Cemara Pecas Ndahe
Agustus 29, 2007 § 19 Komentar
Di bawah bukit-bukit yang kering. Di tengah pucuk-pucuk cemara mendesau. Pada dasarnya kita semua adalah pelaku, sekaligus saksi setiap peristiwa. Kita beraksi dalam lakon yang berubah setiap hari.
Kita bertarung. Terluka. Berpeluh. Menangis dan tertawa. Kita menjadi bagian dari sejarah peradaban. Dan, sejarah bukanlah sebuah kreasi show business.
Sejarah terukir di jalanan, di dalam keraton, di balik gedung parlemen, di lapangan, juga di atas ranjang.
Lalu apakah itu marijuana, warna-warni psikedelik, kliyeng-kliyeng yang hangat, seks yang longgar? Sebuah pemberontakan atau kerusuhan yang bergairah? « Read the rest of this entry »
Slow Pecas Ndahe
Juli 30, 2007 § 17 Komentar
Halah, nduk … nduk … Baru kemarin rasanya kita bertemu, lah kok sampean sudah menelepon sehari lima belas kali?
Halah, nduk … nduk … Jumpa pertama itu kan biasanya untuk saling mengenal, lah kok situ sudah mengira kita seperti teman lama?
Halah, nduk … nduk … Ini urusan pekerjaan loh. Profesional. Lah kok sampean sudah minta-minta saya datang ke apartemen?
Halah, nduk … nduk … Hidup bukan cuma hari ini. Masih banyak waktu. Kalau nanti malam kita ndak bisa makan berdua, ya mbesuk-mbesuk masih ada kesempatan kan?
Apa? Get crunch on me? Apa itu?
Love at first sight? Halah. Apa lagi ini? Maksudmu opo, seh?
Sik, sik … Sampean ndak salah lihat kan? Ndak salah menilai? Sudah dipikir masak-masak? Saya kok jadi ingat lagu Slow Down Baby yang dinyanyikan She, band perempuan nggemesin itu …
No … no … no. .. tunggu dulu
cinta jangan buru-buru
masih ada banyak waktu
biarkan cinta mengalirslow down baby…
take it easy just let it flow …
Numpang tanya, Ki Sanak. Apa sampean pernah mengalami kejadian seperti ini? Terus, sebaiknya bagaimana ya ….
Bos Pecas Ndahe
Juli 18, 2007 § 16 Komentar
Selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan. Kita tak pernah tahu apa gerangan yang menunggu di sana …
Ruangan para bos terletak di belakang pabrik, terpisah dari bangunan utama. Luasnya sekitar dua puluh meter persegi, cukup lapang untuk menampung para bos yang cuma dua orang, satu perempuan dan satu laki-laki. Bagian luar ruangan mereka berwarna putih. Bersih. Kami, para buruh, menjulukinya White House.
Dinding dalamnya yang tak disemen juga dicat putih. Foto-foto mereka dalam pelbagai ukuran tertempel di dinding kiri dan kanan – di antara lemari kayu berisi ratusan buku dan lemari kaca berisi piala, plakat, dan benda-benda memorabilia lainnya – menyerupai pameran simbol kesuksesan atau narsisme mereka. Ada foto bos sedang bersalaman dengan presiden dan menteri-menteri, bos merangkul seorang pejuang Afganistan, bos menerima penghargaan dari seorang utusan Bank Dunia, bos di atas kapal pesiar seorang taipan, dan banyak lagi.
Di dinding belakang terdapat dua jendela lebar dengan gorden kain broken white tanpa corak. Di tengah ruangan ada dua meja besar dengan masing-masing satu komputer di atasnya. Dari perangkat kerja yang tersambung oleh sebuah sistem jaringan itulah para bos memantau proses kerja para buruh. « Read the rest of this entry »
Berlian Pecas Ndahe
Juli 16, 2007 § 28 Komentar
Hujan mengamuk. Sesekali garis kilat menyambar dan memecahkan tirai hujan menjadi air terjun berlian yang berkilauan. Matahari bersembunyi di pojok kegelapan …
Hawa dingin pagi hari yang tak tertahankan membuat saya mandi cepat-cepat. Lagi pula saya harus segera menyelesaikan pekerjaan yang tinggal beberapa bagian lagi. Sebentar lagi para bos datang dan menagih semuanya. Bisa gawat urusannya kalau saya melanggar waktu yang sudah mereka tetapkan.
Hampir tengah hari ketika saya membubuhkan titik terakhir sebagai penutup pekerjaan. Tinggal kirim via jaringan. Beres. Saya melirik jam di dinding. Hm, waktunya makan. Tapi, makan apa yang enak buat siang-siang yang mendung begini?
Mendadak telepon di meja berdering berbarengan saat saya hendak angkat pantat dari kursi.
Siapa, sih? Bos? Ada tugas yang terlewat? « Read the rest of this entry »
Kinky Pecas Ndahe
Juli 5, 2007 § 27 Komentar
Sejarah bisa dimulai dari sebuah ketidaksengajaan. Hanya butuh satu menit untuk membuatnya.
Tak selamanya Diajeng mengirim email berisi rasa cemasnya, ketakutan, atau kekangenannya pada saya. Sering kali ia juga menulis sesuatu yang remeh temeh atau sebaliknya justru serius. Ia misalnya pernah bertanya, “Mas tahu nggak, butir-butir Pancasila itu apa aja sih?“
Halah. Opo tumon sih? Mosok butir-butir Pancasila ditanyakan? Siapa yang hapal? Lagi pula ketika dia mengirim email waktu itu saya sedang ditunggu-tunggu para bos yang ingin segera tahu hasil proyek yang tengah saya kerjakan. Tapi, Diajeng mendesak, minta emailnya segera dibalas saat itu juga.
Terpaksa saya telepon. Ketika saya tanya mengapa ia menanyakan butir-butir Pancasila dan bukan butir-butir pasir di laut, ia langsung menelepon saya. Sambil ngakak ia menjawab, “Iseng aja, Mas. Abis, Masnya nggak nelepon-nelepon sih …”
Kali lain ia mengajak saya mengulas film yang baru saja kami tonton. Pernah juga ia mengirim email tentang sesuatu yang sangat lain daripada sebelumnya. Sesuatu yang berbeda. A kinky one. « Read the rest of this entry »
