Surga Pecas Ndahe

Oktober 21, 2015 § 49 Komentar

Seorang kawan mengirimkan tulisan ini ke grup WA yang saya ikuti. Sebuah tulisan yang menyentuh menurut saya. Dan membuat saya merenung dalam-dalam.

ibu, anak, mother

Foto ilustrasi dari Pixabay.com

Saya kira tulisan ini juga telah beredar dari satu grup ke grup lain. Saya minta maaf jika di antara sampeyan semua, ada yang sudah pernah membacanya. Saya bagikan lagi di sini karena saya ingin agar sampeyan yang belum pernah membacanya bisa beroleh manfaat. « Read the rest of this entry »

Pertanyaan Pecas Ndahe

September 23, 2014 § 73 Komentar

Aku suka pertanyaan. Terutama pertanyaan yang datang dari mulutmu yang tak henti merenyeh. Kamu sering menanyakan hal-hal yang tampaknya tak penting dan aneh, tapi selalu mengusik hatiku.

Suatu kali, misalnya, kamu pernah bertanya, “Berapa liter air mata yang tumpah di Jakarta setiap hari?”

Pasti sulit sekali untuk mengukur berapa liter air mata yang tumpah di kota ini. Karena kita tahu ada orang-orang yang hanya menangis dalam hati sambil memandangi keluar jendela kantornya. Jendela apartemennya. Jendela rumahnya. Jendela bus Transjakarta. Atau jendela taksi.

Tapi begitulah caramu bertanya. Sesuatu yang aku sukai sejak dulu. Sampai sekarang. « Read the rest of this entry »

Keluarga Pecas Ndahe

Januari 19, 2010 § 57 Komentar

Hari ini Intel Indonesia Corporation secara resmi memperkenalkan jajaran keluarga prosesor terbarunya, Core i3, i5, dan i7. Apa manfaatnya bagi hidup kita?

CEO Intel Indonesia Corporation, Budi Wahyu Jati (tanpa helm), memamerkan prosesor Core terbaru


Hujan jatuh berderai-derai membasahi Jakarta tadi pagi. Mendung tebal menggantung di langit. Lalu lintas macet di beberapa titik. Kaki-kaki melangkah tergesa menghindar dari kuyup.

Di sebuah kafe di lantai dasar Wisma Mulia, Jakarta, tetamu berdatangan. Dalam sekejap, ruangan sesak. Acara pun bisa segera dimulai.

Di tengah lampu penerangan yang temaram, di ruangan yang diwarnai oleh jajaran laptop dan komputer meja seri terbaru, Intel Indonesia Corporation secara resmi memperkenalkan keluarga prosesor berbasis Core: i7, i5, dan i3.

Keluarga prosesor terbaru itu dibuat dengan teknologi 32 nanomilimeter. Berkat teknologi ini, sebuah komputer diklaim bekerja jauh lebih cepat dari sebelumnya, namun tetap hemat energi. Daya tahan baterai sebuah laptop, misalnya, jadi lebih panjang. « Read the rest of this entry »

Hidup Pecas Ndahe

September 25, 2009 § 69 Komentar

Apa arti hidup yang indah buat sampean?

Sampean barangkali akan menjawab dengan tiga kata: Twitter, BlackBerry, dan kopi. Tapi para pecinta produk Mac mungkin akan menjawab dengan kalimat lain, misalnya iPod di tangan kiri dan iPhone di tangan kanan.

Nah, yang ndak punya BlackBerry atau gadget bikinan Mac bagaimana?

Ho-ho-ho … tentu saja ada ribuan tafsir tentang hidup yang indah. Setiap orang pasti punya jawaban masing-masing.

Melihat gerimis jatuh di sore hari adalah sesuatu yang indah bagi si Badu. Di mata Mbak Centil, hidup itu indah kalau ada black tea latte, croissant, dan novel Rara Mendut. Mendengar burung berkicau itu indah bagi si Fulan. Menikmati daun-daun cemara yang melayang ke bawah itu indah bagi si Anu. Duit jutaan di kantong kiri dan kanan itu sesuatu yang indah buat Mat Kepeng. Ngebut di atas sedan sport itu hidup yang indah untuk Kang Balap. Dan seterusnya …

Lantas apa arti hidup yang indah buat saya? « Read the rest of this entry »

Mbah Surip Pecas Ndahe

Agustus 5, 2009 § 69 Komentar

Mbah Surip melejit bagaikan meteor. Tiba-tiba berpendar terang di tengah gelap malam. Melintas cepat. Lalu menghilang. Tanpa menggendong apa-apa. Benarkah dia korban industri musik kita?

Hari-hari ini, siapa tak kenal Mbah Surip? Dari balita sampai manula, dari petani di Sawahlunto hingga di tukang ojek di Tanahabang. Bahkan para pengamen jalanan pun bisa membawakan lagunya dengan sangat fasih.

“Tak gendong, ke mana-mana. Tak gendong …”

Dan kita pun tersentak ketika Urip Ariyanto alias Mbah Surip, lelaki kelahiran 5 Mei 1957, di Magersari, Mojokerto, Jawa Timur, ini meninggal Selasa kemarin setelah terkena serangan jantung.

Kita pun seolah tersadar, Mbah Surip hanya singgah sebentar. Dalam persinggahannya yang singkat itu ia menjadi salah satu orang yang membuat kita beriang-riang di tengah tekanan hidup yang kian kehilangan humor dan kejenakaan. Ia menyanyi dengan gembira, lucu, seolah tanpa beban. Menyanyi dengan hati, bisik seseorang.

Di mata Mbah Surip, hidup mungkin sebuah lukisan pemandangan yang indah. Tanpa cacat. Itu sebabnya, mungkin, dia selalu terbahak-bahak, setiap kali bernyanyi.

Barangkali juga ia merasa hidup itu sebuah masa yang hanya perlu dinikmati belaka. Urip mung mampir nyanyi. Dan karena itu ia tak pernah terdengar mengeluh. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with hidup at Ndoro Kakung.