Delusi Pecas Ndahe

November 21, 2007 § 32 Komentar

Someone has gone too far and crossed the line. Mungkin dia mengalami delusi, tak bisa membedakan batas antara dunia nyata dan kehidupan di ranah blog. Kenapa Ndoro diam aja?

Pertanyaan itu datang tiba-tiba, singgah di handphone saya dini hari tadi. Antara kaget dan bingung, di tengah jalanan yang lengang, saya tercenung lama memikirkan pertanyaan dari seorang pengirim yang memilih anonim itu. Dan, tanpa izinnya saya kembalikan pertanyaan ini ke sampean semua, Ki Sanak.

Bukan apa-apa, saya cuma mau mengajak sampean mengenali dunia yang makin lama makin absurd ini. Ranah blog. Wilayah di mana, “Messages came across dan sampean ndak bakal tahu secara persis apa yang sesungguhnya ditulis orang,” kata seorang teman yang lain. « Read the rest of this entry »

Azhari Pecas Ndahe

November 5, 2007 § 25 Komentar

Dari pojokan sebuah kedai tempat kaum urban biasa melewatkan waktu luang di Menara Jamsostek, Jakarta, kabar itu meluncur bak meteor ke delapan penjuru angin.

Rahma Azhari kabarnya dipukuli mantan suaminya, Minggu dini hari. « Read the rest of this entry »

Gandhi Pecas Ndahe

November 1, 2007 § 28 Komentar

Gara-gara bercakap ihwal agama, iman, keyakinan, aliran, konflik antarumat, juga Gandhi, akhirnya obrolan ngalor-ngidul dengan Paklik Isnogud berkembang ke mana-mana — seperti biasa.

Paklik bercerita, seseorang pernah bertanya kepada Gandhi, “Bila hanya ada satu Tuhan, tidakkah seharusnya hanya ada satu agama saja?”

Gandhi, menurut kisah Louis Fischer, menjawab, “Sebatang pohon punya sejuta daun. Ada banyak agama sebagaimana ada banyak pria dan wanita, tapi semua berakar kepada Tuhan.” « Read the rest of this entry »

Aliran Pecas Ndahe

November 1, 2007 § 39 Komentar

Bisakah sebuah keyakinan atau aliran diadili, lalu dihukum? Perlukah negara mengurus soal keyakinan warga negaranya? « Read the rest of this entry »

Comblang Pecas Ndahe

Oktober 31, 2007 § 18 Komentar

Manusia adalah makhluk sosial (homo socius), yang bergaul dan berinteraksi dengan sesamanya. Manusia membutuhkan relasi dengan manusia lain.

Aha, betapa sering kita mendengar kalimat itu. Seperti klise, kalimat itu telah dicetak ulang jutaan kali hingga kadang kita lupa siapa yang pertama kali mencetuskannya.

Saya juga ndak ingat siapa yang pertama kali mengeluarkan kalimat klise itu sampai seorang teman tiba-tiba bertanya lewat YM, tadi menjelang makan siang. Soalnya dia mau nulis tentang manusia sebagai makhluk sosial di blognya. Dan saya ngikutin saran dia untuk menulis juga … hihihi …

Untung saya punya Paklik Isnogud — telaga yang teduh itu. Saya bisa bertanya soal apa saja kepadanya. Menurut Paklik, Adam Smith pernah menulis The Theory of Moral Sentiments pada 1759. Di buku itu, Smith berbicara tentang manusia sebagai makhluk sosial.

“Tapi, kenapa sampean menanyakan soal itu, Mas?” tanya Paklik.

Parasnya terlihat agak jengkel. Wadoh! Kenapa nih? « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the Paklik Isnogud category at Ndoro Kakung.