Rembulan Pecas Ndahe

Agustus 22, 2008 § 65 Komentar

Perempuan itu bermata rembulan. Hangat dan meneduhkan. Parasnya setenang Danau Kelimutu. Aku bertemu dengannya di tepi pagi yang getir. Selepas purnama kelima di tengah musim semi.

Tubuhnya wangi melati. Senyumnya segar tomat ranum. Rambutnya gelap malam tanpa bintang. Langkahnya seriang kupu-kupu di taman bunga.

Ia tengah berlawalata menyusuri sepi saat kami bersua. Kami lalu berbincang ringan di pojokan lapangan rumput, di atas bangku kayu mahoni. Di atas, kulihat langit biru tebal. Awan menggeletar jemu dikalang angin selembut beludru.

Aku ingat, perempuan itu duduk setelah meletakkan secangkir kembang warna-warni di atas meja. Sekilas kulihat ada roncean mawar hutan di kepalanya.

“Mari, temani aku duduk di sini melewati sunyi,” ia meminta.

Aku mengangguk, dan duduk di sampingnya. « Read the rest of this entry »

Bimbi Pecas Ndahe

Juli 3, 2008 § 34 Komentar

Seseorang kehilangan kejenakaannya tadi pagi. Parasnya lesi, seperti bayi kurang gizi. Matanya suwung, sedikit linglung.

“Hari-hari ini, saya teringat Bimbi, Tuan,” begitu bisiknya lirih.

Bimbi? Aha, tentu saja saya tahu siapa Bimbi, gadis lugu dalam lagu ciptaan Titiek Puspa yang legendaris itu.

Tapi, siapakah Bimbi sebenarnya? Gadis yang tak kenal lagi saudara? Pelacur murahan? Seleb numpang lewat atau seseorang yang kehilangan masa lalu? « Read the rest of this entry »

Kenyataan Pecas Ndahe

Juni 30, 2008 § 29 Komentar

Apalagi yang kau cari kawan? Pertandingan usai sudah. Tak ada lagi umpan-umpan matang di depan gawang. Tendangan salto. Sistem 4-3-3. Pertahanan gerendel. Peluh. Ganjalan. Gol. Penalti. Kartu merah. Hasrat reda, gairah jadi kuyu, seperti umbul-umbul yang kena hujan.

Orang pulang dan berhitung, tentang ongkos beli karcis dan beli obat antiserak. Akuntansi, perhitungan utang dan piutang — dan kecemasan untuk tidak kebagian tempat dalam hidup — kembali mengambil peran.

Hidup jalan terus, dengan pesona dan keberengsekannya. Kita bertemu kembali dengan lawan dan kawan-kawan lama. Kita hadapi lagi urusan lama dan baru, seperti dulu. Yah, masih yang itu-itu juga.

Mari kembali ke pojokan kedai kecil, tempat kita biasa minum secangkir teh tarik. Kau tentu masih ingat kedai itu bukan? « Read the rest of this entry »

Kantuk Pecas Ndahe

Juni 24, 2008 § 24 Komentar

Bila kantuk sudah tak tertahankan, meja kerja pun jadi peraduan. Beginilah secuil romantika mburuh di pabrik saya. Yang tidur ini seorang penjaga gawang kabar dari Euro 2008, temannya Cya, mantan pujaan Zam.

tidur di meja

Setelah begadang menunggu berita dari ujung dunia, teman saya ini pun melepas pulas seadanya. Ah, seandainya orang tua, istri, kakak, adek, atau teman-temannya melihat, pasti trenyuh, duuuh …

>> Selamat hari Selasa, Ki Sanak. Apakah sampean cukup tidur tadi malam?

Sepeda Pecas Ndahe

Juni 23, 2008 § 31 Komentar

Pada sebuah malam yang jenaka, Pak Tua Demokrasi naik sepeda. Jalannya pelan, sedikit terseok. Lalu lintas ramai, kendaraan hilir-mudik.

Di perempatan, Pak Tua Demokrasi belok kiri. Kiri? Kenapa kiri [dengan “k” kecil]? Mengapa ia tak memilih kanan atau lurus saja?

Barangkali Pak Tua Demokrasi lebih suka belok kiri karena ia merasa lebih susah ke depan atau ke kanan. Dengan kayuhan sepeda yang perlahan seperti itu, wajar saja jika dia takut terlanggar kendaraan yang bersicepat dari depan atau kanan.

Belok kiri lebih gampang lantaran dia tinggal mengikuti jalan dan tak perlu berpapasan atau bersilangan dengan prahoto dari arah berlawanan. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the Sketsa category at Ndoro Kakung.