Bintang Pecas Ndahe

Desember 2, 2007 § 23 Komentar

Hujan bintang di atas Senayan.

Langit keperakan.

Bulan jingga.

Tubuhmu harum cendana.

Tujuh bidadari turun dari surga, membawa selendang bergambar naga.

Aku meliuk di antara puisi dan prosa.

Kau tersenyum. Hatiku bergelora.

Aku ingat, waktu itu matahari sudah terbenam. Dan karena di daerah khatulistiwa hampir tak ada senja, bayang-bayang menyebar menyambut sinar bulan. Jakarta mulai dibungkus malam. Punggungnya dibalut pasmina merah saga. « Read the rest of this entry »

Bude Pecas Ndahe

November 30, 2007 § 36 Komentar

Kadang-kadang batas yang sangat jelas antara kehidupan dan kematian itu begitu kabur: seseorang mungkin meninggal dan pergi, namun dia tetap berada di antara mereka yang hidup …

:: untuk bude saya yang hari ini dimakamkan di bawah keteduhan pohon bambu di pemakaman blunyah redjo, yogyakarta.

Megatruh Pecas Ndahe

November 28, 2007 § 30 Komentar

Sebuah kisah jatuh dari dahan ke sungai yang keruh. Ia hanyut ke sana-sini. Bunyinya seperti megatruh, dari jenis yang paling ngelangut.

Seorang lelaki memungutnya, lalu membacanya pelan-pelan. Dahinya mengernyit tanda berpikir keras. Mungkin juga dia tengah berusaha meresapi karena tak sepenuhnya ia mengerti.

Kisah itu dimulai dengan sebutir embun yang merambas dari kelopak mata seorang perempuan. Bulir-bulir bercahaya itu melintasi beranda kwarsa biru abu-abu dan ruangan berwarna jingga menuju ke balairung panjang tempat orang berpesta.

Ia pun melihat di atas ranjang kelabu terbaring seseorang dengan rambut bermahkota mawar, dengan bibir yang jadi merah karena anggur.

Ia mendekat, menyentuh pundak lelaki yang terbaring itu. « Read the rest of this entry »

JakJazz Pecas Ndahe

November 27, 2007 § 41 Komentar

Sudahlah Mas, sudah … simpan saja maaf dan penyesalanmu. Aku tahu bahkan sejak kamu belum mengucap janji itu dan akhirnya tak bisa kau tepati.

Tak usah kau pikirkan lagi kesempatan menonton JakJazz yang lewat begitu saja di depan mata kita. Tak usah kau sesali pekerjaan yang menahan langkahmu itu. Tak usah kau ingat lagi perintah tuan-tuan yang membuatmu tak bisa menjemputku itu.

Tahun depan toh JakJazz bakal datang lagi. Daripada kau mengutuk waktu yang lenyap, lebih baik menyalakan harap.

Aku tahu JakJazz itu tontonan yang begitu merangsang sensasi dan menggoda imajinasimu. Aku juga paham betapa kau ingin menunjukkannya padaku.

Tapi, buat aku, kamulah sesungguhnya pertunjukkan hidup yang tak pernah kehabisan pesona. Warna-warni JakJazz bukan apa-apa dibanding seluruh denyut dan gairah kehidupan yang kau tunjukkan setiap hari kepadaku. « Read the rest of this entry »

Bulan Pecas Ndahe

November 26, 2007 § 25 Komentar

Why can’t it wait ’til morning?
We can talk about it then
‘Cos I’ve had a drink too many
And my troubles, well I ain’t got any
So close your eyes
I’ll make it oh, so nice …

Di atas ranjang itu kamu teratai di tengah telaga. Tegak. Tenang. Bercahaya.

Aku elang yang melayap di atas air. Mematuk. Mencengkeram. Mencabik.

Air menggeletar dalam temaram. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the Sketsa category at Ndoro Kakung.