Bimbi Pecas Ndahe
Juli 3, 2008 § 34 Komentar
Seseorang kehilangan kejenakaannya tadi pagi. Parasnya lesi, seperti bayi kurang gizi. Matanya suwung, sedikit linglung.
“Hari-hari ini, saya teringat Bimbi, Tuan,” begitu bisiknya lirih.
Bimbi? Aha, tentu saja saya tahu siapa Bimbi, gadis lugu dalam lagu ciptaan Titiek Puspa yang legendaris itu.
Tapi, siapakah Bimbi sebenarnya? Gadis yang tak kenal lagi saudara? Pelacur murahan? Seleb numpang lewat atau seseorang yang kehilangan masa lalu? « Read the rest of this entry »
Kenyataan Pecas Ndahe
Juni 30, 2008 § 29 Komentar
Apalagi yang kau cari kawan? Pertandingan usai sudah. Tak ada lagi umpan-umpan matang di depan gawang. Tendangan salto. Sistem 4-3-3. Pertahanan gerendel. Peluh. Ganjalan. Gol. Penalti. Kartu merah. Hasrat reda, gairah jadi kuyu, seperti umbul-umbul yang kena hujan.
Orang pulang dan berhitung, tentang ongkos beli karcis dan beli obat antiserak. Akuntansi, perhitungan utang dan piutang — dan kecemasan untuk tidak kebagian tempat dalam hidup — kembali mengambil peran.
Hidup jalan terus, dengan pesona dan keberengsekannya. Kita bertemu kembali dengan lawan dan kawan-kawan lama. Kita hadapi lagi urusan lama dan baru, seperti dulu. Yah, masih yang itu-itu juga.
Mari kembali ke pojokan kedai kecil, tempat kita biasa minum secangkir teh tarik. Kau tentu masih ingat kedai itu bukan? « Read the rest of this entry »
Sepeda Pecas Ndahe
Juni 23, 2008 § 31 Komentar
Pada sebuah malam yang jenaka, Pak Tua Demokrasi naik sepeda. Jalannya pelan, sedikit terseok. Lalu lintas ramai, kendaraan hilir-mudik.
Di perempatan, Pak Tua Demokrasi belok kiri. Kiri? Kenapa kiri [dengan “k” kecil]? Mengapa ia tak memilih kanan atau lurus saja?
Barangkali Pak Tua Demokrasi lebih suka belok kiri karena ia merasa lebih susah ke depan atau ke kanan. Dengan kayuhan sepeda yang perlahan seperti itu, wajar saja jika dia takut terlanggar kendaraan yang bersicepat dari depan atau kanan.
Belok kiri lebih gampang lantaran dia tinggal mengikuti jalan dan tak perlu berpapasan atau bersilangan dengan prahoto dari arah berlawanan. « Read the rest of this entry »