Lonely Pecas Ndahe

Juli 3, 2007 § 26 Komentar

Hanya angin yang tahu betapa sepinya padang-padang ilalang. Hanya angin yang bisa merasakan perasaan kesepian sebatang pohon yang nyaris tumbang di tengah hutan …

Saya memutuskan lebih baik segera bekerja daripada dilanda kebimbangan. Matahari sudah cukup tinggi. Banyak pekerjaan menanti. Saya memang harus ke Melrimba dan menemui Diajeng. Tapi, itu bisa nanti. Toh perjalanan ke sana ndak sampai dua jam. Saya bisa sampai menjelang sore. Sekarang pun dia pasti belum sampai di sana.

Saya naik ke lantai dua, menuju ruangan saya di pojokan. Komputer sudah menyala, langsung mengakses Internet dan email. Saya tergoda membuka kembali surat-surat lama yang tersimpan di archive. Surat-surat dari Diajeng.

Dulu kami memang sering berdiskusi lewat email tentang apa saja, termasuk hubungan kami. Saya sering mengungkapkan kegelisahan saya tentang hubungan ini. Begitu juga dia.

Tapi, kemudian, biasanya kami saling menguatkan. Begitu seterusnya. Dengan cara itulah kami bertahan. Sampai kemudian saya pergi begitu saja dari apartemennya pagi itu. Dan tak pernah kembali lagi. « Read the rest of this entry »

Angin Pecas Ndahe

Juli 2, 2007 § 28 Komentar

Izinkan mentari pagi menghangatkan hatimu di masa muda
Dan biarkan angin siang yang lembut mendinginkan gairahmu — Arthur Rimbaud

Saya sedang dalam bimbang, menimbang-nimbang, antara berangkat ke Melrimba Garden untuk memenuhi permintaan Diajeng atau melupakannya sama sekali, ketika mendadak saya teringat handphone saya.

Saya cari kantong tak ada. Di tas juga tak ada. Alamak, pasti tertinggal di rumah. Saya tadi memang meninggalkannya di dekat televisi karena baterainya harus diisi ulang. Dan telepon itu dalam keadaan off ketika saya tinggal. Pantas Diajeng menelepon ke pabrik dan meninggalkan pesan singkat itu di resepsionis.

Tanpa handphone itu bisa apa saya. Padahal nomor barunya ada di phonebook. Dan sialnya saya belum hapal. Tanpa handphone, saya seperti orang buta kehilangan tongkat. « Read the rest of this entry »

Batu Pecas Ndahe

Juni 25, 2007 § 22 Komentar

Masa depan merupakan tanah liat. Bisa dibentuk dari hari ke hari. Masa lalu adalah batu padas. Tak bisa diapa-apakan – Sidney Sheldon

“Halo, Yah. Ayah di mana?” terdengar suara anak saya di ujung telepon.”

Deg, hati saya berdebar.

“Eng, eh … Ayah di kantor. Ada apa, Nak?”

“Pulangnya masih lama nggak? Nanti sore kita jadi berenang, kan?”

“Jadi dong, tunggu ya. Sebentar lagi ayah pulang.”

“Ya udah. Cepetan ya. Daag … Ayah.”

“Daag…”

Saya menutup telepon. Ugh, lega rasanya. Saya kira ibunya yang menelepon. Kalau dia yang menelepon, pasti lebih susah menjawabnya. « Read the rest of this entry »

Gelombang Pecas Ndahe

Juni 22, 2007 § 53 Komentar

Perempuan berhubungan seks karena cinta dan komitmen — atau imbalan. Laki-laki melakukannya bila ada kesempatan.

Tapi, kami sudah tak sempat memikirkan lagi perbedaan itu ketika sama-sama berguling di atas ranjang empuk berlapis sprei lembut. Napasnya memburu. Debar jantungnya bertalu-talu.

Saya bisa merasakan kehangatan tubuhnya yang menindih, tangannya yang menyusur ke bawah, dan gesekan halus pinggulnya.

Dalam sekejap, kami menyatu dalam satu gerak, saling mengisi relung-relung kosong. Kami menari bersama. Melangkah berbarengan. Inci demi inci, detail demi detail.

Saya seperti sampan kecil di tengah samudera. Dia gelombang yang menghantam dari kiri dan kanan. Dari atas dan bawah. Kadang naik, kadang menukik. Saya terombang-ambing dalam sensasi yang mendebarkan. Lebur dalam deburnya. « Read the rest of this entry »

Hujan Pecas Ndahe

Juni 21, 2007 § 30 Komentar

Matahari kian tinggi. Sinarnya menyilaukan mata. Sudah lebih dari sepekan Jakarta tak disiram hujan. Kemarau mungkin memenuhi janjinya mulai bulan ini.

Saya berkemas dalam gegas. Setumpuk pekerjaan pasti sudah menunggu di pabrik.

Sebelum berangkat, saya menaruh satu set mobil-mobilan Hot Wheel dan satu boneka Barbie yang saya beli kemarin di atas meja belajar anak-anak.

Tadi malam saya lupa memberi tahu mereka. Lagi pula percuma membangunkan mereka hanya untuk sesuatu yang bisa ditunda itu. Mereka pasti kaget jika sepulang sekolah nanti melihat kado itu di meja belajar masing-masing karena tak ada yang ulang tahun hari ini.

Saya tersenyum memikirkan kejutan yang bakal mereka temukan itu. Sudah sejak beberapa hari yang lalu saya memang berniat membelikan mereka sesuatu. Kenaikan kelas memang masih sebulan lagi, tapi tak ada salahnya juga memberi hadiah sekarang. Mereka toh pasti naik kelas. Seandainya nanti setelah menerima rapor mereka minta kado lagi, yah tinggal nyari lagi. Apa susahnya? « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with love at Ndoro Kakung.