Kesederhanaan Pecas Ndahe
Januari 25, 2008 § 33 Komentar
Mengapa setiap kali sebuah toko menggelar sale rabat atau diskon barang-barang bermerek di Senayan City, orang berbondong-bondong datang? Mengapa kedai-kedai kopi di Plaza Senayan selalu sesak di sore hari?
Inikah yang disebut gaya hidup? Snob?
Saya ndak tahu. Tapi, oleh karenanya, saya kerap iri pada Paklik Isnogud — telaga yang tenang itu. Bagaimana mungkin di tengah arus modernisasi yang gegap gempita dengan aneka simbolnya yang mentereng, ia kalem-kalem saja?
Bagaimana mungkin ia masih bisa bertahan dengan kendesitannya di tengah deru kapitalisme, hedonisme, juga kliyeng-kliyeng itu, lengkap dengan neon sign yang berpendar-pendar? Ia tak pernah menyentuh gendul-gendul Chivas Regal, Chardonnay, Dry Gin, dan seterusnya itu.
Mengapa ia seperti tak pernah tergoda mendatangi kedai-kedai moncer dengan cangkir-cangkir kertas putih berlogo hijau isi kopi panas yang mengepul itu? Mengapa ia tetap setia pada gelas butut berisi seduhan kopi dari dapur belakang pabrik? Adakah ia seorang yang ganjil? « Read the rest of this entry »
Ingatan Pecas Ndahe
Januari 16, 2008 § 36 Komentar
Haruskah Soeharto dimaafkan? Pertanyaan inilah yang menjadi perdebatan hari-hari ini. Orang ramai bingung menentukan status hukum jenderal bintang lima itu.
Para pendukungnya tentu saja menjawab ya dengan mengajukan sederet pembelaan. Ada yang berpendapat Soeharto diampuni saja karena toh, di luar kesalahannya, ia juga berjasa bagi negeri ini. Kita harus seperti orang Jawa yang memegang ajaran mikul duwur, mendem jero.
Sebagian lagi merasa tak rela Soeharto pergi begitu saja dengan status forgiven. Bagi mereka, dinamo Orde Baru itu dianggap sebagai orang yang bertanggung jawab atas karut-marut negeri ini. Ia juga dianggap memikul daftar dosa lainnya yang tak mudah dihapus begitu saja.
Bagaimana kita harus bersikap? « Read the rest of this entry »
Tanda Pecas Ndahe
Januari 6, 2008 § 32 Komentar
Benarkah ada hubungan antara perginya seorang tokoh dan resahnya alam? Saya ndak tahu. Saya bukan ahli nujum.
Tapi, Bengawan Solo juga meluap dan bandang menghumbalang daerah sepanjang aliran sungai yang membentang dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur; tanggul penahan lumpur Lapindo pun sempat jebol; ketika bekas orang nomor satu negeri ini masuk rumah sakit dan sempat kritis.
Adakah hubungannya? Mungkin tidak, barangkali juga ada hubungannya.
Saya ingat, Paklik Isnogud pernah bercerita bahwa alam memang sering menunjukkan tanda-tanda yang aneh ketika terjadi peristiwa luar biasa. « Read the rest of this entry »
Pesta Pecas Ndahe
Januari 1, 2008 § 42 Komentar
Baiklah, sekarang pesta sudah usai. Lampu padam. Piring kotor menumpuk di dapur. Kembang api hangus. Mercon gosong. Tapi, kenangan itu belum pergi juga.
Saya terkenang pada wajah-wajah lesi para pengungsi korban banjir di Bojonegoro. Mereka melewatkan malam pergantian tahun dalam dingin dan lapar di dalam gerbong kereta api yang menjadi tempat penampungan sementara.
Saya teringat pada guratan kesedihan warga yang rumahnya terendam luapan Bengawan Solo. Mereka termangu menatap layar kaca televisi yang memamerkan pendar-pendar cahaya warna-warni di kota lain.
Sebuah pesta. Sebuah tragedi. Keduanya lahir dalam kenangan yang berbeda. « Read the rest of this entry »
Kenangan Pecas Ndahe
Desember 26, 2007 § 29 Komentar
Setiap kali kalender disobek, dan almanak berganti yang baru, setiap kali pula saya merenung dalam-dalam. Begitu banyak yang sudah lalu, begitu deras yang telah mengalir.
Seperti halnya dengan sampean semua, mungkin juga cuma sebagian, saya sering jadi sentimentil menjelang pergantian tahun. Mengingat waktu yang lewat, mengenang 365 hari yang kemarin.
Saya ingat, Paklik Isnogud pernah menceritakan waktu yang berlalu, juga kenangan, dengan sendu — dulu, di masa lalu.
Ia bilang, “Selalu ada selalu sesuatu yang sentimentil dalam cerita masa lampau yang hilang, Mas. Di sana-sini terasa cengeng dan kelewat manis ketika menengok ke masa ketika banyak hal belum berubah. « Read the rest of this entry »
