Muchdi Pecas Ndahe
Juli 1, 2008 § 35 Komentar
Pada dasarnya, saya baik dengan semua orang. Kalau orang baik kepada saya, saya bisa bersikap lebih baik kepadanya. Sebaliknya, kalau orang jahat kepada saya, saya bisa lebih jahat kepada orang itu. — Muchdi Purwoprandjono [mantan Deputi V/Penggalangan Badan Intelijen Negara] dalam wawancara dengan majalah Tempo.
Aha, kebaikan dan perbuatan baik rupanya membutuhkan prasyarat. Ini seperti kalimat yang biasa menyembur dari bibir pasangan yang sedang dimabuk asmara, “Kalau kau mencintaiku, aku akan mencintaimu dua kali lebih banyak. Tapi, kalau kau tak cinta, mana sudi aku mencintaimu.”
Well, hidup rupanya tak mengajarkan kita kesediaan memberi lebih dulu, dengan tulus. Kebajikan baru terlaksana setelah ada kebaikan yang mendahuluinya. « Read the rest of this entry »
Panglima Pecas Ndahe
Juni 10, 2008 § 38 Komentar
“Ah, belagu lo,” kata seorang kawan di pabrik setelah membaca berita itu. Mulutnya mencibir, menujukkan ketidaksukaannya.
Saya tersenyum, mencoba memahami perasaannya yang barangkali memang sedang kesal akibat ditimbun setumpuk pekerjaan.
Mungkin juga kawan saya itu kurang istirahat setelah begadang semalaman hanya untuk menyaksikan pertandingan Euro 2008 sehingga agak sensitif pada hal-hal yang bernuansa kepongahan.
Rambut sama hitam, isi kepala juga hati kan bisa berlainan. Kawan saya itu boleh saja mengumpat, tapi sampean belum tentu sepakat, bukan? « Read the rest of this entry »
Pancasila Pecas Ndahe
Juni 2, 2008 § 36 Komentar
Ahad pagi kemarin mestinya waktu yang menyenangkan buat saya. Burung-burung bernyanyi riang. Matahari hangat melenakan. Rumput hijau segar. Udara wangi daun-daun. Angin sepoi-sepoi.
Hati saya nyaman dan relaks, seperti lagu yang didendangkan Commodores itu, Easy Like Sunday Morning.
Sayang, kenikmatan itu cuma sebentar. Begitu melihat televisi, Ahad menjadi tak mudah lagi seperti senandung Lionel Richie itu.
S’why I’m easy ….. easy like Sunday mornin’,
It’s why I’m easy ….. easy like Sunday mornin’ …
Jalan protokol Thamrin-Sudirman menjadi lautan merah. Kawasan Monas berdarah-darah. Dan, warga Serang lintang pukang mengejar sebuah extravaganza.
Di sela hiruk-pikuk di hari libur itu, samar-samar saya teringat, kemarin kita merayakan Hari Lahir Pancasila. Aha, siapa yang masih ingat kelima sila yang luhur itu? « Read the rest of this entry »
Jalan Pecas Ndahe
Mei 22, 2008 § 28 Komentar
Kepada siapakah kita bertanya ketika jalan di depan tiba-tiba bercabang? Kepada siapakah kita bertanya saat jalan ke kiri dan ke kanan ternyata sama-sama tak kita tahu kebagusan atau keberengsekannya?
“Carilah jawabnya pada telaga yang teduh dalam diri sampean, Mas. Hati nurani. Sebab, manusia toh selalu dihadapkan pada dilema pilihan,” kata Paklik Isnogud dengan suaranya yang melodius itu. “Dan kita tak pernah tahu jalan pilihan yang paling cocok sebelum melewatinya.”
Saya terpana mendengar pitutur Paklik itu. Malam semakin tua. Di atas langit, awan mengiris sedikit wajah rembulan. Hening yang panjang mewarnai pertemuan kami malam itu.
Saya tahu, bahkan Paklik pun tak punya jawaban pasti ketika saya bertanya. Tapi, pernahkah dia punya kepastian, sesuatu yang selalu final?
Seperti biasa, setiap kali saya menghadapi dilema dan bertanya kepadanya, Paklik selalu meminta saya memikirkannya sendiri. Ia hanya menyodorkan perlambang-perlambang yang mesti ditafsir ulang. « Read the rest of this entry »
Samurai Pecas Ndahe
Mei 8, 2008 § 31 Komentar
Kapitalisme memang selalu melambai-lambai. Terserah kalian, mau jadi samurai atau manusia dengan jiwa yang mudah dibeli.
>> Saripati kuliah umum sore hari — setelah beberapa kawan pergi. Pengajar: GM.