Teror Pecas Ndahe

Mei 16, 2013 § 145 Komentar

“Tak ada kelompok ras atau etnik di Indonesia yang, betapapun kencangnya melakukan agitasi, dapat mengobarkan kekerasan sistematik dengan 1.198 orang tewas (27 di antaranya ditembak), 150 wanita diperkosa, 40 supermarket dan 4.000 toko dibakar, dan ribuan motor, mobil, dan rumah dilalap api di 27 area ibukota hanya dalam tempo 50 jam.”

Tulisan Ariel Heryanto itu saya kutip dari sini. Dan setiap kali membacanya, saya terkenang pada salah satu lembaran paling hitam dalam sejarah Indonesia: kerusuhan Mei 1998.

Saya sepakat dengan Ariel yang menulis:

Siapa pun yang mengenal Indonesia sadar betul bahwa tidak ada kelompok sosial di luar kekuatan negara yang mampu untuk menggelar kerusuhan secara dahsyat dan efektif seperti terjadi di Jakarta dan Surakarta beberapa waktu lalu.

Tidak PAM Swakarsa. Tidak juga FPI. « Read the rest of this entry »

@America Pecas Ndahe

Desember 28, 2010 § 41 Komentar

Pusat kebudayaan ini diresmikan pada 1 Desember 2010 oleh Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat untuk diplomasi publik, penerangan & kebudayaan Judith A. McHale. Dilengkapi dengan fasilitas canggih. Pengunjung boleh meminjam iPad. Gratis.

Jakarta, kota yang disebut arsitek Marco Kusumawijaya sebagai “metropolis tunggang-langgang itu, terus menambah koleksi tempat khalayak. Tempat publik berkumpul dan beraktivitas.

Ruang publik itu tak selalu terbuka. Seiring menjamurnya gedung-gedung jangkung, mal, warga Jakarta pun hanya mendapatkan ruang khalayak di tempat tertutup.

Salah satu ruang khalayak yang relatif baru di Jakarta adalah Pusat Kebudayaan Amerika Serikat, @america. Berada di mal megah One Pacific Place di jantung Jakarta, @america terasa jauh berbeda dibanding pusat-pusat kebudayaan yang dikelola oleh negara-negara sahabat. Taruh kata British Council, CCF, Goethe Haus, atau Instituto Italiano di Cultura. « Read the rest of this entry »

Obama Pecas Ndahe

November 10, 2010 § 88 Komentar

Pidato Presiden Amerika Serikat Barack Obama di Balairung Universitas Indonesia begitu memukau ribuan orang. Ia bicara tentang kenangannya semasa tinggal di Indonesia, Jakarta yang berubah, demokrasi, dan sebagainya. Sesekali ia menyelipkan beberapa kata dalam bahasa Indonesia, seperti, “Halo apa kabar? Pulang kampung nih.”

Ribuan orang yang mendengarkan pidatonya itu kontan memberikan tepuk tangan sambil berdiri. Saya ada di antara para undangan perhelatan yang riuh dan penuh kekaguman itu.

Berada di tengah baris keempat dari depan panggung, saya merasaka karisma dan aura yang luar biasa kuat pada sosok Obama. Terutama karena kata-katanya yang lugas, positif, dan penuh humor. « Read the rest of this entry »

101010 Pecas Ndahe

November 4, 2010 § 44 Komentar

Sore ini mendung tebal bergulung-gulung, menggantung seperti hendak runtuh, di atas Jakarta. Pemandangan seperti ini terasa begitu mencekam bagi sebagia warga Jakarta. Di benak mereka yang masih berada di jalanan, yang terbayang adalah hujan lebat dan kemacetan lalu lintas yang luar biasa.

Saya kebetulan tak punya rencana ke mana-mana sore ini. Selain khawatir terjebak macet, pekerjaan menumpuk-numpuk seakan tiada habisnya. Walhasil, saya memilih berkelana ke mayantara untuk mencari kabar dan informasi.

Dalam pengembaraan dari satu klik ke klik yang lain itu, tetikus saya mampir ke sebuah kata kunci: flashmob.

Saya penasaran. Tak banyak yang saya ketahui tentang kata ini. Dulu sempat mendengar, tapi tak banyak informasi yang melekat di ingatan. « Read the rest of this entry »

Pemuda Pecas Ndahe

Oktober 28, 2010 § 66 Komentar

Apa lagi yang bisa dikatakan tentang PEMUDA? Mereka yang mengucapkan sumpah pada 28 Oktober 1928? Mereka yang mampu mengguncang dunia?

Saya menemukan sebuah cerita lama tentang seorang pemuda dari arsip tulisan Goenawan Mohammad. Saya bagikan di sini untuk sampean sebagai pengingat tentang sebuah negeri yang jauh. Tentang pemuda yang tak bosan mengkritik ….

Kisah ini dimulai pada awal musim semi 1919. Seorang tua ketemu Lenin di Kremlin. Waktu itu hampir dua tahun sudah Lenin berkuasa. Revolusi komunis yang dipimpinnya berhasil menggulingkan Tsar.

Raja terakhir Rusia dan keluarganya telah dibunuh. Kediktaturan proletariat telah ditegakkan. Pemerintahan baru pun sibuk menyiapkan diri ke masa depan — seraya membasmi musuh-musuhnya.

Dan Rusia berwarna merah. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with jakarta at Ndoro Kakung.