Toko Pecas Ndahe
Maret 14, 2008 § 41 Komentar
Mengapa mal-mal dan pusat-pusat perbelanjaan terus bertumbuhan di Jakarta? Tanda-tanda kemakmuran? Pertumbuhan ekonomi yang meroket?
Saya tak tahu. Tapi, kemarin siang, di Pacific Place yang menjulang, luas, dan dingin itu, saya melihat toko-toko sepi tanpa pembeli. Tapi, tempat-tempat makan, kafe, rata-rata ramai pelanggan.
Bapak-bapak berdasi LV, ibu-ibu dengan tas Prada di tangan, mengudap jajanan. Sesekali terlihat mereka menyesap kopi berlogo duyung dalam bulatan hijau itu.
Saya heran, bila toko-toko baju, parfum, arloji, dan sebagainya itu tiada laku, dan itu artinya tiada pemasukan, bagaimana mereka bertahan? Bukankah menyewa lahan di dalam kompleks pertokoan mewah jelas butuh uang tak sedikit? « Read the rest of this entry »
Serangan Pecas Ndahe
Maret 1, 2008 § 24 Komentar
Hari ini, 59 tahun yang lalu. Perang pecah di Yogyakarta mulai pukul 06.00. Tentara Indonesia menyerbu pasukan Belanda di Kota Gudeg itu.
Buku-buku sejarah anak sekolah mencatat peran Letnan Kolonel Soeharto, Komandan Brigade 10 daerah Wehrkreise III, dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kelak sejarah juga menyebut perang enam jam di Yogya itu dengan sebutan Serangan Oemoem 1 Maret. Tapi, kontroversi kemudian muncul. Siapakah sebetulnya penggagas Serangan Umum itu? Soeharto atau Sri Sultan HB IX? Atau ada orang lain?
Anhar Gonggong, sejarawan, pernah mengatakan penggagas Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta untuk menyingkirkan pasukan Belanda, bukan Soeharto, melainkan komandan berpangkat yang lebih tinggi. Soeharto, kata Anhar, hanya sebagai pelaksana di lapangan. « Read the rest of this entry »
Keberanian Pecas Ndahe
Februari 24, 2008 § 15 Komentar
Apakah keberanian itu? Terbuat dari apakah dia? Apakah pasar-pasar swalayan sudah menjualnya dengan rabat sekian persen?
Aku tak tahu. Tapi, aku ingat, seseorang pernah berkata:
“Keberanian memang bukan milik umum. Tapi itu juga bukan berarti orang-orang rudin bernyali kecil harus bunuh diri atau tak berbuat apa-apa — cuma tinggal dalam kamar menggigit jempol dan bermimpi tentang utopia.”
Ah, seandainya saja aku punya keberanian … aku ingin melipat dunia.
Popularitas Pecas Ndahe
Februari 23, 2008 § 25 Komentar
Jangan mencari popularitas. Begitu kebajikan yang pernah Paklik Isnogud ajarkan kepada saya, pada suatu masa, dulu.
Paklik lalu bercerita tentang seorang pejabat yang jadi pemimpin daerah di satu titik terpencil Republik.
Sang pejabat itu juga pernah mendengar ajakan untuk tak mencari popularitas. Ia lalu menuliskan dalam lubuk hatinya semboyan “jangan-mencari-popularitas” itu.
Ia bekerja tanpa pamrih. Dia selalu bilang kepada para wartawan lokal yang kadang-kadang mendatanginya, “Saya tidak suka publikasi, dik” — maksudnya, tentulah, tidak suka publisitas. « Read the rest of this entry »
Lembaga Pecas Ndahe
Februari 14, 2008 § 29 Komentar
Kadang-kadang saya berpikir, perlukah kita punya lembaga seperti Lembaga Sensor Film? Perlukah sebenarnya sebuah karya — apapun itu bentuknya — dilihat dulu, lalu ditentukan boleh beredar atau tidak? Bagian mana yang boleh ditengok, dan yang mana tak boleh diintip orang?
Entah. Saya ndak tahu jawabannya. Saya bukan orang film. Bukan pemain atau pekerja film. Karena itu, ketika ada ribut-ribut soal sensor dan lembaga penyensor, saya lebih suka mendengarkan. Menyimak. Belajar.
Saya cuma blogger kelas kambing yang tak punya kambing seekor pun. Karena itu, saya lalu bertanya pada telaga yang teduh dan menyejukkan, siapa lagi kalau bukan, Paklik Isnogud.
Orangnya sedang melamun di mejanya ketika saya datang. Di depannya ada secangkir kopi yang hampir habis dan sebatang rokok lintingan yang masih menyala.
Setelah mengucapkan salam, saya pun langsung memberondong Paklik dengan aneka pertanyaan tentang film, sensor, dan lembaga sensor.
“Begini ya, Mas. Menurut hemat saya, yang belum tentu hemat buat sampean, Lembaga Sensor Film itu institusi yang sebenarnya tak punya hak untuk mengatakan bahwa dialah yang paling berkompeten memutuskan apa yang baik dilihat dan tak baik dilihat orang.”
“Loh kenapa, Paklik?” « Read the rest of this entry »