dihindari. Vokalis Band D’Lloyd, Sjamsudin, di tahun 1970-an merekam lagu Hidup di Bui itu, dan meledak di pasaran sebelum lagu itu dilarang oleh pemerintah Orde Baru. « Read the rest of this entry »
Ramalan Pecas Ndahe
Januari 2, 2010 § 44 Komentar
Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertahta
Chairil Anwar menuliskan baris-baris itu untuk seorang nenek tua yang meninggal. Kita kini mungkin akan mengingatnya untuk Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Presiden Indonesia keempat ini wafat Rabu, 30 Desember 2009, pukul 18.45 WIB, di RSCM Jakarta. Dan kita pun merundukkan kepala untuk menghormatinya.
Lahir di Denanyar, Jombang, Jawa Timur, pada 4 Agustus 1940, Gus Dur adalah cucu K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Di pentas nasional, Gus Dur Gus Dur dikenal sebagai tokoh nasional, pembela kelompok minoritas, pelopor kemajemukan, dan guru bangsa. Ketika menjadi presiden, Gus Dur mencabut Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1967 yang melarang kegiatan warga Tionghoa. Dia juga menjadikan Konghucu sebagai agama yang diakui, serta Imlek sebagai hari libur nasional. « Read the rest of this entry »
Vonis Pecas Ndahe
Desember 29, 2009 § 57 Komentar
Hari ini, sejarah ditulis di Pengadilan Negeri Tangerang. Majelis hakim menjatuhkan vonis bebas murni kepada Prita Mulyasari yang didakwa mencemarkan nama baik dokter dan Rumah Sakit Internasional Omni.
Dan pengunjung pun meneriakkan, “Allahu Akbar!”
Siang tadi, saya ikut menjadi saksi ketika sebuah sejarah peradilan kita ditulis dengan tinta emas. Bersama pengunjung sidang lainnya, saya melewatkan detik demi detik, menunggu majelis hakim yang bergantian membacakan putusan.
Kalau saya tak salah ingat, inilah untuk pertama kalinya hakim memutus perkara pidana dengan dakwaan yang memakai Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektonik. Dan, untungnya, putusan itu membebaskan terdakwa secara murni. Artinya, Prita tak terbukti mencemarkan nama baik siapa pun dan melanggar pasal-pasal yang dikenakan kepadanya. « Read the rest of this entry »