Infotainment Pecas Ndahe

Desember 21, 2009 § 111 Komentar

Makhluk apakah gerangan infotainment itu? Apa motif yang menggerakkan mereka? Apa nilai-nilai yang mereka anut?

Amerika, 1997. Para jurnalis yang bertugas di pos Washington memperoleh bocoran informasi kelas A1. Sebuah berita panas. Kabar yang berembus dari sebuah sudut di Gedung Putih itu menyebutkan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton menjalin hubungan gelap dengan salah satu staf bernama Monica Lewinsky.

Para jurnalis pun bagaikan tersengat setrum listrik ribuan watt. Ini skandal kakap, Bung! Begitu pikir mereka. Merasa seperti melihat durian runtuh di depan mata, para jurnalis itu pun bergerak cepat. Mereka segera melakukan perburuan informasi sampai ke jantung pemerintahan. Di era Internet, hasil perburuan itu pun langsung dimuat di semua media dalam sekejap.

Semua?

Tidak! Kendati skandal yang dijuluki Monicagate atau Lewinskygate merupakan berita paling panas saat itu, Newsweek memilih menahan diri. Majalah berita ini justru seperti tiga ekor monyet bijaksana yang menutup mata, telinga, dan mulut itu (see no evil, hear no evil, speak no evil).

Mengapa? Apakah Newsweek mempraktekkan swasensor? « Read the rest of this entry »

Luna Maya Pecas Ndahe

Desember 17, 2009 § 168 Komentar

Twittermu harimaumu.

Pepatah plesetan ini rasa-rasanya sangat cocok untuk menggambarkan peristiwa yang menggegerkan media sosial pekan ini: Luna Maya (@lunmay) menghapus bilik kicauan digital pribadinya (Twitter).

Luna yang sampai saat terakhir memiliki lebih dari 125 ribu pengikut di Twitter itu terpaksa menghapus ruang kicauan digital pribadinya setelah mendapat kecaman dari delapan penjuru angin. Gara-garanya, ia memasang status berbunyi:

“Infotemnt derajatnya lebh HINA dr pd PELACUR, PEMBUNUH!!!! may ur soul burn in hell!!…”

Entah kenapa Luna tiba-tiba menuliskan status dengan kalimat kasar seperti itu. Pasti ada sebabnya. Tapi khalayak seakan-akan tak peduli. Mereka justru langsung bereaksi. Sebagian mengecam kalimat sarkastis itu, sebagian lagi bersikap netral dengan menanyakan asal muasal perkara. Seseorang, misalnya, menyesalkan ucapan Luna yang kasar di ruang publik. Padahal sebagai tokoh publik, Luna mestinya pandai-pandai membawa diri dan menjaga citra. Bukan malah berbicara sembarangan seperti itu di ranah publik.

Karena mendapat banjir protes dan tak ingin memperkeruh persoalan, akhirnya Luna memperbaiki sikap. Ia memasang status terakhir berbunyi:

“Maaf yaa semua untuk twit yg gak penting itu,tp untuk yg mengerti makasih bgt,tp untuk yg gak ngerti jg maaf…”

Dan setelah itu, ruang kicauan digital Luna pun dihapus. « Read the rest of this entry »

Moliere Pecas Ndahe

Desember 2, 2009 § 57 Komentar

Makanan yang cukup, dan bukan kata-kata indah, yang membuat saya bisa terus hidup — Moliere (1622-1673).

Hari-hari ini saya terkenang kembali pada kutipan tulisan sang seniman Prancis yang masyhur itu. Jean-Baptiste Poquelin, juga dikenal dengan nama panggung Molière, adalah seorang dramawan dan aktor yang dianggap sebagai salah satu empu komedi dalam kesusastraan Barat. Lahir di Paris, 15 Januari 1622, Moliere meninggal di kota yang sama 17 Februari 1673 pada umur 51 tahun.

Beberapa karya Molière yang menjulang ke seluruh dunia adalah Le Misanthrope, (The Misanthrope), L’Ecole des femmes (The School for Wives), Tartuffe ou l’Imposteur, (Tartuffe or the Hypocrite), L’Avare ou l’École du mensonge (The Miser), Le Malade imaginaire (The Imaginary Invalid), dan Le Bourgeois Gentilhomme (The Bourgeois Gentleman).

Saya tak tahu persis mengapa Moliere menuliskan kalimat itu. Mungkin dia sedang menyindir seseorang — Prancis waktu itu dipimpin oleh Raja Louis XIV. Mungkin juga ia tak sedang mencemooh siapa pun.

Saya hanya menduga, Molier melihat banyak pemimpin yang lebih suka berpidato dan menulis sajak ketimbang memberi makan rakyat. Lalu hatinya terusik. Tergerak menulis sesuatu. Tapi di situlah ironinya: Moliere pun hanya menulis kata-kata indah. Bukan membagi-bagikan makanan. « Read the rest of this entry »

Hoax Pecas Ndahe

Desember 1, 2009 § 58 Komentar

Suhu politik dalam negeri bergerak naik. Setelah geger “cicak lawan buaya” sedikit reda, kini muncul perkara lain: aliran dana Bank Century. DPR bahkan telah berencana mengajukan hak angket terhadap perkara tersebut.

Dan semuanya tiba-tiba bergerak bagaikan bola liar. Macam-macam kejadian mengikuti guliran bola kasus itu. Ada yang terdengar seolah-olah masuk akal. Lebih banyak lagi yang asal-asalan.

Saya, misalnya, tiba-tiba mendapat surel (surat elektronik) dari beberapa kawan mengenai kelanjutan bola panas itu. Karena isinya terkesan too good to be true, mereka umumnya menanyakan kebenaran email itu.

Tentu saja saya tak mampu menjawab dengan argumentatif pertanyaan itu karena informasi yang saya miliki tak banyak. Data yang saya punyai tak lebih banyak dari sampean.

Sampean mungkin juga mendapatkan email yang sama. Barangkali juga banyak di antara sampean yang malah belum memperolehnya. Tak mengapa. Saya akan berbagi ke sampean.

Apa sih isi email itu? « Read the rest of this entry »

Mafia Pecas Ndahe

November 23, 2009 § 44 Komentar

Dalam pidatonya di Istana Senin malam, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan tekadnya untuk memberantas mafia hukum. Pemerintah, katanya, juga akan membentuk Satgas Antimafia Hukum.

Saya ndak tahu bagaimana cara Presiden memberantas mafia dan berapa lama perang melawan mafia itu akan berlangsung. Tapi saya jadi teringat tentang upaya pemerintah Amerika Serikat memerangi gerombolan mafia di era 1980-an. Waktu itu, pemerintah federal sampai mengeluarkan orang-orang terbaiknya untuk menumpas serikat-serikat darah asal Sisilia itu.

Sejumlah benggolan mafia berhasil diseret ke balik terali besi. Sebagian lagi terpaksa didor. Salah satu kisah yang menarik dibaca di era perang melawan mafia itu adalah ketika pemerintah federal mulai menjangkau wilayah mafia yang paling basah: bisnis. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the Indonesiana category at Ndoro Kakung.