Hizbut Pecas Ndahe
Agustus 13, 2007 § 33 Komentar
Minggu kemarin, Hizbut Thahir Indonesia menggelar Konferensi Khilafah Internasional di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.
Sore harinya, ketika kebetulan melintas di kawasan dalam Senayan, saya terjebak di tengah kemacetan peserta konferensi itu. Tapi, bukan kemacetan itu yang membuat hati saya bergetar melainkan apa yang bergemuruh di acara itu.
Pagi ini, saya baca di koran-koran, Hizbut Thahir ternyata menyatakan menolak demokrasi, tapi setuju terhadap pluralisme. Mereka menolak demokrasi karena ideologi ini berprinsip kedaulatan di tangan rakyat, padahal mereka menganggap kedaulatan itu milik Allah.
Mereka juga menuding bahwa demokrasilah penyebab terpuruknya Indonesia saat ini. “What has democracy brought us? Democracy only brings us secular policies, like what’s happening nowdays,” kata Ismail Yusanto, juru bicara Hizbut Thahir, seperti dikutip Jakarta Post.
Demokrasi?
Ah, tiba-tiba saya ingat Paklik Isnogud. Dia pernah bercerita tentang demokrasi. Menjelang hari kemerdekaan 17 Agustus, mungkin asyik juga mendengar cerita Paklik tentang Indonesia dan demokrasi … « Read the rest of this entry »
Gempa Pecas Ndahe
Agustus 10, 2007 § 25 Komentar
Setelah banjir merendam Jakarta tempo hari, banyak pengembang perumahan yang memasang iklan di mana-mana dengan kalimat yang tertulis besar-besar, “Bebas Banjir.”
Nah, setelah gempa bumi bergoyang di mana-mana, termasuk pada Kamis dini hari kemarin, kira-kira ada ndak ya pengembang perumahan yang berani mengklaim kawasan yang dijualnya dengan kata-kata, “Bebas Gempa”?
Soalnya begini, Ki Sanak. Fakta menunjukkan bahwa gempa bumi, baik yang tektonik maupun vulkanik, tak menggoyang semua daerah. Lindu hanya melanda daerah-daerah yang masuk dalam jalur gempa tektonik (kawasan sesar dan patahan), atau kawasan yang termasuk “Ring of Fire”.
Tingkat kerusakan gempa di tiap wilayah pun berbeda-beda. Daerah yang berada di atas batuan keras, misalnya, kemungkinan besar tak terlalu parah jika dilanda gempa. Sebaliknya, kawasan yang berada di atas tanah lembek kemungkinan besar bakal babak belur bila kena gempa. « Read the rest of this entry »
Babad Pecas Ndahe
Agustus 9, 2007 § 26 Komentar
Apa beda antara sejarah dan babad? Bagaimana dengan dongeng dan mitos?
Paklik Isnogud manggut-manggut, serius, mendengar pertanyaan saya. Sebelum menjawab, ia menyesap sedikit kopi di cangkir, lalu melinting tembakau Marsbrand.
“Tentang sejarah, saya ingat kakek saya, Mas,” kata Paklik. “Kakek pernah bercerita bahwa Nabi Adam sebenarnya turun di Pulau Jawa. Lihatlah bagaimana silsilah yang tercantum dalam Babad Tanah Jawi, kata kakek.”
“Bagaimana silsilah dalam Babad itu, Paklik?”
“Dalam babad itu, disebutkan bahwa Nabi Adam punya anak bernama Sis. Sis ini beranak cucu hingga akhirnya lahir Batara Guru. Batara Guru beranak 5, di antaranya Batara Wisnu. Nah, di pulau Jawa ini Batara Wisnu jadi raja, bergelar Prabu Set … « Read the rest of this entry »
Sejarah Pecas Ndahe
Agustus 8, 2007 § 14 Komentar
Kontroversi tentang penemuan rekaman video lagu kebangsaan Indonesia Raya 3 stanza, pernyataan Roy Suryo yang mengklaim telah menemukannya dan menganggapnya penting karena ia ndak tahu persis sejarah lagu itu, dan semua bru-ha-ha lainnya, menyadarkan saya tentang betapa pentingnya sejarah.
Mengapa sejarah penting? Bagaimana pula cara menulis sejarah supaya tak bercampur aduk dengan mitos dan dongeng?
Saya ndak tahu. Untunglah saya punya telaga yang tenang, samudera kebajikan dan kearifan, seorang Paklik Isnogud. Kepadanyalah saya kemudian banyak bertanya tentang sejarah. Apa kata Paklik Isnogud?
Mohon maaf, kelanjutannya ditunda besok …. 😀
Roy Pecas Ndahe
Agustus 8, 2007 § 35 Komentar
Surat Terbuka untuk Roy Suryo
Roy,
Pertama-tama izinkan saya meminta maaf kepada sampean atas semua posting yang saya buat dengan memanfaatkan nama sampean, tanpa minta izin pula, seenak saya sendiri. Padahal, justru berkat nama besar sampean, saya telah mendapatkan banyak keuntungan.
Saya telah memanfaatkan nama sampean yang memang empuk sebagai sasaran kecaman itu dengan semena-mena. Saya meminjam ketenaran sampean demi popularitas saya sendiri. Saya menjadi pendompleng yang tak tahu diri.
Terus terang saya ndak punya masalah pribadi dengan sampean. Begitu pula sebaliknya saya kira. Tapi, lihat betapa jahatnya saya yang sudah memanipulasi sampean. Saya pura-pura menawarkan senyum yang tulus ketika pada saat yang sama hati dan pikiran saya sebenarnya penuh muslihat. Padahal sampean ndak pernah melakukan hal yang sama kepada saya.
Saya jadi merasa kotor, seperti Durna, Yudas, dan para pengecut yang suka menikam dari belakang itu. Betapa tak adilnya saya. Betapa kekanak-kanakannya saya. Padahal apa salah sampean pada saya? Ndak ada sama sekali. Kesalahan sampean cuma satu: sampean sangat kondang, lebih tenar dari saya. Itu saja. « Read the rest of this entry »