Tika Pecas Ndahe

Desember 13, 2007 § 73 Komentar

Bagaimana rasanya bila blog sampean tiba-tiba kebanjiran pengunjung dan komentarnya berderet-deret? Kalau sampean ndak tahu karena merasa belum pernah mendapat berkah seperti itu, bertanyalah pada Tika.

Iya, Tika yang banget ituh

Dulu, ketika masih indekos di Blogspot, dia sebetulnya juga sudah terkenal sih. Tapi, komentatornya belum sebanyak sekarang.

Begitu pindah ke rumah sendiri dengan mesin WordPress, barulah cem-ceman teman sekantor Momon ini menangguk kesuksesan tiada tara … ra … ra ….

Setiap posting baru mendapat 90-an komentar, jauh di atas rata-rata jumlah komentar sewaktu di Blogspot dulu. Tika jadi seleb? Bagaimana rasanya? « Read the rest of this entry »

Fuad Pecas Ndahe

Desember 9, 2007 § 21 Komentar

Fuad Hassan adalah seorang guru dengan jejak panjang.
Ia wafat pada usia 78 tahun, Jumat dua hari yang lalu.

Pagi itu, saya lihat Paklik Isnogud sedang memegang selembar koran di depan pabrik. Matanya menatap lekat-lekat pada larik-larik kalimat yang mengabarkan perginya salah satu tokoh besar yang pernah kita punya: Fuad Hassan.

Sebentar kemudian, Paklik meletakkan koran itu. Matanya ganti melihat saya, lalu ke atas, memandang langit. Ia lalu menggeleng-gelengkan kepalanya seraya mendesah perlahan … « Read the rest of this entry »

UNFCCC Pecas Ndahe

Desember 3, 2007 § 38 Komentar

Baiklah Tuan, mari kita bicara tentang bumi yang kian mendidih dan salju yang terus meleleh.

Tapi, tolonglah hentikan dulu kendaraan Tuan. Jangan berpacu terlalu kencang di jalanan. Kami ini cuma cecunguk paria di atas sepeda ontel tanpa asap, tanpa emisi, pasti tak kuasa mengejar Tuan.

Mari sandarkan saja sama-sama punggung kita ke pohon-pohon yang masih tersisa di atas bukit-bukit gundul. Aha, Tuan pasti tahu ke mana pokok-pokok kayu itu pergi, bukan?

Baiklah Tuan, mari kita selesaikan urusan yang tak pernah selesai ini. Tentang burung-burung yang kehilangan sarangnya di pesisir. Tentang ikan-ikan yang berkelojotan, dan akhirnya raib, dari tengah samudera.

Tapi, letakkan dulu piring Tuan. Janganlah Tuan berbicara sambil mengudap rebusan kepiting dan kerang hijau itu. Tuan bisa tersedak. Mari kita duduk sama-sama di bawah purnama yang tak pernah sempurna. « Read the rest of this entry »

Albar Pecas Ndahe

November 28, 2007 § 30 Komentar

“Dunia ini panggung sandiwara, cerita yang mudah berubah
Kisah Mahabarata atau tragedi dari Yunani
Setiap kita dapat satu peranan
Yang harus kita mainkan
Ada peran wajar ada peran berpura-pura … “

Ah, Ahmad Albar mungkin memang sudah menujumkan nasibnya seperti lagu itu. One down, many more to go

Delusi Pecas Ndahe

November 21, 2007 § 32 Komentar

Someone has gone too far and crossed the line. Mungkin dia mengalami delusi, tak bisa membedakan batas antara dunia nyata dan kehidupan di ranah blog. Kenapa Ndoro diam aja?

Pertanyaan itu datang tiba-tiba, singgah di handphone saya dini hari tadi. Antara kaget dan bingung, di tengah jalanan yang lengang, saya tercenung lama memikirkan pertanyaan dari seorang pengirim yang memilih anonim itu. Dan, tanpa izinnya saya kembalikan pertanyaan ini ke sampean semua, Ki Sanak.

Bukan apa-apa, saya cuma mau mengajak sampean mengenali dunia yang makin lama makin absurd ini. Ranah blog. Wilayah di mana, “Messages came across dan sampean ndak bakal tahu secara persis apa yang sesungguhnya ditulis orang,” kata seorang teman yang lain. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the Piwulang category at Ndoro Kakung.