Senja Pecas Ndahe

Baiklah Jeung, aku akan bercerita tentang senja yang memerah saga. Tentang warna-warni pelangi dan bidadari yang menari di tepi lazuardi. Tapi, hapuskan dulu air matamu. Ku tak kuasa menanggung pedih dan perihmu.

Ada masanya senja meneteskan air mata. Mengubah sungai jadi air telaga duka. Dan bidadari menembangkan megatruh yang nelangsa. Daun-daun luruh, lalu lesap ditelan bumi.

Mungkin kamu juga tahu, hidup memang disesaki belukar penuh duri. Tak usahlah kau semak dan gamam hati. Selalu ada jalan simpang. Kamu tinggal memilih, ke kiri atau kanan. Pesanku satu, janganlah kau ambil jalan yang dilewati orang. Mungkin tak cocok buatmu. Pilihlah saja yang tak terlalu sukar, asal nyaman bagimu.

Nanti, sebelum malam datang membawa selimut kelamnya, ku kan duduk di sisimu. Menikmati padang bintang yang berpendar-pendar di angkasa. Tapi jangan kau pinta aku memetiknya. Nanti dia kehilangan pesonanya. Lebih baik kita hitung satu per satu dan menyimpan kilaunya dalam kenangan masa silam. Kenangan yang ingin kita lupakan dalam kuburan masa silam.

Tentang senja, aku punya satu cerita. Kubawakan dari ujung dunia. Ia melukiskan perjalanan seorang lelaki paria, dengan sebongkah derita. Jalannya terbungkuk karena punggung yang terkena encok oleh duka.

Lelaki itu mungkin aku. Barangkali dia. Boleh jadi bukan siapa-siapa. Kita tak pernah tahu. Kita cuma tahu lelaki itu seperti senja, selalu melayap di antara ranting senyap dan pergi sisakan sunyi.

Lelaki itu suka mengarak rindunya ke delapan penjuru angin. Entah untuk apa. Yang kutahu cuma satu, ia selalu menggandeng temannya yang paling setia: harapan.

Harapan dan senja adalah pasangan yang tak terpisahkan. Ia selalu menjanjikan perubahan dalam keajekan. Setelah senja pergi, berganti malam, dan pagi. Tapi toh setelah embun menguap, dan siang menjerang, senja akan datang lagi. Seperti kemarin, dan kemarinnya lagi. Ajek.

Jadi untuk apa tangis dan air mata itu kalau hanya akan membuatmu berkeping-keping? Kenanglah saja senja. Dan lelaki yang menggandeng harapan di sampingnya agar kau mampu bertahan …

37 Comments so far

  1. pema April 23rd, 2008 1:24 pm

    Wah mulai mendayu dayu lagi Ndoro ini….

  2. nico April 23rd, 2008 1:29 pm

    jaan… pancen ndoro tenan ki!
    *menjuraa*

  3. tukangkopi April 23rd, 2008 1:38 pm

    banyak sekali yang menggambar senja. rupa rupi tulisan ditabur di atas meja. entah kenapa hampir semuanya sama. aku melihat duka dituntaskan disana.

  4. hilman April 23rd, 2008 1:41 pm

    Kok ngomongin laki2 ndoro….
    lam kenal…

  5. kangtutur April 23rd, 2008 1:52 pm

    Kenanglah saja senja. Dan lelaki yang menggandeng harapan di sampingnya agar kau mampu bertahan …

    :roll:

    *asyik dapat mantra baru*

  6. gali April 23rd, 2008 1:52 pm

    Apa ini ada hubungan nya dengan “nonadita”

    clingak clinguk kanan kiri

    weh

  7. venus April 23rd, 2008 1:55 pm

    ini obrolan kita waktu itu? ah, ndoro…aku padamu :(

  8. Rystiono April 23rd, 2008 2:16 pm

    Yach…dari tadi blogwalking mellow mulu isinya…

    Jadi terpengaruh nih…

    *ikutan mellow juga…*

  9. xonket April 23rd, 2008 2:55 pm

    Sisi lain dari ndoro ato apa ini… :-/ *menatap lugu penuh tanda tanya*

  10. catur pw April 23rd, 2008 2:57 pm

    weladalaahh… gombal mukiyoo tenan ndorooo :P

  11. nonadita April 23rd, 2008 3:07 pm

    Senja itu ‘kan slalu datang
    Tak peduli seberapa kuat kau tentang
    Ndoro Kakungku sayang
    Mari kita nikmati bintang

    *gelar tiker, bawa kacang rebus dan bajigur*

  12. Chic April 23rd, 2008 3:20 pm

    aaah saya suka Senja versi saya sendiri Ndoro :D

  13. Moes Jum April 23rd, 2008 3:32 pm

    wahh aku gak ngerti karepe Kang …. mumet mikire

  14. kw April 23rd, 2008 3:33 pm

    hmm…harapan, sampai kapan? :)

  15. Je L'Anange Jagad April 23rd, 2008 3:54 pm

    uhh mendayu-dayu so melancholic.. ;)

  16. venus April 23rd, 2008 3:58 pm

    nglangut :(

  17. aprikot manis sekali April 23rd, 2008 4:07 pm

    senja ituuuu nama ibuku.
    jadi ndoro cinta ibuku begitu? :D

  18. ngodod April 23rd, 2008 4:19 pm

    karena diujung senjalah malam kan datang. dan pagi menjelang bersama harapan. bukan begitu ndoro…?

  19. leksa April 23rd, 2008 5:32 pm

    Karena itulah aku selalu percaya Senja adalah makna gradasi hidup. Antara ramai dan sepi, antara putih dan hitam, antara terang dan gelap. Dan biasanya aku lebih memilih untuk menikmatinya turun sampai hilang horizon di pelupuk mata. Mulai menyalakan lampu badai ku, lalu berjalan menyusul senja-senja berikutnya ke arah timur. Berharap pagi tak akan datang, meninggalkan arah mentari terbit berharap gelap tidak berakhir, bercita-cita menjemput terang dengan kaki-kaki sendiri..

    Lalu kapan kau akan menjemput terang mu sendiri, Senja?

  20. leksa April 23rd, 2008 5:37 pm

    JAH SALAH..
    HARUSNYA :
    “…Mulai menyalakan lampu badai ku, lalu berjalan menyusul senja-senja berikutnya ke arah barat..”

    :( *ga bakat menulis indah…

  21. balibul April 23rd, 2008 5:49 pm

    and I bought a ticket to the end of the twilight

  22. isnan chodri April 23rd, 2008 7:29 pm

    tragedi tali kutang :D

  23. pacar lama April 23rd, 2008 9:10 pm

    ooooh ndoro…kamulah senja dan aku harapan…hiiiikkkks

  24. tandodol April 23rd, 2008 9:40 pm

    ada udang di balik batu
    ada apa ndoro nulis kayak gitu

    *masih kepengaruh haha*

  25. munyuk pemalu April 23rd, 2008 9:51 pm

    ma kasih ndoro…emang udah lama ya ga ngirim surat buatku… :p

    *ditendang fansnya ndoro*

  26. sluman slumun slamet April 24th, 2008 12:48 am

    hem hem hem…

  27. Silly April 24th, 2008 12:50 am

    Nahh… senja ini siapa… lelaki ini siapa???

    (nyaris kebawa2 pengen ikutan puitis, hahahaha, eh, tapi boleh juga… saya coba yach).

    kutitipkan rinduku pada senja…
    pada angin yang berhembus tak tentu arah..
    sampaikan pada lelaki yang menggandeng harapan itu..
    aku masih disini..
    menunggu pelangi..
    bersama sahabat..
    yang setia menemani…

    Halahhh.. udah ahhh, lagi mumet nih… :-)
    (ups… dah jam 1 lewat yah)

  28. adi-wirawan April 24th, 2008 8:31 am

    so sweet ;)

  29. calonorangtenarsedunia April 24th, 2008 9:04 am

    Senja selalu datang membawa luka.

  30. Untukmu Ndoro at nonadita di sini! April 24th, 2008 9:21 am

    […] kau senja yang mana? Semua senja tidaklah sama Hanya satu yang istimewa Melihat senja sambil kenyang […]

  31. Blog Strategi + Manajemen April 24th, 2008 10:41 am

    Great post. Great writing. — Sepotong senja untuk Alina?

  32. pens-nya ndoro April 24th, 2008 11:05 am

    ya oloooooh…aku padamu banget iki ndoro…
    serius lhah!

  33. pens-nya ndoro April 24th, 2008 11:18 am

    aku baru nih…kikikikik…*isin*

  34. silent reverie April 24th, 2008 7:00 pm

    Biarlah kunikmati indahnya perih. Nuraniku berbisik, seorang pangeran kan berlabuh diakhir kisah duka. Menyanding, mempersembahkan gelar permaisuri hati…

  35. […] kasih banyak, ndoro. ternyata susah sekali nulis ndakik-ndakik ya? Filed under belajar menulis, […]

  36. mayssari April 26th, 2008 9:53 am

    Well…. well..well
    Ndoro emang puitis dan pinter menulis….

  37. eve April 28th, 2008 8:33 pm

    buatku, senja adalah kesendirian. batas kehangatan matahari dan dinginnya sinar putih bulan.

    aku benci senja…

Leave a reply