Angin Pecas Ndahe

Juli 2, 2007 § 28 Komentar

Izinkan mentari pagi menghangatkan hatimu di masa muda
Dan biarkan angin siang yang lembut mendinginkan gairahmu — Arthur Rimbaud

Saya sedang dalam bimbang, menimbang-nimbang, antara berangkat ke Melrimba Garden untuk memenuhi permintaan Diajeng atau melupakannya sama sekali, ketika mendadak saya teringat handphone saya.

Saya cari kantong tak ada. Di tas juga tak ada. Alamak, pasti tertinggal di rumah. Saya tadi memang meninggalkannya di dekat televisi karena baterainya harus diisi ulang. Dan telepon itu dalam keadaan off ketika saya tinggal. Pantas Diajeng menelepon ke pabrik dan meninggalkan pesan singkat itu di resepsionis.

Tanpa handphone itu bisa apa saya. Padahal nomor barunya ada di phonebook. Dan sialnya saya belum hapal. Tanpa handphone, saya seperti orang buta kehilangan tongkat.

Handphone dan Internet adalah dua anak ajaib dari seorang ibu bernama teknologi. Merekalah yang menyatukan kami. Lewat SMS dan email kami merenda obrolan, bertukar amarah, juga kerinduan.

Dulu, hampir setiap menit dia mengirim SMS. Sekadar menyapa atau menanyakan apakah saya sudah makan. Dan, hampir setiap hari dia mengirim email. Salah satu email yang masih saya simpan dalam inbox membuat saya selalu terkenang masa-masa pertama kami melewatkan awal yang manis itu. Email itu merupakan jawaban email saya sebelumnya yang isinya ucapan terima kasih kepadanya setelah dia mentraktir saya di sebuah kafe.

From: diajeng@hotmail.com
To: mas@hotmail.com
Subject: oh la la?
Date: Sun, 05 Nov 2000 12:06:05 GMT

Hi adorably beautiful,

Pertanyaan pertama, kenapa email malam minggu itu berjudul Oh La La Cafe? Lha wong kita nggak pernah ke sana sama sekali toh? Ayo, kamu ke sana sama siapa? Sama perempuan lain ya? Oh lala! Dasar playboy! (gejala posesif, maklum namanya juga baru jadian … hihihi …)

Kemarin itu kita bukan di Oh La La, Masku sayang … tapi di Cemara Cafe. Itu tuh yang ada galerinya. Ih, Mas ngelamun ya? Kali ini kumaafkan deh, tapi lain kali nggak. Awas ya, ntar kucubit pinggangmu.

Eh, aku membalas ini di kantor lho. Yup, hari ini hari Minggu dan aku di kantor. Bekerja, tentu saja. Berusaha bekerja, tepatnya. Aku malas betul menyusun budget pameran minggu depan. Kalau deadline-nya bukan Senin besok, mending aku melingker di kasur sama kamu, Mas. Hehehe …

Oh ya Mas, aku baru saja pulang dari menonton pertunjukkan David Glass Ensemble. Terus terang, rada terpaksa juga aku menontonnya. Nggak enak sama teman-teman yang mengajak, itu alasan tepatnya. Dan kangen juga sama anak-anak yang ikut boyongan ke Jakarta itu untuk pentas. Rasanya sudah lama sekali aku tak ketemu mereka.

Betul juga, celetukan muncul dari sana-sini, “Lho kok baru nongol nih? Ke mana aja?” tanya anak-anak. Aku sih mesam-mesem aja, Mas. Masa mesti jujur sih kalau aku memang lebih banyak melewatkan waktu bersamamu.

Sebagai ratu ngeles, langsung membanjirlah alasan dari mulutku (yang tengah merindukan mulutmu… hehehe. tapi detik ini sedang kusibukkan dengan Marlboro Menthol. Bukan analogi yang tepat dengan yang aku rindukan, memang. tapi, lumayanlah, hehehe).

Ya udah, aku jawab aja, “Banyak kerjaan nih di kantor…” Nggak sepenuhnya salah, bukan? Kan mereka nggak perlu tahu kalau aku baru jadian dan lagi seru-serunya melewatkan waktu bersama dengan Masku, sang tambatan hati. Ahai …

Lantas, karena aku malas betul untuk langsung kembali ke kantor, aku ngeloyor dulu ke Pasaraya. Dasar perempuan, aku mampir ke salon untuk menata rambut yang mulai jatuh di bahu menjadi ala Bella Saphira dan belanja-belanja baju baru. Konsumtif betul, bukan? Hehehe.

Menarik juga ternyata berada di kantor sendirian. Aku bisa punya ruang untuk menangis sedikit… bukan, aku tidak menangis karena sedih, nggak tau apa… mixed emotion jadi istilah yang tepat, yang sepertinya akan kerap muncul dalam benakku. Karena toh, seperti aku tulis dalam email malam mingguan, ternyata rasa sakit bisa juga dinikmati, sangat bisa.

Kilatan-kilatan kepingan gambar seperti berseliweran di depan mataku sekarang. Semburan air shower yang memercik ke muka kita berdua. Suara kamu di daun telingaku. Tekanan jari jemarimu di atas tanganku yang kamu genggam di atas meja Croissant de France. Suara tawaku sendiri yang terekam di dalam memori HP Motorolamu selama bermenit-menit. Perbincangan dan perdebatan kita soal chemistry dan force of nature.

Aku juga masih terngiang betul pada suaramu saat berbincang ringan soal apa yang diperbuat Nicholas Cage dan pasangannya sepanjang film Wild at Heart setelah kita melakukannya untuk pertama kali di apartemenku itu. Gemuruh degup jantung yang berdebar-debar saat kita sama-sama berbaring di atas tempat tidur masing-masing, ketika kilometer demi kilometer memisahkan kita. Suara tuts keyboard yang tak sabar menautkan kata dalam body text email. Bau asap rokok yang merebak di udara saat ini. Suara HP-ku yang mengingatkan pada dunia nyata ketika kita tengah berdua. Kegamangan yang meruap saat kita berdua sepakat bahwa ‘what we are doing is basically an affair’.

Aku pun belum lupa sosok beruang kecil yang memeluk angka 9 pemberianmu itu. Bantal-bantal Hazara Cafe yang menyangga tubuh kita. SMS demi SMS yang muncul di layar sempit Siemens M35. Kepahitan dan rasa sakit yang kini terasa menyesakkan…

Do you know what kind of person I want to become when I was a kid? I just want to be a person who is able to be honest to oneself. I don’t want to lie to myself, that’s all …

Aku tidak tahu bagaimana ini semua akan … berakhir. Cepat atau lambat, hal tersebut akan datang, bukan? Namun di atas segalanya, aku tak sedikit pun menyesalkan apa yang sudah kita lakukan bersama, Mas. Aku mensyukurinya dan akan menyimpannya baik-baik dalam lembaran hidupku, lembaran yang mungkin cuma kita yang perlu tahu bahwa ini pernah sungguh-sungguh ada.

Waduh, hari Minggu kok malah jadi sentimentil ya … Hehehe. Sorry ah!

Udah. Mau kerja lagi. Mesti back to work nih … Bye, Mas!

Diajeng
“manchester united big fan”

Siang ini, saya kembali teringat email itu. Lengkap sampai ke titik dan komanya. Di luar pabrik, angin membawa hawa panas Jakarta yang membakar apa saja. Saya tercenung panjang. Sudah sampaikah Diajeng di Melrimba?

Iklan

Tagged: , , , ,

§ 28 Responses to Angin Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Angin Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: