TV Pecas Ndahe

April 20, 2010 § 60 Komentar

Teknologi pertelevisian makin canggih. Setelah plasma TV, LCD, sekarang TV LED pun kian marak. Mana yang cocok buat saya?

Saya bukan pecandu siaran televisi. Kecuali ada berita penting, misalnya insiden bentrokan seperti di Tanjung Priok tempo hari, saya nyaris tak pernah menonton televisi.

Sehari-hari, saya menyalakan TV menjelang berangkat kerja atau sebelum tidur. Sabtu atau Ahad, baru agak lama saya menikmati siaran televisi. Itu pun biasanya pas acara hiburan atau berita.

Acara masak? Yah, sesekali saya memang menikmatinya. Lumayan buat bahan kicauan di Twitter. Aha! Tentu saja soal tisu itu.

Saya lebih suka menikmati tayangan film-film DVD di layar kaca di akhir pekan, menjelang berangkat ke peraduan. « Read the rest of this entry »

Plasa Pecas Ndahe

Maret 27, 2010 § 72 Komentar

Lima belas tahun yang lalu, Jack Ma bukan siapa-siapa. Ia “hanya” seorang guru bahasa Inggris di sebuah sekolah di Cina. Tapi sekarang lelaki berperawakan kecil ini boleh disebut sebagai pengusaha raksasa di industri belanja daring berkat portal e-commerce Alibaba.com.

Alibaba.com adalah sebuah hipermarket, tempat lebih dari 40 juta pedagang dari 240 negara menjajakan produknya. Portal ini menjual aneka macam barang, mulai peniti hingga traktor, dari kalkulator sampai truk trailer. Pendapatannya melejit terus dari tahun ke tahun. Pada akhir 2008, misalnya, perolehan Alibaba.com naik 39 persen menjadi US$ 440 juta. Ringkasnya, Alibaba.com adalah contoh situs web business to business terbesar yang menghubungkan produsen di Cina dengan dunia.

Jack Ma lahir di Hangzhou, Provinsi Zhejiang, Cina, pada 10 September 1964. Ketika masih muda, hobinya adalah mengayuh sepeda selama 45 menit setiap hari ke sebuah hotel tempat menginap para wisatawan asing. Kebiasaan ini dia lakukan demi melatih kemampuan bahasa Inggrisnya dengan wisatawan asing. Untuk apa? « Read the rest of this entry »

N900 Pecas Ndahe

Maret 25, 2010 § 38 Komentar

Namanya Sastra Jendra Hayuningrat. Teman-temannya memanggil dia Jendra. Umurnya belum genap 10 tahun. Masih duduk di bangku kelas IV di sebuah sekolah dasar.

Seperti layaknya anak-anak seusia dia, Jendra suka sekali bermain game di komputer. Dalam sehari, dia rata-rata menghabiskan lebih dari tiga jam tanpa henti bermain game. Bisa lebih di hari libur.

Belakangan ini dia keranjingan Point Blank, FarmVille dan Pet Society. Tapi dia selalu antusias bila menemukan game-game lain, termasuk yang di handphone. « Read the rest of this entry »

Terobosan Pecas Ndahe

Maret 22, 2010 § 83 Komentar

Bagaimana Wikipedia menjadi salah satu dari sepuluh situs Internet terbaik? Padahal mereka hanya memiliki selusin karyawan tetap dan tidak memiliki sumber pendapatan lain selain dari donasi-donasi kecil.

Pertanyaan itu tertulis dalam buku Tribes karya Seth Godin. Gara-gara penasaran dan ingin tahu apa jawaban atas pertanyaan yang menggoda itu pulalah saya melanjutkan membaca tulisan Godin.

Dalam buku itu, Godin mengisahkan tentang Jimmy Wales, salah satu pendiri Wikipedia. Cara Wales membangun tribe seperti Wikipedia adalah dengan menyediakan informasi yang bermanfaat.

Ia merangkul kelompok kecil — hanya lima ribu akun anggota untuk mengerjakan hampir keseluruhan artikel berjumlah besar — dan memberi mereka sebuah visi. Ia tidak menginstrusikan apa-apa. Ia tidak mengelola. Ia membiarkan mereka sendiri melakukannya. « Read the rest of this entry »

Lagu Pecas Ndahe

Februari 19, 2010 § 49 Komentar

Bagaimana menjadi pemimpin yang kreatif, efektif, dan efisien? Seth Godin menuliskan kiatnya dalam salah satu bukunya yang laris, Tribe.

Di halaman 120 buku itu, Godin menulis kisah tentang Jacqueline yang berhasil menyampaikan sebuah pesan kepada tribe, ibu-ibu di Rwanda, Afrika, dengan cara yang berbeda. Jacqueline adalah contoh tentang seorang pemimpin yang mampu mengubah keadaan yang tak menguntungkan menjadi peluang untuk meraih kesuksesan.

Bagaimana kisahnya?

Jacqueline bercerita tentang Unicef yang menghabiskan dana besar untuk menciptakan poster kampanye vaksinasi anak bagi ibu-ibu di Rwanda. “Poster itu menakjubkan — menampilkan foto ibu dan anak dengan pesan sederhana yang ditulis dalam bahasa Kinyarwandan (bahasa lokal) mengenai pentingnya vaksinasi untuk setiap anak. Sempurna. Tapi sayang mereka tidak memperhitungkan tingkat buta huruf wanita Rwanda yang melebihi 70 persen. Pesan yang ditulis dalam bahasa Kinyarwandan secara sempurna pun menjadi tidak terlalu berpengaruh.”

Jacqueline memang memilik ide hebat. Agar pesan tersebut menyebar di Rwanda, ia mengubahnya menjadi lagu. Sekelompok wanita akan bernyanyi untuk kelompok lainnya, dengan demikian mereka bisa menyebarkan pesan sekaligus menyenangkan orang lain. Tidak ada lagu, tidak ada pesan. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the ulasan category at Ndoro Kakung.