Kebangkitan Pecas Ndahe

Mei 20, 2008 § 18 Komentar

Hari ini, seratus tahun yang lalu, Dr. Sutomo bersama sejumlah mahasiswa STOVIA mendirikan sebuah perkumpulan yang disebut Budi Utomo. Apa yang membuat perkumpulan ini dibikin?

Setahun sebelumnya, konon, seorang dokter dengan suara yang melodius sengaja datang menemui para mahasiswa STOVIA itu. Ia mengimbau agar para calon dokter bumiputra itu bekerja mengumpulkan dana untuk membantu anak-anak muda Jawa, agar mereka yang cerdas dapat masuk ke lembaga pendidikan Belanda.

Dokter sepuh itu adalah Wahidin Sudirohusodo, seorang priyayi dengan wajah yang damai dan sikap yang arif.

Di kemudian hari, Wahidin, Sutomo, juga Cipto Mangunkusumo dan kakaknya, Gunawan, dikenal sebagai tokoh-tokoh pergerakan Indonesia — lambang kebangkitan nasional.

Seandainya mereka masih hidup sekarang, entah apa yang akan mereka katakan dan lakukan ketika melihat Indonesia yang modern, tapi rakyatnya masih banyak yang miskin dan tingkat pendidikannya belum merata. Banyak gedung sekolah yang reyot, bahkan ambruk, dan muridnya paria.

Hari ini kita mengingat kembali berdirinya Budi Utomo, 100 tahun Kebangkitan Nasional, dengan bangga dan prihatin.

Merdeka!

Selangkangan Pecas Ndahe

Mei 19, 2008 § 81 Komentar

Skandal Yahya Zaini – Maria Eva kedua?

siapakah dia

Mungkin iya.

Modusnya memang sama seperti yang dulu. Fotonya asli, bebas rekayasa digital. Orangnya saja yang berbeda. Mungkin ini sebuah serangan balik. « Read the rest of this entry »

Ariel Pecas Ndahe

Mei 16, 2008 § 30 Komentar

Rubrik Asal Usul yang terbit setiap Ahad menghilang dari harian Kompas mulai awal Mei 2008. Saya beroleh kabar itu dari tulisan teman saya Retty di wikimu.

blog ariel heryanto

Mungkin tak banyak yang menyadarinya, terutama mereka yang bukan pembaca rutin Kompas edisi Minggu. Barangkali juga sudah ada pembaca setia yang bertanya-tanya, tapi belum mendapat jawaban memuaskan.

Dari blog Ariel Heryanto saya memperoleh sedikit gambaran mengapa Asal Usul tak diteruskan lagi. Ariel yang saya maksud bukan penyanyi band Peterpan itu, melainkan Ariel yang akademisi, pengajar di University of Melbourne.

Dari penjelasan Ariel, saya mendapat kesan penghentian itu agak mendadak dan — anehnya — redaksi Kompas tak memberi penjelasan resmi sedikit pun kepada khalayak. Sampean juga bisa membacanya di tulisan berjudul Akhir Sebuah Cerita di blog Ariel itu. « Read the rest of this entry »

Puzzle Pecas Ndahe

Mei 14, 2008 § 20 Komentar

Di pinggir-pinggir jalanan Jakarta, pohon-pohon muda mencoba bertahan dari cuaca. Dahan pada pokok-pokok tua masih tegak, memang, dan daun-daunnya melanjutkan suasana teduh.

Tapi kota metropolitan yang bulan depan berumur 481 tahun itu, yang terdiri dari gedung-gedung jangkung dan gubug-gubug reyot, tiap kali harus menghadapi apa yang telah banyak mengikis peninggalan leluhur: iklim.

Di atas Jakarta, udara lembap, matahari terik. Dan kemudian ada polusi — tanda perubahan hari ini. Apa sebenarnya yang harus dipertahankan jika ada yang harus dipertahankan di antara tembok-tembok menjulang itu?

Mungkin kenang-kenangan, sesuatu yang rupanya begitu penting. Tentang amuk dan kerusuhan. Penjarahan. Tentang tangis dan kesedihan. Tentang jasad-jasad gosong. Tentang perempuan-perempuan yang diperkosa.

Manusia adalah makhluk khusus: ia mengingat-ingat. Di hadapannya, kematian menjadi sebuah paradoks: ajal berarti jalan ke keabadian, tapi sekaligus juga ancaman akan ambruknya kenangan.

Sementara itu, kita tak mau lupa. Kita tak mau dilupakan. Sejarah ditulis. « Read the rest of this entry »

Kenangan Pecas Ndahe

Mei 13, 2008 § 34 Komentar

Hari ini, langit Jakarta masih seperti yang dulu, sepuluh tahun lalu. Awan berarak pelan dalam kelabu. Udara lembap.

Tak banyak potongan ingatan tentang hari itu yang masih saya simpan hingga detik ini. Samar-samar, dalam gudang memori yang kian padat ini, berkelebat bayangan-bayangan masa lalu yang semakin lindap.

Ah, betapa pendek ingatan. Betapa kencang waktu beranjak ke depan. Entah sudah berapa ribu fragmen kejadian menghilang, sudah berapa juta momen kepedihan melayang.

Hari ini saya terlontar ke satu dasa warsa yang lalu. Pada sebuah masa ketika Jakarta berkelimun asap dan kebingungan. Dalam lingkungan pabrik yang mencekam, kami bertanya-tanya, apa yang terjadi di luar sana? Siapa yang terbunuh, terpanggang, lari lintang pukang di jalanan? « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the Indonesiana category at Ndoro Kakung.