Roman Pecas Ndahe

Februari 28, 2008 § 44 Komentar


[olah foto digital: Paman Tyo]

Gage itu mungkin sejenis lelaki dari angkatan 1970-an. Makanya, waktu ketemu pujaan hatinya ituh, rayuannya sangat picisan. Dasarnya yang cewek juga rada jadul juga sih …

Senja Pecas Ndahe

Februari 26, 2008 § 11 Komentar

Hujan mengguyur Jakarta. Dan senja pun berubah pucat kelabu.

Tapi, seseorang berkata lirih, “A thing of beauty is a joy forever … ”

Kutanya kenapa dia berkata begitu.

“Karena ada keindahan di balik hujan,” jawabnya.

Hidup dengan keindahan mungkin sesuatu yang bisa menyebabkan kita bersyukur, merasa cukup, tanpa menjadi serakah.

Hidup itu bergerak di dalam, jauh, seperti tatkala kita mendengarkan perubahan suara gerimis.

Oh ya. Aku ingat. Di Jepang kuno konon seorang daimyo biasa menjamu seorang tamunya dengan bersama-sama menyaksikan fajar.

Dan kemudian sang tamu, seorang samurai tentu, akan berkata, “Terimakasih atas fajar itu.”

“Yeah, begitulah. Because a thing of beauty is a joy forever … ” katanya sambil berlalu.

Puisi Pecas Ndahe

Februari 24, 2008 § 29 Komentar

Seseorang pernah bertanya, “Untuk apa menulis puisi?’

Saya menggelengkan kepala, tak tahu. Saya cuma merasa bahwa pada dasarnya sebaris puisi bisa memukau karena kata-kata yang tertulis secara simultan menggetarkan bunyi dan melontarkan kekayaan gambaran, ke dalam hati.

Ada kalanya puisi sekadar bertutur tentang hal-hal yang remeh — tentang hujan, siput, ombak, lumut, dan kebun masa kecil, perasaan tentang mati, cerita tentang anak tanpa nama, dan entah apa lagi.

Puisi tak seluruhnya jelas, tak ada yang tersusun dalam kisah seperti Romeo dan Juliet, misalnya. Jadi kalau ada yang masih bertanya, saya pasti akan memberi jawaban yang samar.

Sekarang saya ganti bertanya, mengapa sampean menulis puisi, Ki Sanak?

Keberanian Pecas Ndahe

Februari 24, 2008 § 15 Komentar

Apakah keberanian itu? Terbuat dari apakah dia? Apakah pasar-pasar swalayan sudah menjualnya dengan rabat sekian persen?

Aku tak tahu. Tapi, aku ingat, seseorang pernah berkata:

“Keberanian memang bukan milik umum. Tapi itu juga bukan berarti orang-orang rudin bernyali kecil harus bunuh diri atau tak berbuat apa-apa — cuma tinggal dalam kamar menggigit jempol dan bermimpi tentang utopia.”

Ah, seandainya saja aku punya keberanian … aku ingin melipat dunia.

Khayalan Pecas Ndahe

Februari 20, 2008 § 28 Komentar

Dear khayalan,

Semalam kulihat bintang di kejauhan
Sinarnya redup tertutup awan
Sepertinya ia menangis sendu merawan
Melihat kita hidup dalam kesengkarutan …

:: untuk perempuan yang tersenyum di akhir amarah

Where Am I?

You are currently browsing the Sketsa category at Ndoro Kakung.